
Vanesa merasa tak suka karena benerapa minggu ini suaminya bolak-balik pergi ke rumah Aldi untuk menemui anaknya. Vanesa tahu jika Andika sebenarnya sedikit menyimpan kekaguman terhadap Anara. Dia takut jika suatu saat Andika meninggalkannya karena dia sudah tidak mencintainya.
Vanesa melihat suaminya yang sedang bercermin sambil merapihkan rambutnya.
"Mau kemana, Mas?" tanya Vanesa.
"Aku mau pergi mengunjungi Adel," ucapnya.
"Kamu kok sekarang kurang perhatian sama aku? Bahkan saat hari libur juga kamu hanya sibuk mengurusi anakmu itu," ucap Vanesa.
"Bukankah kamu juga mengijinkannya?" Andika mengalihkan arah pandangnya. Dia menatap istrinya yang sedang duduk di pinggiran ranjang.
"Tapi sekarang kamu beda. Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama Anara," ucap Vanesa penuh curiga.
"Buang pemikiranmu yang tidak-tidak itu! Lagian kita sama-sama sudah punya pasangan. Lebih baik kamu bersiap, kita pergi bersama mengunjungi Adel."
"Ogah, aku mau shopping saja," Vanesa beranjak dari duduknya. Lalu dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan.
Setelah selesai bersiap, Andika berpamitan kepada istrinya. Dia segera pergi ke rumah Aldi untuk mengunjungi anaknya.
Andika sudah sampai di rumah Aldi. Dia melihat Baby Adel sedang main di depan rumah di temani oleh Anara. Andika turun dari mobilnya, lalu dia segera mendekati anaknya.
"Anak Papah pintar sekali, main di temani Mamah," Andika menggendong Baby Adel. Lalu menciumi kedua pipinya. Baby Adel tampak girang saat di perlakukan seperti itu oleh Andika.
"Ayo masuk, Kak!" ajak Anara.
"Oke," Andika mengikuti Anara masuk ke rumah.
Andika menurunkan Baby Adel di atas sofa. Lalu dia juga duduk disana.
Anara pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk Andika.
Andika melihat Anara yang datang dengan membawa nampan berisi satu gelas orange jus dan satu toples makanan ringan.
__ADS_1
"Silahkan minum dulu!" Anara meletakan gelas dan toples itu di meja depan Andika.
"Iya, terima kasih," ucap Andika.
"Sama-sama," jawab Anara.
Anara pergi ke dapur untuk menaruh nampan. Lalu dia memilih untuk menghampiri suaminya di kamar.
Anara melihat suaminya sedang melipat lengan kemeja yang dia kenakan.
"Kak, mau kemana?" tanya Anara.
"Mau ke cafe cabang nih, kebetulan ada sedikit masalah disana," ucapnya.
"Yah, padahal ini hari minggu loh," Anara mengerucutkan bibirnya.
Aldi mendekati istrinya lalu merengkuh pinggangnya. Aldi mencium kening istrinya, pipi kanan dan kiri, bibir, yang terakhir dia mencium perut istrinya dari balik pakaian.
"Aku juga ingin sekali main sama kalian, tapi beneran loh ini harus pergi," ucapnya.
"Siap, sayang." Aldi kembali membenarkan posisinya berdiri. Lalu dia mengajak istrinya keluar dari kamar.
Aldi melihat Andika yang sedang asyik bermain bersama Baby Adel.
"Sayang, sekarang Kak Dika berubah yah. Jadi lebih penyayang, apalagi sama Adel," ucap Aldi kepada istrinya.
"Iya, Kak. Mungkin Kak Dika menginginkan seorang anak."
"Kamu ijinkan deh sesekali Andika membawa Adel pulang dengannya walaupun satu hari."
"Bagaimana yah, aku masih khawatir,"ucap Anara.
"Ya sudah, mungkin kamu memang sulit berpisah dengan Adel, walaupun hanya sehari."
__ADS_1
Anara hanya tersenyum tanpa menimpali perkataan suaminya.
Anara sebenarnya sudah mempercayai Andika yang terlihat sangat menyayangi anaknya. Namun jika untuk mengijinkan Baby Adel sesekali tinggal bersama Andika, dia masih khawatir. Apalagi Vanesa yang tidak terlalu suka kepadanya. Takutnya malah melukai Baby Adel.
Aldi berpamitan dengan Anara dan Andika. Lalu dia segera pergi.
Anara menghampiri anaknya. Dia duduk tak jauh dari Andika. Anara melihat anaknya menunjuk-nunjuk sesuatu. Dia menatap mainan anaknya yang ada di atas meja. Dia hendak mengambilnya, namun bersamaan dengan Andika yang juga akan mengambilnya. Tak sengaja tangan Andika memegang tangan Anara.
"Maaf," ucap Andika sambil menjauhkan tangannya.
"Iya," ucap Anara.
Andika melanjutkan lagi bermain dengan anaknya. Namun dia melihat Anara yang sedang memegangi perutnya.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa kok," ucap Anara.
"Aku panggilkan Dokter yah?"
"Tidak usah, Kak. Kalau sakit seperti ini biasanya karena ingin di pegang oleh ayahnya."
"Aldi tidak ada, lalu bagaimana?"
"Nanti juga sembuh sendiri kok," ucap Anara.
Andika mendekati Anara lalu memegang perutnya.
"Maaf yah, aku hanya mencoba membantu," Andika mengelus perut Anara dari balik baju yang dia pakai. Namun hanya sebentar.
Andika kembali menjauh dari Anara. Sedangkan Anara merasa sedikit malu karena perutnya di pegang oleh Andika.
Anara memilih untuk pergi dari sana. Dia membiarkan anaknya bersama Andika.
__ADS_1
°°°°