
Beberapa bulan kemudian.
Akhirnya Alan sudah lulus juga dari kuliahnya. Sekarang dia fokus mengurus perusahaannya. Untuk pasangan, dia belum memikirkannya. Namun akhir-akhir ini beberapa karyawannya bergosip saat melihat kedekatan Alan dengan sekretarisnya sendiri.
Pak Andika sudah benar-benar berhenti bekerja. Sekarang Alan yang sudah menjadi penerus bisnisnya.
Malam ini Pak Andika mengadakan pesta besar untuk merayakan pergantian CEO baru. Semua karyawan dan klien bisnisnya sudah mereka undang. Kebetulan acaranya di adakan di sebuah hotel mewah. Di acara itu juga akan ada pesta topeng.
Terlihat Bu Anara dan keluarganya sedang berkumpul. Mereka sedang membahas pesta nanti malam. Bu Anara juga sudah menyiapkan pakaian couple untuk mereka semua. Tentunya Adelia yang membantu memilih desainnya.
"Adel jadi tidak sabar menunggu nanti malam. Nanti kalau Adel mau dansa, Mamah yang bantu jagain Raffa ya," pinta Adelia.
"Siap, emak-emak kok mau dansa sih."
"Adel kan emak-emak cantik. Coba kalau nanti malam datang ke pestanya sendirian, pasti di kira wanita lajang. Pasti tuh para cowok-cowok nyamperin Adel deh," ucap Adelia sambil berkhayal.
"Ekhem ekhem suami nih di samping," Rian menatap istrinya yang baru saja berbicara seperti itu.
"Hehe maaf, Mas. Cuma bercanda kok," Adelia tersenyum memperlihatkan senyum manisnya.
"Awas saja kamu yah kalau macam-macam, nanti Mas hukum kamu."
"Hukumannya apa tuh? Aku penasaran?" sahut Alan.
"Paling hukuman yang enak-enak," Pak Andika ikut menyahut pembicaraan mereka.
"Ah Papah tahu saja," ucap Rian.
__ADS_1
Bu Anara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata isi kepala suami dan menantunya sama saja.
Bu Anara berbisik di telinga Eva, yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Va, Kiara aman tidak?" tanya Bu Anara.
"Aman, Mah. Dia ada di rumah Kak Adel," jawabnya.
"Syukurlah, Mamah sudah tidak sabar ingin ketemu dia."
"Mamah sama Kak Eva lagi membicarakan apa?" tanya Alan yang melihat ibu dan kakaknya sedang berbisik.
"Bukan apa-apa kok, ini urusan wanita," ucap Bu Anara.
°°°°°°
Terlihat seorang penyanyi naik ke atas panggung untuk menghibur mereka semua.
Alan kembali bergabung bersama dengan keluarganya. Mereka tampak lengkap dengan berpasangan. Hanya Alan sendiri yang tidak ada pasangannya.
Setelah penyanyi itu selesai menyanyi, terdengar musik yang di putar untuk mengiringi mereka yang akan berdansa.
"Mah, Adel titip Raffa ya, mau dansa nih," Adelia memberikan Raffa yang tadi ada di pangkuannya, kepada ibunya.
"Baik, kalian anak muda bersenang-senanglah! Biar Papah dan Mamah jadi penonton disini," ucap Bu Anara.
"Mah, memangnya kita tidak dansa juga?" Pak Andika bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
"Nanti saja, Pah. Biarkan yang muda yang berdansa."
Beberapa tamu yang hadir mulai berdansa.
Alan yang sedang duduk bersama orang tuanya, dia mendengar ada yang memanggil namanya dari arah belakang. Saat dia menoleh, ternyata sekretarisnya yang datang dan mengajak berdansa. Akhirnya Alan pergi ke depan untuk berdasa.
Saat berdansa dan bertukar pasangan, kini Alan berpasangan dengan wanita asing yang dia juga tidak tahu siapa dia, karena wajahnya bertopeng. Sejak tadi Alan menatap lekat kedua mata wanita itu.
Deg deg
Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak tak menentu, saat dia sedekat itu dengan wanita cantik yang bertopeng itu. Jika di lihat dari penampilannya, wanita itu sangatlah masuk ke dalam kriteria pasangan Alan.
"Bolehkah buka topengmu sebentar? Aku penasaran dengan wajah cantikmu," ucap Alan kepada wanita yang sedang berdansa dengannya.
"Tidak," ucapnya.
Eva yang sedang berdansa dengan suaminya, sesekali dia menatap ke arah Alan. Dia tahu siapa wanita yang sedang berdansa dengan adiknya itu.
Baru juga lima belas menit berdansa, wanita itu pergi begitu saja.
"Hey mau kemana?" Alan hendak mengejar wanita itu, namun Pak Andika menahannya.
"Alan, jangan pergi! Ini pestamu loh," ucap Pak Andika.
"Tapi dia .... " Alan menunjuk ke arah wanita itu yang langkahnya sudah menjauh.
"Siapa? Tidak ada siapa-siapa," Pak Andika menoleh ke arah pandang Alan.
__ADS_1
Alan menghela napasnya, belum juga dia kenalan dengan wanita yang mampu membuat hatinya berdebat, kini wanita itu entah pergi begitu saja.