
Terlihat Eva yang baru keluar dari kamar. Dia sudah terlihat rapih, karena niatnya akan pergi.
Eva melihat Kiara yang sedang duduk sendirian, lalu dia menghampirinya.
"Kia, Kakak mau pergi dulu ya," ucap Eva.
"Mau kemana, Kak? Sekarang jam tujuh malam loh."
"Mau pergi sama Reno "
"Oh Kaka mau kencan. Pantas saja sudah cantik sekali penampilannya," Kiara memuji penampilan Eva.
"Harus dong, oh iya nanti kunci pintu saja ya. Kalau Kakak pulang, nanti Kakak bisa telpon Alan buat bukain pintu."
"Baik, Kak." jawabnya.
Kiara mengikuti Eva hingga ke depan pintu. Setelah Eva keluar, Kiara segera mengunci pintunya.
Kiara memilih untuk pergi ke kamar, karena di rumah itu hanya ada dia dan Alan. Jadi di dalam kamar saja itu lebih baik.
Kiara yang sedang berada di kamar, dia ingin keluar lagi. Padahal di kamar dia sedang menonton televisi, namun entah kenapa dia inginnya menonton televisi yang ada di ruang depan.
Kiara yang baru menutup pintu kamarnya, melihat Alan yang sedang duduk sendirian di ruang depan. Sebenarnya dia enggan untuk menghampirinya. Tapi jika dia kembali ke kamar, dia tidak akan tidur tenang jika keinginannya itu tidak terpenuhi.
Alan melihat Kiara yang kini mendekatinya, dan duduk di depannya.
"Ngapain kamu kesini?"
"Aku hanya ingin menonton televisi," jawabnya.
"Bukankah di kamarmu juga ada televisi?"
"Maunya nonton disini."
"Bilang saja mau dekat-dekat aku," ucap Alan dengan pedenya.
Kiara langsung menyalakan televisi. Dia terlihat serius menatap layar televisi itu.
Alan kembali memainkan ponselnya. Dia mengabaikan Kiara yang kini duduk di depannya.
Baru beberapa menit duduk disana, Kiara merasa lapar. Dia pergi ke dapur untuk mengambil apa pun yang bisa dia makan.
Kiara mengambil puding yang ada di dalam kulkas. Lalu dia membawa puding itu ke depan.
"Kamu mau?" Kiara menawari Alan.
"Tidak," jawabnya.
__ADS_1
Dalam hitungan menit, Kiara menghabiskan semua puding itu. Alan yang duduk di depannya sampai heran.
Kiara kembali ke dapur untuk menaruh piring yang sudah kosong. Lalu dia kembali mencari makanan yang bisa dia makan lagi. Kiara mengambil kue bolu.
Alan melihat Kiara yang sudah kembali, dan dia membawa makanan lagi.
"Kamu kok rakus amat, tinggal disini cuma habisin makanan saja," ucap Alan sambil menatap Kiara.
Kiara mendengus kesal mendengar perkataan Alan.
"Aku sedang hamil loh, masa aku biarkan saja jika kelaparan. Nanti anakmu kenapa-napa."
"Anakku?"
"Iya anakmu, masa lupa sama anak sendiri. Memang yah kalau cowok itu mau enaknya sendiri. Giliran hamil tidak di akui," sindir Kiara
"Mulai berani ya sekarang," Alan beranjak dari duduknya. Lalu dia mendekati Kiara.
Kiara merasa risih karena jarak antara dia dan Alan sangat dekat.
"Ngapain kamu dekat-dekat?" Kiara merasa panik. Dia takut jika Alan berbuat macam-macam.
Alan asyik memandang wajah Kiara dari jarak dekat.
'Enaknya ini orang di apain ya,' batin Alan.
Kiara hendak pergi dari sana, namun Alan menahan tangannya.
Alan melepaskan tangannya, lalu dia tertawa.
"Hahahahaha ... Gayanya so berani, tapi giliran di dekati saja sudah takut duluan."
Kiara langsung pergi dari sana. Dia kembali ke kamarnya.
••••••
Menjelang jam makan siang, Adelia sudah siap dengan penampilannya. Dia juga sudah menyiapkan makan siang yang akan di bawa ke kantor. Kebetulan Adelia akan membawakan makan siang untuk suaminya. Namun suaminya tidak tahu jika dia akan datang.
Dengan menggendong baby Raffa, Adelia melangkah keluar rumah. Kebetulan taxi online yang dia pesan sudah datang.
Saat ini Adelia sudah berada di dalam taxi. Sepanjang jalan dia mengajak anaknya bicara, dan menyuruhnya untuk memandang keluar, melihat bangunan indah menjulang tinggi.
Raffa memang belum bisa bicara jelas, namun sudah mengerti apa yang ibunya katakan.
Tak terasa sudah cukup lama di perjalanan, kini Adelia sudah sampai di depan kantor suaminya.
Setelah membayar, dia segera turun dari taxi.
__ADS_1
Adelia melangkah memasuki kantor suaminya. Beberapa karyawan Rian yang melihatnya, langsung saja menyapanya. Adelia juga membalas sapaan mereka dengan ramah.
Adelia memasuki lift menuju ke lantai paling atas.
Ting
Pintu lift terbuka, Adelia segera keluar. Dia melangkah menuju ke ruangan suaminya.
Saat ini Adelia sudah berdiri di depan pintu. Kebetulan pintunya tidak tertutup rapat. Adelia melihat seseorang yang sedang mengobrol dengan suaminya. Namun karena posisi wanita itu membelakanginya, Adelia tidak melihat wajahnya.
"Sudahlah Clarissa, lagian masa lalu kita tidak penting. Sekarang kita sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing."
"Aku dan suamiku sedang tidak harmonis. Dia selalu sibuk bekerja, dan aku kesepian. Kalau mau, aku mau ajak kamu pacaran lagi seperti dulu," ucap Clarissa.
"Apa maksud semua ini?" Adelia membuka lebar pintu ruangan suaminya.
Kedua orang yang sedang mengobrol, mereka menoleh ke sumber suara.
"Baguslah kalau kamu datang, Del. Ini loh suami kamu ini mantanku. Lebih tepatnya mantan terindah," ucap Clarissa.
"Sudah mantan kan, tidak masalah. Buanglah mantan para tempatnya. Begitu kan, Mas." ucapnya sambil menatap suaminya.
"Benar, sayang. Mas tidak akan memungut mantan."
"Aku cukup terkejut saat tahu bahwa Kak Clarissa ini mantan dari suamiku. Namun sepertinya Kak Clarissa mendekati aku karena ada maunya. Pasti itu karena Kak Clarissa mau mendekati suamiku," Adelia menatap Clarissa penuh curiga.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" Clarissa berdiri dari duduknya. Dia melipat kedua tangannya di dadanya.
"Aku yakin Kak Clarissa itu sebenarnya orang baik. Hanya saja Kak Clarissa terlalu terobsesi dengan suamiku."
"Suami kamu itu masih sama seperti dulu. Aku jadi penasaran, apa dia masih pandai di atas ranjang seperti dulu. Bahkan aku sampai menjerit-jerit."
Adelia menatap tajam suaminya.
"Jadi Mas Rian sudah pernah melakukan itu dengan Kak Clarissa?"
"Tidak, sayang. Kamu jangan percaya omongan dia," ucap Rian.
"Ah sepertinya mau perang dunia, aku pergi dulu deh." Clarissa langsung melangkah pergi dari sana.
Adelia masih berdiri di tempatnya sambil menatap tajam ke arah suaminya.
"Sayang, kamu jangan percaya sama dia. Dia itu berbohong."
"Kenapa Mas Rian tidak pernah bilang kalau Kak Clarissa itu mantan?"
"Maaf, sayang. Mas hanya tidak mau jika kamu cemburu."
__ADS_1
"Ngapain aku cemburu sama mantan?" Adelia melangkah mendekati sofa yang ada di ruangan itu, lalu dia duduk di sana.
Rian menghampiri istrinya, lalu menjelaskan semuanya tentang masa lalunya bersama Clarissa. Lagian sekarang dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan Clarissa.