Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.62


__ADS_3

Alan dan Kiara sudah pulang ke apartemen. Sedangkan Eva belum pulang, karena Reno mengajaknya singgah ke tempat favorit mereka, yang biasa mereka kunjungi.


Tiga puluh menit kemudian, Reno mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, satu tangan Reno menggenggam erat tangan Eva.


Sesekali Eva menatap Reno yang sedang fokus mengemudi.


"Ngapain lihatin aku?" tanya Reno.


"Memangnya tidak susah jika mengemudi dengan satu tangan?" tanya Eva.


"Asal bersama kamu, apa pun mudah," jawabnya.


Eva hanya tersenyum saat mendengar perkataan Reno.


Tak terasa sudah cukup lama mereka berada di perjalanan. Kini mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Reno memarkirkan mobilnya di depan deretan apartemen mewah. Sebelum turun dari mobil, Eva menatap Reno yang duduk di sampingnya.


"Mau mampir dulu tidak?" tanya Eva.


"Tidak, oh iya, jangan lupa nanti kamu langsung istirahat. Aku tidak mau tunanganku ini kecapaian," ucap Reno sambil membelai rambut panjang Eva.


"Siap, sayang. Aku pasti langsung istirahat kok," Eva tersenyum menatap Reno.


"Bagus," Reno mencubit gemas pipi Eva.


"Jangan cubit-cubit! Kalau begitu aku keluar dulu," Eva menjauhkan tangan Reno dari pipinya. Setelah itu dia membuka pintu mobil, dan langsung keluar.


Saat ini Eva sudah berada di depan apartemen. Dia langsung saja membuka pintu itu.


Eva mengedarkan pandangannya menatap ke depan. Terlihat sepi tidak seperti biasanya. Biasanya selalu terdengar suara televisi dari ruang depan. Karena Kiara selalu disana. Tapi kali ini Kiara tidak ada disana.

__ADS_1


Eva berniat mengecek Kiara ke kamarnya.


Tok tok


"Kia, kamu ada di dalam?"


"Iya, Kak. Sebentar!" jawabnya dari dalam.


Kiara membukakan pintu kamarnya.


"Kakak sudah pulang?"


"Iya nih, kamu lagi ngapain di kamar?"


"Aku sedang menonton televisi, Kak."


"Kok tumben lihat di kamar, biasanya kamu menonton televisi di ruang depan," ucap Eva.


"Kamu ada masalah sama Alan?"


"Tidak ada, Kak." jawabnya.


"Syukurlah, aku kira kalian sedang ada masalah. Ya sudah, aku mau ke kamar dulu," ucap Eva.


Setelah mengatakan itu, Eva segera pergi dari sana.


Setelah kepergian Eva, Kiara juga keluar dari kamar. Dia hendak ke dapur untuk mengambil minum. Sesampainya di dapur, ternyata disana ada Alan yang sedang membuka kulkas sambil berteleponan. Dari nada bicaranya seperti mesra sekali.


"Siapa yang telponan dengan Alan? Kenapa mereka terlihat akrab sekali?" gumam Kiara.


Kiara tetap pergi ke dapur. Dia mencoba cuek dengan keberadaan Alan.

__ADS_1


Kiara yang sedang minum, sedikit mendengarkan pembicaraan Alan.


📞"Baiklah aku akan segera kesana," ucap Alan lalu segera mematikan panggilan teleponnya.


Alan berlalu pergi dari dapur. bahkan dia mengabaikan keberadaan Kiara. Dia sama sekali tidak bertanya kepadamya.


'Lebih baik aku mengikuti Alan,' batin Kiara.


Kiara kembali ke kamar untuk mengambil keperluan yang dia bawa.


Saat Kiara kembali membuka pintu, dia melihat Alan keluar dari apartemen. Kiara juga cepat-cepat keluar karena takutnya kehilangan jejak. Dia bisa mengira jika Alan pergi ke parkiran dulu untuk mengambil mobil.


Kiara pergi ke depan untuk mencari taxi. beruntung ada taxi yang lewat, dan Kiara langsung masuk ke dalam taxi.


"Kita mau kemana, Nona?" tanya sopir taxi.


"Sebentar, Pak." ucap Kiara sambil menatap ke depan.


Terlihat mobil yang di kendarai oleh Alan, keluar dari gerbang depan.


"Pak, kita ikuti mobil itu!" pinta Kiara sambil menunjuk mobil Alan.


"Baik, Nona." jawabnya.


Sudah tiga puluh menit Kiara mengikuti mobil Alan. Untung saja Alan sama sekali tidak merasa curiga jika dia di ikuti dari belakang. Kiara melihat mobil Alan berhenti di depan rumah mewah. Lalu dia meminta sopir taxi untuk menghentikan mobilnya dengan jarak beberapa meter dari mobil Alan.


Kiara melihat seorang wanita yang keluar dari gerbang rumahnya. Lalu wanita itu menghampiri Alan. Terlihat jelas sekali jika itu Nela.


'Ternyata Alan masih berhubungan dengan Nela. Baiklah, mungkin aku yang harus mundur. Aku tidak mau terus berharap, tapi yang di harapkan hanya harapan palsu,' batin Kiara sambil menyeka air matanya yang menetes.


"Pak, kita putar balik. Kita kembali ke apartemen tadi," pinta Kiara.

__ADS_1


"Baik, Nona." sopir taxi itu segera tancap gas, lalu kembali mengemudikan mobilnya keluar dari kompleks perumahan itu.


__ADS_2