
Malam ini Adelia sudah terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna merah maroon. Bahkan wajahnya sudah terlihat cantik hanya dengan sedikit polesan make up. Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona.
Tak tak
Terdengar suara high heels yang begitu nyaring. Terlihat Adelia yang sedang menuruni tangga. Sejak tadi Bu Anara sudah menatapnya penuh kekaguman.
“Sayang, kamu cantik sekali. Kamu mau kemana?” Bu Anara mendekati anaknya yang kini sudah sampai di lantai bawah.
“Aku mau pergi ke pesta, Mah. Kebetulan rekan bisnisku ada yang mengadakan acara bisnis,” ujar Adelia sambil menyingkirkan rambutnya yang menutupi pipinya.
“Wah, pasti banyak lelaki tampan nih. Mamah doakan biar kamu bertemu jodohmu disana,” ucap Bu Anara.
“Mamah apaan sih? Kenapa tiap hari bilangnya jodoh terus, Adel masih mau sendiri, Mah.”
“Dasar keras kepala! Mamah tidak mau ya jika kamu ke duluan sama adikmu.”
“Iya, Mah. Aku tahu. Mamah sudah beberapa kali bicara itu sama aku.”
“Kalau begitu nanti kamu harus cari satu lelaki di acara pesta itu,” pinta Bu Sinta.
“Iya ... iya ... “ Adelia hanya menghela napasnya.
Setelah mengobrol dengan Ibunya, kini Adelia langsung pergi. Dia di antar oleh supirnya.
Bu Anara melihat Eva yang keluar dari kamarnya dengan senyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa, Nak? Sepertinya sedang bahagia,” tanya Bu Anara.
“Eva memang sedang bahagia, Mah. Tadi siang habis bertemu dengan lelaki yang Eva kenal dari sosmed. Tampan sekali loh, Mah. Pasti Mamah bangga jika punya menantu setampan itu,” ujar Eva sambil senyum-senyum sendiri.
“Memangnya dia lelaki baik-baik? Mamah tidak mau ya kalau kamu berkenalan dengan lelaki yang tingkahnya jelek.”
“Baik kok, Mah. Buktinya tadi siang juga aku di belanjain banyak.”
“Baiklah, tapi jaga batasan, Nak. Ingat, kamu ini seorang perempuan. Jangan sampai terjadi hal-hal yang merugikan kamu,” ujar Bu Anara mengingatkan anaknya.
“Iya, Mah. Eva tahu kok,” ucapnya.
__ADS_1
°°°°°°°°°
Kini Adelia sudah sampai di tempat tujuan. Kebetulan hotel tempat acara itu tak terlalu jauh dari kediamannya.
Adelia turun dari mobil, lalu melangkah pelan menuju hotel. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Terutama para lelaki terpesona saat melihat kecantikannya.
Adelia menemui Pak Dirga yang mengadakan pesta, untuk memberikan selamat.
Pak Dirga juga memperkenalkan anaknya sebagai penerus bisnis yang ada di indonesia. Padahal tadinya anak lelakinya itu mengurus perusahaan yang berada di luar negeri. Namun karena alasan suatu hal, jadi dia di minta untuk kembali ke indonesia.
"Selamat malam semuanya, di malam yang spesial ini, saya akan memperkenalkan putra saya yang bernama Rian Kusuma Wijaya. Putra saya ini merupakan CEO dari salah satu perusahaan saya yang ada di luar negeri. Namun mulai besok akan di pindah tugaskan untuk memimpin perusahaan yang ada di kota ini, sebagai pengganti saya," ujar Pak Dirga menjelaskan.
Semua tamu yang hadir bertepuk tangan dengan meriah.
Rian juga memberikan sedikit sambutan dan perkenalan.
Adelia merasa sedikit jenuh mendengar Rian yang sedang berbicara. Dia memilih untuk mengambil beberapa menu hidangan yang ada di atas meja.
Terlihat seorang lelaki menghampiri Adelia.
"Hai cantik, boleh kenalan tidak?" lelaki itu duduk di depan Adelia.
"Yakin nih tidak mau," lelaki itu mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan kartu black card dari dalam dompet. "Kalau aku kasih ini gratis, apa kamu mau?"
"Aku tidak butuh, aku punya tiga kartu seperti itu," ucap Adelia.
Adelia memang tidak mau berkenalan dengan lelaki yang sedang duduk di depannya. Karena baginya, lelaki itu sudah terlihat cukup tua, dan bukan tipenya.
Lelaki itu merasa tersinggung, lalu pergi dari sana.
Adelia menyeruput minuman miliknya, namun tinggal setengah gelas saja.
Terlihat seorang pelayan mendekati Adelia dan menawarkan minum.
"Permisi, Nona. Apakah mau minum?"
Adelia menoleh ke samping lalu tersenyum kepada pelayan itu.
__ADS_1
"Boleh, saya ambil satu ya," Adelia hendak mengambil satu gelas orange jus yang ada di atas nampan, namun pelayan itu mencegahnya.
"Biar saya saja," ucapnya.
"Baiklah,"
Adelia mengambil orange jus yang sudah ada di atas meja, lalu dia langsung meneguknya habis. Namun tak lama, dia merasa sangat gerah.
"Aduh, aku kenapa nih," Adelia mengibaskan tangannya ke tubuhnya untuk mengurangi rasa panas dalam dirinya. Namun dia masih tetap merasa panas.
Adelia memilih untuk pergi ke toilet. Beberapa kali dia membasuh wajahnya, namun masih saja merasa panas.
Adelia memutuskan untuk pulang, karena sepertinya ada yang tidak beres pada dirinya. Namun saat di tengah pesta, dia tak sengaja menabrak seorang lelaki.
"Aww ... " pekik Adelia yang hendak terjatuh, namun lelaki itu menahannya.
"Hati-hati," ucapnya.
Adelia merasa hawa panas yang dia rasakan semakin membuncah saat bersentuhan dengan lelaki itu.
"Kamu kenapa?" Lelaki itu melihat tingkah Adelia yang sangat aneh.
"Panas," ucapnya dengan sedikit menahan hasrat yang menggelora.
"Panas? Perasaan disini dingin?"
"Aku tidak kuat, aku mau mandi," Adelia berbalik arah, lalu melanjutkan langkahnya.
"Stt," lelaki itu mengusap kasar rambutnya, lalu mengikuti kemana Adelia pergi.
Lelaki itu melihat Adelia yang saat ini sedang berjongkok di depan mobil.
"Katanya gerah, kok masih disini," ucapnya, lalu menggendong Adelia ibarat membawa karung beras.
"Aku mau dibawa kemana?" Adelia memukul-mukul punggung lelaki itu.
"Ke tempat yang bikin kamu dingin," ucapnya, sambil melanjutkan langkahnya menuju ke dalam hotel.
__ADS_1
°°°°°°°°°