Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.58


__ADS_3

Adelia masih mendiami suaminya, karena dia merasa di bohongi. Ternyata Clarissa yang selama ini sudah di anggap seperti saudara sendiri, dia merupakan mantan dari suaminya. Adelia jadi menyangka jika Clarissa mendekatinya itu memang karena ada maksud lain.


Rian melihat istrinya yang sedang bermain bersama anaknya.


"Sayang," Rian menghampiri mereka.


Adelia hanya menatap sekilas ke arah suaminya. Lalu dia kembali menatap anaknya.


Rian mendekati istrinya, lalu duduk di dekatnya.


"Sayang, kamu masih marah ya," Rian memegang rambut panjang istrinya.


"Jangan pegang-pegang!" Adelia menepis tangan suaminya.


"Kamu kalau lagi marah seperti ini tambah cantik loh," ucapnya memuji Adelia.


"Kalau begitu setiap hari aku marah-marah saja."


"Jangan dong, sayang. Nanti kalau marah-marah cepat tua loh."


"Tadi katanya kalau lagi marah tambah cantik, sekarang cepat tua. Oh biar aku tua nanti Mas Rian bisa balikan sama mantan ya," ucapnya sambil menatap suaminya.


"Bukan begitu, sayang. Sampai kapan pun, aku akan tetap setia. Para mantan dan para pelakor, bila perlu Mas musnahkan dari dekat kita."


"Benar tetap setia?"


"Benar dong, masa kamu masih meragukan suamimu sendiri sih," Rian mencoba untuk memeluk istrinya. Namun ternyata Istrinya melepaskan pelukannya.


"Jangan pegang-pegang dulu! Mas Rian masih aku hukum."


"Hukuman apalagi, sayang?" Rian mendadak lesu.


Adelia tampak tersenyum memikirkan hukuman untuk suaminya.


"Dua minggu ke depan, Mas Rian tidak dapat jatah," ucap Adelia.

__ADS_1


"Jangan dua minggu dong. Itu kelamaan, sayangku." ucapnya dengan sedikit merengek.


"Ya sudah satu bulan saja."


"Kok nambah? Dua minggu saja deh, masa jadi satu bulan sih," terlihat Rian yang pura-pura merajuk di depan istrinya.


"Baiklah, selama dua minggu Mas Rian tidak boleh pegang-pegang aku. Tidak boleh cari kesempatan. Cium peluk juga tidak boleh."


"Baiklah, demi kamu, Mas akan menurut."


Mungkin ini salahnya juga karena dari awal tidak jujur. Jadi jika mendapat hukuman, dan itu sudah konsekuensinya.


°°°°°°°


Dari semalam Eva belum juga kembali ke apartemen. Bahkan sekarang sudah hampir malam lagi. Alan sudah mencoba untuk menghubunginya, namun nomornya tidak aktif.


Terlihat Alan yang baru keluar dari kamar. Niatnya dia akan pergi keluar karena merasa bosan berada di apartemen terus. Saat melewati ruang depan, Alan melihat Kiara yang sedang duduk sambil bersender di sofa.


"Aku mau keluar dulu," ucap Alan kepada Kiara.


"Iya," jawabnya dengan suara lirih.


"Aku tidak apa-apa kok," jawabnya dengan nada bicara yang tampak lemah.


Alan mendekati Kiara, lalu memegang keningnya, dan ternyata terasa panas.


"Badan kamu panas sekali, ah menyusahkan saja. Ayo ke kamar!" Alan memegang tangan Kiara dan membantu untuk memapahnya.


"Terima kasih," ucap Kiara dengan suara lirih.


"Hm," hanya itu hanya Alan katakan.


Kini keduanya sudah sampai di dalam kamar. Alan membantu Kiara berbaring ke atas tempat tidur.


"Aku mau panggil Dokter dulu," Alan kembali keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Alan menelepon Dokter kandungan yang biasa memeriksa Kiara saat cek kandungan. Dia meminta Dokter itu untuk datang ke apartemen. Dia juga mencoba untuk menghubungi Eva. Namun nomornya masih saja tidak aktif.


'Sepertinya Kak Eva memang berniat untuk membiarkan aku berduaan disini bersama Kiara. Enak saja, aku kan yang repot sendiri,' batin Alan.


Lima belas menit kemudian, Alan mendengar ada yang memencet bel apartemen. Dia langsung saja membuka pintunya. Ternyata yang datang itu Dokter yang tadi dia hubungi.


"Silakan masuk, Dok!" ucap Alan dengan ramah.


"Terima kasih," ucap Dokter.


"Sama-sama, mari ikut saya ke kamar Kiara," pinta Alan.


"Baik," jawabnya.


Dokter itu mengikuti Alan menuju ke kamar Kiara.


Dokter itu mulai memeriksa Kiara. Alan hanya memperhatikannya saja.


"Dok, bagaimana keadaannya? Dia sakit apa?" tanya Alan.


"Hanya demam biasa. Tidak ada hal lain kok. Kandungannya juga baik-baik saja. Tapi tolong di jaga pola makannya. Jangan karena sakit, Ibu Kiara tidak makan karena tidak enak makan. Ini ada obat yang harus di minum oleh Bu Kiara," ucapnya sambil mengambil beberapa macam obat-obatan dari dalam tasnya.


"Di makan setelah makan. Ini aturan minumnya saya tuliskan. Nanti tinggal di lihat saja kalau mau minum."


"Baik, Dok." kata Alan.


Setelah Dokter menyerahkan obat, Alan langsung saja membayarnya. Dia juga mengantarkan Dokter itu hingga ke depan Apartemen.


Saat ini Alan kembali menghampiri Kiara.


"Kamu mau makan apa?" tanya Alan sambil menatap Kiara.


"Apa saja," jawab Kiara.


"Baiklah, aku akan carikan makanan untukmu," Alan kembali keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Niatnya dia akan membeli bubur ayam di depan. Setahu dia, di depan ada penjual bubur ayam yang suka mangkal di depan jalan.


'Ah bodo amat aku belikan makanan di pinggir jalan. Yang penting dia makan,' batin Alan.


__ADS_2