
Anara, Andika, dan Pak Indra segera pergi untuk mencari keberadaan Adelia. Sejak tadi Anara merasa khawatir. Dia takut jika anaknya kenapa-napa.
“Mas, lihat deh itu Mamah!” Anara menunjuk Bu Sinta dan Ani yang sedang menggendong Eva. Mereka ada di seberang jalan.
“Eh iya, ayo kita samperin!” ajak Andika.
Mereka bertiga menyeberang jalan untuk menghampiri Bu Sinta.
“Mah, Adel belum ketemu?” tanya Anara.
“Belum, Nak. Maaf ya, Adel hilang gara-gara Mamah,” Bu Sinta menunduk lesu.
“Bagaimana kejadiannya, Mah?” tanya Anara.
“Tadi Mamah kebelet, jadi Mamah ke toilet. Mamah mengajak Adel dan memintanya untuk menunggu di depan pintu. Tapi saat Mamah keluar, di depan pintu sudah tidak ada siapa-siapa.” Jelas Bu Sinta.
“Kenapa Mamah tidak menitipkan Adel sama Kak Ani dulu?” tanya Anara.
“Kebetulan Ani menemani Eva melihat topeng monyet. Sedangkan Adel inginnya tetap ikut sama Mamah,” ucap Bu Sinta.
Anara menunduk lesu seolah tak bertenaga. Andika mencoba untuk menenangkan istrinya.
“Sayang, kamu yang tenang yah. Anak kita itu pintar loh, pasti mereka ketemu kok,” ucap Andika.
“Adel itu masih kecil, Mas. Bagaimana jika dia di culik orang, lalu di jual. Nara tidak bisa membayangkan itu semua,” pikiran Anara berkelana entah kemana.
“Lebih baik kita lanjut cari Adel saja,” sahut Pak Indra.
“Bagaimana jika kita lapor polisi dulu,” ujar Bu Sinta memberikan sarannya.
“Tidak bisa, Mah. Karena hilangnya Adel ini belum sampai satu hari dua puluh empat jam.” Ucap Andika.
Akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan lagi mencari keberadaan Adel. Namun mereka berpencar, atas saran dari Andika.
Sudah cukup lama Anara dan Andika berkeliling, namun mereka belum juga menemukan keberadaan Adelia.
“Mas, Adel dimana?” Anara terlihat sangat gelisah.
“Kamu yang tenang, sayang. Lebih baik kita kembali saja ke hotel. Nanti aku saja yang lanjut mencari anak kita.”
“Aku tidak mau, Mas. Aku ingin tetap mencari Adel.”
“Aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Kamu kembali saja, kasihan Eva pasti kelelahan,” Andika menatap Eva yang sedang di gendong oleh Ani.
“Baiklah,” akhirnya Anara menurut dengan suaminya.
Andika menghubungi Bu Sinta, jika dia dan Anara akan kembali ke hotel. Mereka kembali ke parkiran dekat pantai karena mobil yang mereka sewa di parkirkan disana.
Setelah mengantar istrinya dan keluarganya, Andika memilih untuk mencari anaknya lagi.
Bu Sinta menemani Anara di kamar hotel yang di tempati oleh Anara dan Andika.
__ADS_1
"Ani, tolong ambilin air putih hangat untuk Nara," pinta Bu Sinta, sambil menatap Ani yang sedang duduk di sofa.
"Baik, Nyonya." Ani mengambilkan air hangat untuk Anara. Kebetulan di kamar itu sudah tersedia, jadi tinggal tuang saja.
Ani mendekati Anara yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Ini, Non." Ani memberikan gelas berisi air minum itu kepada Anara.
"Terima kasih, Kak." ucap Anara ramah.
"Sama-sama, Non." jawab Ani.
"Mamah mau pesankan makan untuk kita dulu," Bu Sinta menghubungi layanan hotel untuk memesan makanan dan meminta untuk di antarkan ke kamar itu.
°°°°°°°
Andika sudah kembali ke hotel. Namun dia datang sendiri, karena anaknya belum juga di temukan.
Tok tok
Andika mengetuk pintu kamar hotel yang dia tempati. Kebetulan Bu Sinta yang membuka pintu itu.
"Nak, kamu sudah pulang?"
"Iya, Mah. Tapi Adel belum di temukan. Tadi aku juga sudah lapor ke polisi."
"Semoga polisi segera menemukan Adel."
"Iya, Mah. Aku harap juga begitu. Oh iya, Nara dimana?"
Andika masuk ke kamar. Dia melihat istrinya yang sudah tertidur dengan memeluk Eva. Andika mendekati istrinya, lalu dia duduk di pinggir ranjang. Cukup lama Andika memandang istri dan anaknya.
Cup
Andika mengecup singkat kening istri dan anaknya.
Andika beranjak dari duduknya, karena dia akan mandi.
Setelah selesai mandi, Andika segera naik ke atas tempat tidur. Andika mulai memejamkan ke dua matanya.
Tengah malam Anara terbangun. Dia melihat suaminya tidur di sebelah Eva.
'Mas Dika sudah pulang, apa Adel sudah di temukan?' Anara menatap ke segala arah, karena takutnya Adelia ada disana. Namun ternyata Adelia tidak ada.
Anara mencoba untuk membangunkan suaminya.
"Mas, bangun!" Anara menepuk pelan bahu suaminya.
Andika terusik, dia mengerjapkan ke dua matanya. Andika melihat istrinya yang sedang menatapnya.
"Ada apa, sayang? Aku masih mengantuk nih," ucap Andika.
__ADS_1
"Adel dimana?"
"Belum ketemu, tapi aku sudah lapor polisi."
"Bagaimana keadaan Adel di luar sana? Pasti dia kedinginan," Anara mendudukan diri di atas tempat tidur.
Andika berpindah tempat, sehingga dia ada di sebelah istrinya. Andika memeluk istrinya lalu mengusap pelan punggungnya. Di posisi seperti itu, lama kelamaan Anara tertidur lagi. Andika merebahkan istrinya, lalu dia juga berbaring di sebelah istrinya.
••••••••
Pagi ini Anara terbangun lebih dulu. Dia manatap suami dan anaknya yang masih tertidur.
'Aku harus siap-siap, aku ingin mencari Adel,' batin Anara, lalu dia pergi ke kamar mandi.
Anara sudah selesai mandi. Dia mencoba membangunkan suaminya.
Andika mengerjapkan ke dua matanya. Dia melihat istrinya yang sedang berdiri di dekat ranjang.
"Sayang, kok kamu sudah rapih sekali? Memangnya kamu mau kemana?"
"Mau cari Adel, ayo Mas Dika siap-siap!"
"Sebentar, sayang. Aku masih mengantuk," ucap Andika sambil menguap.
"Cepat Mas!" Anara menarik-narik lengan suaminya.
"Astaga, sayang. Baiklah," Andika beranjak dari atas tempat tidur. Lalu dia segera pergi ke kamar mandi.
Anara tersenyum kecil sambil melihat kepergian suaminya. Lalu dia segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Setelah suaminya selesai mandi, Anara berpamitan karena mau pergi sebentar ke kamar Ani. Anara akan meminta Ani untuk menjaga Eva. Karena dia dan Andika akan segera pergi. Anara juga melarang Pak Indra dan Bu Sinta untuk pergi, karena tidak mau jika mereka kecapean.
Terlebih dahulu Andika dan Anara pergi ke kantor polisi. Ternyata polisi baru akan mencari keberadaan Adel.
Andika dan Anara juga memutuskan untuk mencari anaknya. Karena Mereka tidak tenang jika hanya bersantai saja, walaupun polisi sudah mulai melakukan pencarian.
Saat ini Andika dan Anara sudah ada di tempat terakhir kali anaknya hilang. Namun mereka tidak menemukan petunjuk apa pun. Karena di tempat itu tidak ada CCTV.
"Mas, kita harus mencari kemana lagi?"
"Sabar, sayang. Aku yakin kok anak kita pasti ketemu."
Sebenarnya Andika juga sangat cemas, sama seperti istrinya. Namun dia mencoba untuk bersikap tenang di depan istrinya.
"Kita cari ke tempat lain yuk!" ajak Andika.
"Iya, Mas." ucap Anara.
Kini mereka berdua pergi dari sana.
Setelah kepergian Andika dan Anara, seorang lelaki yang terlihat seusia dengan Andika, datang ke tempat itu.
__ADS_1
"Hey, jangan bergerak!" ucap seorang polisi dari belakang lelaki itu.
°°°°°