
Anara sudah di perbolehkan pulang. Saat ini Anara pulang bersama suaminya. Karena hanya suaminya yang menginap di rumah sakit untuk menemaninya. Karena Bu Sinta harus membantu Ani menjaga ke dua cucunya. Dan Pak Indra juga tidak mungkin menginap di rumah sakit karena kesehatannya yang kurang baik.
Andika menuntun istrinya keluar dari rumah sakit. Kebetulan supir yang menjemput mereka sudah datang. Andika dan Anara masuk ke mobil. Mereka duduk bersebelahan. Supir yang menjemput mereka langsung saja mengemudikan mobilnya menjauh dari sana.
"Mas, nanti kita singgah di restoran langganan kita ya," pinta Anara.
"Kamu baru pulang dari rumah sakit loh, jangan makan makanan luar dulu, sayang." ucap Andika.
"Tapi aku ingin," Anara memanyunkan bibirnya sambil menatap suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Baiklah, tapi untuk kali ini saja ya, besok jangan dulu."
"Iya, Mas. Terima kasih," Anara memeluk suaminya lalu menciumi ke dua pipinya.
"Ini belum, sayang." Andika menunjuk bibirnya.
"Tidak mau, ada supir di depan." ucapnya.
"Suruh tutup mata saja nanti."
"Ya jangan, nanti kalau tutup mata, bawa mobilnya bagaimana?"
"Baiklah, sayangku cintaku," Andika mengusap gemas pucuk kepala istrinya.
Anara melihat restoran yang biasa dia kunjungi sudah ada di depan. Dia menyuruh supir untuk menghentikan mobilnya di depan restoran.
Andika menemani istrinya pergi ke restoran. Dia akan mengawasinya karena takut jika istrinya memesan makanan yang pedas.
Kini ke duanya sudah kembali ke mobil. Lalu Pak supir segera mengemudikan mobilnya.
Andika melihat istrinya membuka kotak berisi makanan yang tadi mereka beli.
"Sayang, kamu mau makan sekarang?"
Anara menganggukan kepalanya.
"Tapi kita belum sampai loh."
"Aku tetap mau makan sekarang," ucap Anara.
"Baiklah," ucap Andika.
Andika menatap istrinya yang sedang asyik memakan makanan kesukaannya.
"Mas mau?" Anara menawari suaminya.
"Tidak, untuk kamu saja," jawab Andika.
Setelah melewati keramaian ibu kota, kini mobil yang mereka naiki sudah sampai di depan rumah. Andika dan Anara segera turun dari mobil. Ternyata Bu Sinta sudah menunggu kedatangan mereka. Adelia dan Eva juga ada disana, untuk menunggu kepulangan Ibunya.
"Wah, anak-anak Mamah lagi pada ngapain nih di luar?" Kini Anara sudah ada di hadapan Bu Sinta dan anak-anaknya.
"Katanya mau ikut Nenek nungguin Mamah pulang," ucap Bu Sinta. Memang tadi Adelia berbicara seperti itu.
__ADS_1
"Mereka rewel tidak, Mah?" tanya Anara.
"Sedikit, apalagi Eva yang cariin kamu terus," ucapnya.
"Sayang, ayo kita masuk! Kita ngobrolnya di dalam saja," ajak Andika.
"Eh iya, ayo Nak! Kasihan kalau kamu berdiri kelamaan, nanti kecapean," sahut Bu Sinta.
Mereka segera masuk ke rumah. Bu Sinta menuntun tangan ke dua cucunya.
"Mamah ... "Adelia berjalan mendekati Anara.
"Sayang, jangan lari-lari! Nanti jatuh loh," Anara beranjak dari duduknya, lalu menangkap Adelia.
Bu Sinta ikut duduk bersama Anara dan Andika. Mereka saling mengobrol.
"Euh euh ... "Eva menunjuk-nunjuk Anara.
"Ada apa, sayang? Kamu mau sama Mamah?" Bu Sinta menatap Eva yang ada di pangkuannya.
Eva diam saja, dia hanya menatap Bu Sinta. Eva kembali menunjuk-nunjuk Anara. Akhirnya Bu Sinta tahu jika Eva ingin bersama Anara.
"Nara, nih Eva sepertinya mau sama kamu," Bu Sinta mendekati Anara lalu menyerahkan Eva.
Anara mendudukan Adelia ke sofa. Karena tadi Adelia ada di pangkuannya. Bu Sinta mendudukan Eva di pangkuan Anara.
"Adiknya cemburu nih melihat Kakaknya," ucap Bu Sinta yang melihat Eva terlihat girang di pangkuan Anara.
"Namanya juga anak kecil, Mah." ucap Anara.
Andika menghampiri istrinya yang sudah pergi ke kamar terlebih dahulu.
Cklek
Andika membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang dia lihat yaitu istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur, sambil memijat kakinya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Andika menutup pintu kamar itu. Lalu dia melangkah mendekati istrinya.
"Lagi memijat kaki nih, sedikit pegal-pegal," ucapnya.
Andika duduk di pinggir ranjang. Lalu dia memegang kaki istrinya.
"Biar aku yang memijat kaki kamu ya."
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, sayang." Andika mulai memijat kaki istrinya.
Anara memilih untuk berbaring agar lebih nyaman. Lama kelamaan dia tertidur.
Andika menatap istrinya yang sudah tertidur. Dia menyingkirkan rambut panjang istrinya yang menutupi wajah. Dia tersenyum sambil menatap wajah cantik istrinya.
Cup
__ADS_1
Andika mengecup singkat kening istrinya. Setelah itu dia pergi keluar dari kamar. Andika melihat Bu Sinta yang sedang berpamitan dengan Pak Indra.
"Mah, mau pulang sekarang? Apa tidak sebaiknya menginap saja? Sekarang sudah malam loh, " Andika menghampiri Ibunya.
"Mamah harus pulang, karena kemarin Mamah sudah menginap disini," jawabnya.
"Tapi sekarang sudah malam, Mah." kata Andika.
"Tidak apa-apa, ya sudah Mamah pergi dulu," Bu Sinta berpamitan kepada anaknya.
Andika mengantar ibunya hingga keluar dari rumah. Kebetulan di depan sudah ada supir pribadi Bu Sinta yang sedang menunggunya.
Setelah mobil yang di naiki ibunya sudah pergi meninggalkan halaman rumah, barulah Andika kembali masuk ke rumah.
Andika pergi ke kamar anaknya untuk mengecek mereka. Ternyata ke dua anaknya sedang tidur. Dia melihatnya dari dekat pintu. Tadinya dia akan masuk, namun karena ada Ani dia tidak jadi masuk ke kamar anaknya.
Andika memilih kembali ke kamarnya. Dia naik ke atas tempat tidur. Lalu masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. Andika memeluk istrinya, lalu dia mulai memejamkan ke dua matanya.
Pagi harinya, Anara bangun lebih awal. Dia melihat sebuah tangan melingkar di perutnya. Dia menoleh ke belakang, ternyata suaminya yang memeluknya begitu erat. Anara melepaskan pelukan suaminya. Lalu dia berbalik badan sehingga dia dan suaminya saling berhadap-hadapan. Anara memperhatikan wajah suaminya. Cukup lama dia memandang seperti itu.
Anara terkejut saat melihat suaminya membuka ke dua matanya.
'Perasaan dari tadi aku lihatin wajah Mas Dika, dia masih tidur. Kok sekarang sudah bangun,' batin Anara.
"Sayang, kamu lihatin apa? Pasti lagi menatap ketampanan suamimu ini," ucap Andika dengan percaya diri.
"Siapa bilang jika Mas Dika itu tampan?" Anara menjauhkan wajahnya sehingga tak dekat lagi dengan wajah suaminya.
"Oh, jadi menurutmu aku sudah tidak tampan lagi?"
"Memangnya kapan aku bilang kalau Mas Dika itu tampan?" tanya Anara.
"Entahlah, aku tidak ingat," ucapnya.
"Mas Dika jelek," Anara kembali membalikan badannya sehingga dia membelakangi suaminya.
"Apa kamu bilang?" Andika menggelitik pinggang istrinya.
"Ah geli hahahaha ... " Anara tertawa karena merasa geli.
"Rasakan ini," Andika masih menggelitik pinggang istrinya.
"Stop hahaha ... " Anara tidak bisa berhenti tertawa karena merasa geli. Aku mau mengaku," ucapnya lagi.
"Mengaku apa, sayang?"
"Mengakui jika Mas Dika itu tampan," ucapnya.
Andika berhenti menggelitik pinggang istrinya.
"Kamu juga cantik, sayang." Andika berbisik di telinga istrinya.
Anara hanya tersenyum simpul saat mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
°°°°°°°°