Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.61


__ADS_3

Ternyata Dokter melarang Anara untuk bertemu Aldi. Tentu itu atas permintaan Bu Sinta.


Bu Sinta sengaja meminta Dokter mengatakan itu kepada Anara. Bu Sinta takut jika Anara kenapa-napa saat tahu yang sebenarnya.


Anara sejak tadi menekuk wajahnya. Dia merajuk karena tidak di perbolehkan untuk bertemu dengan Aldi.


Bu Sinta merasa sangat lapar. Dia keluar sebentar untuk mencari makan. Andika menyuruh Ibunya untuk membawa Baby Adel dan juga mengajak Ani.


Anara menatap Andika saat hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


"Kak, ayo pertemukan aku sama Kak Aldi," ucap Anara.


"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu. Namun kamu harus berjanji satu hal denganku," Andika menatap Anara dengan serius.


"Apa itu?"


"Apa pun yang terjadi, kamu jangan down. Kamu harus ingat jika ada anakmu yang membutuhkanmu di sampingnya."


"Kenapa Kak Dika berbicara seperti itu seolah ada sesuatu hal besar yang terjadi?" tanya Anara.


"Janji dulu," pinta Andika.


"Baiklah,"Anara tersenyum menatap Andika.


"Sebentar, aku mau meminjam kursi roda dulu," setelah mengatakan itu Andika pergi keluar dari ruangan itu.


Andika sudah kembali dengan membawa kursi roda. Dia menyuruh Anara untuk duduk disana.


Andika mendorong kursi roda yang di naiki Anara menuju ke ruangan yang di tempati oleh Aldi.


Andika menghembuskan napasnya perlahan sebelum dia membuka pintu ruangan di depannya.


Anara bisa melihat suaminya sedang terbaring dengan bantuan alat-alat medis. Anara menatap Andika yang sedang mendorong kursi rodanya.

__ADS_1


"Kak Dika kenapa? Kenapa dia terbaring disana dengan alat-alat medis itu?" tanya Anara yang tak bisa lagi menahan tangisnya.


"Kamu ingatkan apa yang aku katakan tadi," Andika mengusap air mata yang menetes di sudut mata Anara.


Anara menganggukan kepalanya. Sekuat tenaga dia akan berusaha untuk tegar.


"Sudah, jangan menangis lagi!" Andika mengusap pelan punggung Anara.


Anara sudah ada di dekat suaminya. Dia memegang tangan suaminya lalu menciumnya.


"Kak, kenapa jadi seperti ini?Maafkan aku, jika saja Kak Aldi tidak menyelamatkanku, mungkin tidak akan seperti ini," sejenak Anara menghentikan perkataannya.


"Anak kita sudah lahir loh. Cepat bangun, Kak! Nara bingung mau memberi nama siapa untuk anak kita."


Andika masih terus mengusap punggung Anara. Dia tahu jika perasaan Anara saat ini pasti begitu hancur.


"Kita keluar yuk cari udara segar," Andika mencoba untuk mengajak Anara pergi dari sana. Dia tidak tega melihat Anara yang terus menangis.


"Aku tidak mau, aku mau disini saja."


"Menurutlah!"


"Iya," Anara berusaha untuk menguatkan diri. Mungkin dengan menenangkan diri, akan hilang sedikit rasa sedihnya.


Andika mengajak Anara pergi ke taman rumah sakit.


°°°


Bu Sinta sudah kembali ke ruang inap Anara. Namun tidak melihat siapa pun di ruangan itu.


'Kemana Anara? Apa dia pergi bersama Andika? Tapi kemana mereka?' batin Bu Sinta.


Bu Sinta juga sudah mengeceknya di toilet. Namun Anara tidak ada disana. Lalu Bu Sinta mencoba untuk menghubungi nomor Andika. Ternyata Andika mengatakan jika saat ini sedang ada di taman.

__ADS_1


Setelah selesai bertelfonan dengan Ibunya, Andika mengajak Anara kembali masuk. Kebetulan Anara juga sudah terlihat lebih tenang.


Bu Sinta melihat Anara dan Andika yang sudah masuk ke ruangan itu.


"Kalian ngapain ke taman? Kamu jenuh yah, Nar?" tanya Bu Sinta.


"Iya, Mah. Aku jenuh karena di sini terus."


Bu Sinta menatap wajah Anara yang terlihat sembab.


"Kamu kenapa? Kok seperti habis menangis?" tanya Bu Sinta.


"Aku tidak apa-apa kok, Mah." ucapnya.


Bu Sinta beralih menatap Andika yang berdiri di belakang Anara.


"Dika, kamu apakan Anara?" tanya Bu Sinta.


"Tidak ngapa-ngapain, Mamah curigaan sekali sih sama aku."


"Syukurlah, Mamah hanya takut kalau kamu berbuat macam-macam."


"Tidak kok, Mah." ucap Andika.


Ucapan mereka terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar. Andika membuka pintu dan melihat kedatangan Pak Indra. Dia mempersilahkannya untuk masuk.


Ternyata Pak Indra datang untuk meminta maaf kepada Anara dan Bu Sinta atas perbuatan Vanesa.


"Bangunlah, Pah. Papah tidak perlu berlutut seperti ini," ucap Anara.


"Tapi, apa kamu mau memaafkan Vanesa, Nak?" tanya Pak Indra.


"Iya, Pah. Aku sudah memaafkannya," ucap Anara.

__ADS_1


Bu Sinta juga berusaha untuk memaafkan Vanesa, walaupun kelakuannya sudah keterlaluan. Tapi biar bagaimana pun, dia dan Pak Indra sekarang sudah menjadi satu keluarga, jadi tidak baik jika menyimpan dendam.


°°°°


__ADS_2