Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.70


__ADS_3

Bu Sinta bersantai sambil menjaga ke dua cucunya. Dia melihat Andika yang sudah kembali masuk ke rumah.


“Dika, Mamah mau bicara sama kamu,” ucap Bu Sinta kepada anaknya.


“Bicara apa, Mah?” tanya Andika.


“Sinih duduk dekat Mamah,” pinta Bu Sinta.


Andika menurut, dia duduk di sebelah Ibunya.


“Kamu suka yah sama Anara?” Bu Sinta langsung bertanya pada intinya.


Andika mengerutkan Keningnya. Dia heran kenapa Ibunya bertanya seperti itu.


“Kok Mamah tanya seperti itu?”


“Tadi kalian berpelukan, Mamah kira kalian lagi dekat,” ucap Bu Sinta.


“Jadi Mamah melihatnya?”


“Iya, tapi Mamah sengaja tidak menghampiri kalian. Takut mengganggu momen spesial kalian.”


“Mamah apaan sih, kita tidak sedekat itu. Lagi pula Anara masih mencintai Aldi, dia belum bisa move on.”


“Jadi kalau dia sudah move on, kamu mau mendekatinya?”


Andika mendekatkan wajahnya ke telinga ibunya.


“Sekalian aku nikahin, Mah. Lihatlah bentuk tubuh Anara setelah punya anak dua semakin menggoda.”


Plak


Bu Sinta memukul pelan tangan kiri anaknya.


“Kamu nih yah, niat nikahin cuma karena lihat bodynya hot. Awas loh kalau benar kalian jadi, jangan punya anak banyak-banyak. Kamu sepertinya membahayakan.”


“Mamah apaan sih? Yang namanya menikah ya biar punya anak.”


“Tapi Anara sudah punya anak dua loh.”


“Tapi kalau suami istri, apalagi pengantin baru pasti sukanya main di kamar terus, Mah. Kemungkinan besar ya punya anak. Sekalian nanti Andika buat dia hamil anak kembar.”

__ADS_1


Bu Sinta menatap anaknya yang sedang menghayal sambil senyum-senyum sendiri.


“Kalau ngarep jangan ke tinggian. Orangnya juga tidak mau sama kamu. Mending kamu main solo saja sanah,” ucap Bu Sinta, sambil menahan tawanya.


“Mamah ngejek keperkasaan anak sendiri, lihat tuh hanya sekali menanam benih saja langsung jadi Adel.”


“Iya deh, anak Mamah ini paling top urusan begituan.”


Terlihat Anara memasuki rumah. Dia melihat Andika dan Bu Sinta sedang asyik mengobrol.


“Ekhm, lagi ngobrolin apaan nih?” tanya Anara.


Bu Sinta dan Andika menghentikan obrolan mereka. Karena takut jika Anara mendengarnya.


“Tidak kok, cuma mengobrol biasa saja,” ucap Bu Sinta sambil tersenyum menatap Anara.


Setelah kedatangan Anara disana, Andika langsung berpamitan pulang. Karena memang dia masih punya urusan di luar.


🍀🍀🍀


Setiap pagi Andika selalu mengantar Anara pergi ke cafe. Dia sama sekali tidak keberatan. Tapi malah senang karena setiap hari bisa dekat dengan Anara. Di antara keduanya juga tidak ada lagi kecanggungan. Apalagi saat Andika tiba-tiba menggandeng tangannya di tempat umum. Anara mengira jika itu sebuah perlakuan dari Kakak ke adiknya, karena dia teringat perkataan Andika yang meminta peluk atas dasar adik kakak.


Saat ini Andika sedang menghentikan mobilnya di depan cafe. Karena kebetulan dia mengantar Anara. Memang hari ini hari libur, namun cafe tetap buka.


Anara melangkahkan kakinya memasuki cafe. Namun dia mendengar suara ribut-ribut dari salah satu meja.


“Ada apa ini?” tanya Anara sambil mendekati karyawannya yang sedang berdiri di depan pelanggan yang sedang komplain.


“Ini Bu, ada sedikit kesalahan. Makanan Mas ini tidak sesuai pesanan.” ucapnya.


“Kok bisa, siapa yang tadi melayani disini?”


“Mbak Dinda,” ucapnya.


“Baiklah, kamu boleh pergi! Biar saya yang urus.” Lalu Anara duduk di kursi depan pelanggan lelaki itu.


“Maaf atas keteledoran bawahan saya, silahkan Kakak pesan lagi. Ini daftar menunya,” Anara memberikan daftar menu yang ada di atas meja.


Sejenak lelaki itu memperhatikan Anara, karena merasa jika wajahnya tidak asing.


“Maaf Nona, apa sebelumnya kita pernah bertemu?”

__ADS_1


“Sepertinya tidak,” ucap Anara.


“Tapi Nona ini tidak asing bagi saya, mirip seperti adik kelas saya dulu yang bernama Anara.”


“Anara siapa? Nama saya Anara,” ucapnya.


“Benarkah Anara putri?”


Anara menganggukan kepalanya.


“Wah beda sekali saat SMP dulu badannya rata, paling di ejek di kelas.”


“Jangan-jangan kamu .. “ Anara menutup mulutnya karena terkejut.


“Saya Rian, yang selalu gangguin kamu di sekolah. Ha ha ... Saya jadi ingin ketawa.”


“Oh, jadi kamu ketua osis yang nyebelin itu.”


“Eits jangan salah, lelaki tampan sepertiku di katain nyebelin. Sekarang malah banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihku. Bahkan mereka rela hanya sekedar menjadi teman kencan di atas ranjang.”


“Wah wah, secara tidak langsung mengakui diri sendiri sebagai cassanova. Tapi saya sih tidak tertarik. Kak Rian biasa saja ah, nyebelin sih.


“Bilang ah tidak usah mende*sah juga kali.”


“Astaga benar-benar cowok nyebelin masih tetap nyebelin. Cepat sebutkan mau pesan apa! Biar saya cepat pergi dari sini.”


“Saya mau pesan susu cap nona,” ucapnya, namun sambil memperhatikan dada Anara.


“Hey kamu lihatin apa? Awas yah nanti aku sunat lagi loh,” ucap Anara.


“Pelit amat Nona, saya pesan minum saja deh. Terserah apa saja.”


“Baiklah, saya akan ambilkan air putih saja. Jangan lupa bayarnya seratus ribu.”


“Astaga mahal amat,” gumamnya.


Anara pergi dari hadapan Rian.


Rian masih memperhatikan kepergian Anara. Terlihat senyum mengembang di sudut bibirnya.


‘Anara boleh juga,’ batin Rian.

__ADS_1


°°°°°°°°


Saingan baru dik 🤣


__ADS_2