
Lima tahun kemudian
Tak terasa sudah lima tahun usia pernikahan Anara dan Andika. Mereka tetap terlihat harmonis. Andika sangat menyayangi istri dan anak-anaknya. Saat ini usia Adelia tujuh tahun, Eva enam tahun, sedangkan Alan lima tahun. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang pintar. Tapi tetap saja yang paling pintar di antara mereka hanya Adelia. Bahkan Adelia selalu mengalah dengan adik-adiknya.
Bu Sinta datang ke rumah anaknya untuk menengok ke tiga cucunya. Saat ini Bu Sinta sedang duduk di ruang keluarga. Kebetulan tadi Bi Inem yang mempersilahkannya masuk.
Bu Sinta melihat pintu kamar Anara terbuka. Ternyata yang keluar Anara, namun terlihat handuk kecil menutupi kepalanya.
"Ekhm," Bu Sinta berdehem sehingga Anara mendengarnya.
"Eh, Mamah. Datang kapan?"
"Barusan, Mamah kira tidak ada orang karena rumah sepi."
"Kebetulan anak-anak lagi pergi jalan-jalan sama Papah dan Ani," ucap Anara.
"Lalu kamu dan Dika sibuk di kamar?" Bu Sinta menatap handuk kecil yang menutupi kepala Anara.
"Ya begitulah, Mah. Nara belum sempat mengeringkan rambut nih, tadi keluar kamar karena mau ambil air minum di dapur. Haus sekali sih," ucapnya.
"Lebih baik kamu ke dapur dulu saja."
"Iya, Mah. Nara tinggal bentar ya," Anara berbalik arah dan mulai melangkah pergi. Namun Bu Sinta menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
Anara kembali menoleh ke belakang.
"Ada apa, Mah?"
"Kenapa jalanmu pincang?"
"Kaki Nara sedikit pegal-pegal, Mah." setelah mengatakan itu Anara kembali melanjutkan langkahnya.
Bu Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Bisa-bisa kebobolan nih kalau tiap hari Dika meniduri istrinya,' batin Bu Sinta.
Setelah mengambil minum, Anara pergi ke kamar untuk mengeringkan rambutnya. Lalu barulah dia kembali menghampiri Bu Sinta.
__ADS_1
°°°°°°°°°
Pak Indra yang sedang jalan-jalan dengan cucunya, terpaksa harus pulang lebih cepat. Karena dia baru saja mendapatkan telfon penting.
Saat ini Pak Indra dan cucunya baru sampai di depan rumah.
Tok tok
Kebetulan Ani yang mengetuk pintu rumah.
Bu Sinta dan Anara yang sedang mengobrol, terpaksa menghentikan obrolan mereka.
“Biar Mamah yang membuka pintu," Bu Sinta beranjak dari duduknya, lalu pergi untuk membuka pintu.
Cklek
Bu Sinta melihat cucunya yang sudah pulang. Namun Eva tampak tertidur di gendongan Ani.
“Ternyata cucu Mamah pulang, sini biar sama saya,” Bu Sinta meminta Ani untuk menyerahkan Eva.
Bu Sinta membawa Eva ke kamar.
“Nak, Papah mau pergi dulu ya, ada keperluan di luar,” ucap Pak Indra.
“Papah mau kemana?” tanya Anara.
“Mau ketemu teman lama,” Pak Indra terpaksa berbohong kepada anaknya.
“Tapi Papah baru pulang loh, pasti cape.”
“Tidak juga sih, lagian ini penting.”
“Baiklah,” Akhirnya Anara membolehkan Ayahnya pergi, karena sedikit memaksa.
Pak Indra segera pergi, namun tidak di antar oleh supir. Pak Indra memilih untuk menaiki taxi.
Setelah cukup lama di perjalanan, kini Pak Indra sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Pak Indra turun dari taxi, lalu segera melangkah memasuki gerbang.
Pak Indra melihat putri yang dia rindukan sedang berdiri di depan rumah sambil menyilangkan tangannya di atas dada.
__ADS_1
“Nak, akhirnya kamu bebas juga dari penjara,” Pak Indra mendekati anaknya, lalu memeluknya. Vanesa membalas pelukan Ayahnya.
“Pah, kok rumah terasa sunyi seperti tidak ada yang menempati?”
“Ada kok, Asisten rumah tangga tinggal disini,” ucapnya.
“Lalu Papah tinggal dimana? Tadi Nesa masuk ke kamar Papah, tapi isi lemari sudah kosong. Hanya ada beberapa stel pakaian saja.”
“Em itu,” Pak Indra tampak diam sambil berpikir.
"Pah, jawab Nesa dong!" Vanesa menunggu penjelasan dari ayahnya.
"Papah tinggal di rumah yang di tempati Anara."
"Ngapain tinggal disana? Lebih baik sekarang tinggal saja disini sama aku," pinta Vanesa.
"Baiklah, nanti Papah akan pindah kesini."
"Oh iya, Pah. Bagaimana kabar Mas Dika? Aku kangen sama Mas Dika. Niatnya aku akan meminta maaf dan meminta kesempatan ke dua."
Pak Indra diam, dia tak tega untuk memberitahukan semuanya kepada putrinya.
Vanesa melihat ayahnya yang tampak diam.
"Pah, kenapa diam?"
"Eh maaf, Nak. Andika baik-baik saja kok."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya."
"Nak, lebih baik lupakan Andika. Kamu cari saja lelaki lain untuk mendampingimu," ujar Pak Indra.
"Memangnya kenapa? Lagian tidak ada lelaki lain yang mau aku dekati."
"Lalu bagaimana dengan Kenzo?"
"Nanti deh aku coba temui. Sudah lama juga aku tidak bertemu dengannya."
Pak Indra berharap agar Vanesa bisa menemukan kekasih hatinya. Walaupun lelaki itu Kenzo, yang jelas-jelas dari dulu Pak Indra tidak menyukainya. Tapi kali ini dia tidak akan melarang lagi jika Vanesa masih ingin bersamanya. Dari pada mengganggu pernikahan Anara dan Andika, tentu itu akan semakin rumit.
__ADS_1
••••••••