
Andika masuk ke hotel, dia bertanya kepada resepsionis, dimana ruang pengawas CCTV. Dia yakin jika hilangnya Anara bisa saja ada jejaknya di CCTV hotel. Namun resepsionis itu mengatakan jika tidak sembarang orang bisa melihat rekaman CCTV di hotel. Karena itu sifatnya privasi.
Andika meminta untuk bertemu dengan manager hotel itu. Dia duduk di kursi tunggu sambil menunggu manager hotel itu datang.
"Selamat malam, apakah Tuan yang mencari saya?" tanya seorang pria berpakaian rapih, yang kini berdiri di depan Anara.
"Apakah Bapak manager di hotel ini?"
"Benar, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Kekasih saya hilang, bisakah saya melihat di rekaman CCTV hotel ini. Tadi terakhir kali kekasih saya hilang saat di toilet."
"Baiklah, mari ikut saya!" ucapnya.
"Terima kasih," Andika merasa lega karena di perbolehkan untuk mengecek CCTV.
Saat ini ke duanya sudah berada di ruangan CCTV. Andika menatap layar monitor yang menampilkan beberapa toilet.
"Stop! Itu kekasih saya," ucap Andika kepada petugas CCTV yang sedang memegang mouse.
"Coba dI percepat detik berikutnya!"
"Baik, Tuan."
Jika tadi Andika melihat Anara memasuki toilet, saat ini dia melihat Anara di bawa dua orang lelaki yang tidak di kenal.
"Di bawa ke hotel? Coba cek CCTV di lorong hotel!"
"Baik, Tuan."
Anara terus menatap layar monitor. Dia melihat Anara di bawa ke salah satu kamar yang ada di hotel itu.
"Pak, tolong antar saya ke kamar ini, kalau tidak salah ini nomor 201," ucap Andika sedikit memohon.
"Mari," ucap sang manager.
Andika mengikuti manager itu karena akan mengambil kartu akses kamar hotel 201. Setelah itu barulah mereka pergi ke kamar itu untuk menolong Anara.
Cklek
Pintu terbuka dan menampakan seorang lelaki berada di atas perempuan.
"Pak, tunggu disini saja! Biar saya yang masuk," setelah mengatakan itu Andika langsung masuk ke dalam.
Ternyata wanita yang di bawah kungkungan lelaki itu adalah Anara.
__ADS_1
"Cepat turun!" Andika menarik kasar tangan lelaki itu.
"Mengganggu saja, belum juga mulai. Kekasihmu ini ternyata cantik."
"Dasar baji*ngan," Andika memukuli lelaki itu. Lalu dia menariknya keluar dari kamar.
"Pak, hati-hati dalam menerima tamu. Jika kejadian seperti ini terulang lagi, atau ada orang lain yang mengalami, bisa saja hotel ini di tuntut."
"Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan. Biar saya yang tangani lelaki ini," Manager hotel itu menyuruh dua orang keamanan untuk menarik paksa lelaki yang hendak melecehkan Anara. Kebetulan tadi sempat menghubungi bagian keamanan untuk datang ke kamar 201.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya masuk dulu." Andika masuk ke kamar itu. Dia mencoba membangunkan Anara.
Andika melihat ada tanda kiss mark tapi itu bukan buatannya. Dia mengepalkan tangannya. Ternyata lelaki tadi sudah berani menyentuh Anara.
"Argghhh ... " Andika mengacak kasar rambutnya. Dia merasa tidak terima karena lelaki lain sudah menyentuh wanita yang dia cintai.
Terlihat Anara mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap sekeliling tampak asing. Lalu dia menatap Andika yang sedang duduk di pinggir ranjang, namun posisinya membelakanginya.
"Siapa kamu?"
Andika menoleh menatap Anara.
"Kamu sudah sadar?"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Tadi aku sepertinya di bawa oleh dua orang preman, tapi kenapa aku ada disini?"
Andika mengambil tas milik Anara yang tergeletak di lantai. Lalu dia mengambil cermin dan memberikannya kepada Anara.
"Coba lihat lehermu!" pinta Andika.
Anara menatap lehernya yang ada bekas kiss mark.
"Hiks ... hiks ... Kenapa ini terjadi kepadaku? Aku sudah tersentuh orang," Anara tak bisa menahan air matanya lagi. Dia begitu kecewa pada diri sendiri.
Andika mencoba memeluk Anara. Namun Anata memberontak.
"Lepaskan! Jangan lakukan!" teriak Anara.
"Stt, tenangkan dirimu, aku tidak akan berbuat yang macam-macam," Andika mengusap punggung Anara.
"Tapi aku ternoda, ada bekas lelaki itu di leherku," Anara masih saja menangis.
"Lihat aku!" Andika melepaskan pelukannya, lalu menyuruh Anara menatapnya.
Kini keduanya saling tatap.
__ADS_1
"Jika boleh, aku bisa menghapus jejak lelaki itu," ucap Andika.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
Andika mengusap kiss mark yang ada di leher Anara, lalu dia mendekatkan wajahnya disana.
"Kalau tidak boleh bilang saja," ucap Andika.
"Lakukan!" seolah Anara kehilangan urat malunya. Dia sendiri yang memberikan lampu hijau untuk Andika.
"Aww jangan di gigit," ucap Anara.
"Tidak kok, aku cuma menghapus jejak lelaki itu dengan jejak buatanku.
Andika kembali menjauhkan wajahnya. Dia tidak akan berbuat lebih kecuali menghapus jejak itu.
Anara mengambil cermin miliknya, dia melihat kiss mark di lehernya semakin terlihat jelas.
"Kenapa makin jelas seperti ini?" Anara melotot menatap Andika.
"Setidaknya jejak lelaki itu hilang. Tapi aku tidak tahu dia sudah berbuat apa saja," ucap Andika.
Anara menelusupkan wajahnya di antara lututnya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tenanglah, mulai sekarang harus lebih berhati-hati. Aku akan berusaha untuk selalu melindungimu."
Andika memeluk Anara, lalu mencium pipinya. Anara mengangkat wajahnya. Dia menatap Andika.
"Ngapain pakai cium segala?"
"Karena aku sayang sama kamu," ucapnya.
"Memangnya mau sama bekas orang lain?"
"Aku akan menerima kamu apa adanya. Itu juga jika kamu mau sama aku. Lagian aku juga pernah berbuat salah kepadamu," ucapnya.
"Beri aku waktu, aku belum bisa menjawabnya."
"Baiklah, aku akan setia menunggu. Ayo kita pulang!"
"Aku malu jika pulang dengan kondisi seperti ini," ucapnya.
Andika melepas jasnya, lalu memakaikannya di tubuh Anara.
__ADS_1
°°°