
Andika dan Adelia sudah kembali ke tempat persalinan Anara. Terlihat seorang perawat yang baru keluar dari ruangan itu.
"Maaf, Sus. Istri saya dimana yah? Kok sepertinya sepi?" Andika menatap ke dalam ruangan yang sudah kosong.
"Oh Ibu Anara, tadi sudah di pindahkan ke ruang perawatan," ucapnya.
"Baiklah, terima kasih," Andika segera pergi dari hadapan perawat itu.
Andika segera pergi ke ruangan yang saat ini di tempati oleh istrinya.
Tok tok
Andika mengetuk pintu ruangan yang tertutup.
Pak Indra membukakan pintu itu.
"Nak Dika, silahkan masuk!" ucap Pak Indra.
"Terima kasih, Pah." ucapnya.
"Sama-sama," jawabnya.
Andika melangkah masuk dengan menggendong Adelia. Dia melihat istrinya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Sayang, anak kita mana?" tanya Andika.
"Ada di ruang bayi, Mas." jawabnya.
"Oh iya, aku belum mengadzankannya, aku ke ruang bayi dulu," Andika menurunkan Adelia yang ada di gendongannya.
"Papah ikut, Nak." ucap Pak Indra yang sedang duduk di sofa.
"Ayo, Pah!" ajak Andika.
Kini ke duanya pergi menuju ke ruang bayi. Andika mengadzankan anaknya, lalu dia kembali menidurkan anaknya di box bayi.
Cukup lama Andika memandang wajah tampan anaknya. Kini dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Anara melihat suaminya yang sudah kembali. Terlihat Andika menggendong Andelia yang tadi sedang bermain sendirian.
Anara tersenyum menatap kedekatan antara ayah dan anak itu.
"Sayang, kita lihat Mamah yuk!" Andika mengajak Adelia untuk mendekati ranjang tempat Anara berbaring.
Andika mendudukan anaknya di pinggir ranjang.
"Sayang, terima kasih ya," ucap Andika.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Anara.
"Karena kamu sudah melahirkan anak lelaki yang sangat tampan. Bahkan ketampanannya sejajar denganku," ucap Andika.
"Pede sekali," ucap Anara, sambil menatap suaminya.
"Harus dong, kalau tidak tampan, tidak mungkin kamu dua kali hamil anakku," ucapnya.
"Apa hubungannya antara tampan dan hamil anakmu?" tanya Anara.
"Astaga, itu sih kamunya saja yang bikin aku tidak keluar kamar. Satu jam, dua jam saja tidak cukup," ucap Anara.
"Hus ... hus ... Kalian di rumah sakit juga masih sempat bahas urusan ranjang," sahut Bu Sinta yang kini sudah berdii di dekat Andika.
"Namanya juga anak muda," sahut Pak Indra yang juga mendengar percakapan mereka.
Anara dan Andika langsung diam. Mereka tidak membahas itu lagi.
°°°°°°
Setelah menginap dua hari di rumah sakit, kini Anara sudah di perbolehkan untuk pulang.
Terlihat Andika mendorong kursi roda yang sedang di duduki Anara menuju ke luar rumah sakit. Di belakangnya terlihat Bu Sinta yang menggendong cucu laki-lakinya. Sedangkan Adelia dan Eva bersama Ani.
Mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Ternyata disana supir pribadi Anara sudah menunggu mereka.
"Silahkan masuk!" ucapnya sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Andika.
"Sama-sama, Tuan." jawabnya.
Setelah membantu Anara duduk di dalam mobil, Andika kembali keluar. Karena Andika dan Pak Indra akan pulang menggunakan mobil yang berbeda.
Setelah cukup lama melewati keramaian ibu kota, kini Anara dan yang lainnya sudah sampai di depan rumah.
Andika menggendong istrinya masuk ke rumah, dan langsung membawanya ke kamar.
Terlihat Bu Sinta memasuki kamar Anara dengan menggendong cucunya.
"Nara, ini anakmu menangis sepertinya haus," Bu Sinta mendekati Anara, lalu memberikan bayi mungil yang sedang di gendongnya.
"Anak Mamah haus, sebentar ya Sayang!" terlihat Anara membuka kancing kemejanya.
Bu Sinta sudah pergi dari sana. Sedangkan Andika masih berdiri memperhatikan istrinya yang sedang menyu*sui anaknya.
Anara menatap suaminya yang kini sedang menatapnya.
"Mas Dika lihatin apa?" tanya Anara.
"Tuh, aku lihat anak kita yang sedang menyu*su. Mas juga nunggu giliran," ucapnya.
"Astaga, Mas Dika tidak mau mengalah sama sekali sama anak sendiri. Masa kalah sama Adel dan Eva," sindir Anara.
"Ya beda, sayang. Mas itu butuh asupan, dan asupannya itu dari kamu," kata Andika.
"Baiklah, sekarang Mas Dika keluar saja."
"Kok di suruh keluar? Terus bagaimana jatah Mas?"
"Nanti saja," ucap Anara.
"Nanti Mas tunggu loh janjimu," setelah mengatakan itu, Andika pergi keluar kamar.
°°°°°°
__ADS_1