Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.71


__ADS_3

Baru dua jam Anara berada di cafe. Saat ini dia sedang fokus menatap layar laptopnya.


Tring tring


Ponsel milik Anara yang ada di atas meja berbunyi. Anara menatap layar ponselnya. Ternyata itu panggilan masuk dari Bu Sinta.


Anara mengangkat panggilan itu. Bu Sinta menyuruh Anara untuk pulang, karena saat ini Adelia tiba-tiba demam.


Anara membereskan meja kerjanya. Lalu dia segera pergi.


Beberapa karyawan yang melihat Anara pergi, merasa aneh. Karena tidak biasanya dia pulang secepat itu.


Anara menunggu taxi online yang dia pesan tepat di depan cafe. Tak lama, taxi itu datang dan Anara langsung menyuruh supirnya mengemudi dengan cepat.


Kini Anara sudah sampai di depan rumah. Dia segera turun dari taxi dan berjalan tergesa-gesa menuju ke rumah.


"Adel sayang, Mamah pulang," Anara berteriak dari depan rumah. Lalu dia segera membuka pintu.


Anara melihat Andika yang sedang menggendong Adelia. Dia mendekatinya dan melihat keadaan anaknya.


"Adel deman dari kapan, Kak?" tanya Anara.


"Kata Mamah sih baru satu jam, tadi aku juga bergegas pulang dari kantor karena khawatir," ucap Andika.


"Terima kasih ya, Kak. Kakak sangat perhatian sama Adel."


"Itu sudah menjadi kewajibanku, karena dia anakku."


"Ini tidurnya sudah lama?" Anara menatap anaknya yang sedang tidur di gendongan Andika.


"Belum lama sih, tapi kalau di lepasin dia menangis."


"Kasihan dong Kak Dika pasti kecapean. Biar sama Nara saja," Anara meminta Andika untuk memberikan Baby Adel yang ada di gendongannya.


"Lebih baik kamu urus dulu saja hal yang lain mumpung Adel masih tidur." ucap Andika.


"Baik deh, aku mau urus Eva dulu. Nanti kalau Kak Dika cape, bilang saja sama Nara."

__ADS_1


"Siap, sayang." ucapnya sedikit lirih.


"Kak Dika bicara apa tadi?" Anara mencoba menajamkan pendengarannya. Takutnya jika dia salah dengar.


"Tidak, mungkin kamu saja yang salah dengar."


"Masa sih?" Anara masih memikirkan suara samar-samar yang dia dengar. Tapi mungkin itu hanya halusinasinya saja. "Baiklah, aku pergi." Anara segera pergi dari sana.


Andika tersenyum sambil menatap kepergian Anara.


Cukup lama Andika menggendong Baby Adel. Dia merasa sedikit pegal-pegal.


"Bobo di kasur saja ya sayang," Andika mengecup singkat kening anaknya. Lalu dia membawanya menuju ke kamar.


Anara baru keluar dari kamarnya. Dia tidak melihat keberadaan Andika. Lalu dia membuka kamar Adelia. Dia melihat Andika sedang berbaring di atas ranjang sambil memeluk anaknya.


Anara tersenyum menatap kedekatan anak dan ayahnya. Lalu dia kembali menutup pintu itu karena tidak mau mengganggu mereka.


Bu Sinta melihat Anara yang baru menutup pintu.


"Nara, dimana Adel?"


"Syukurlah, mungkin itu anak merindukan sosok Papahnya di sampingnya. Kamu harus memikirkan itu loh. Kasihan kalau mengurus anak sendirian."


"Iya, Mah. Nanti Nara akan memikirkannya," ucap Anara.


"Jangan menjadi beban pikiran, Nak. Karena mencari pasangan juga harus benar-benar yang mau menerima kamu dan anak-anakmu."


"Iya, Mah. Semoga saja di pertemukan." ucap Anara.


'Semoga saja kamu berjodoh dengan Andika, Nak.' batin Bu Sinta sambil menatap Anara.


°°°


Hari ini Anara memilih untuk tidak pergi ke cafe. Karena dia mau menemani anaknya yang masih demam.


"Nesa, bagaimana keadaan Adel?" tanya Bu Sinta. Kebetulan Bu Sinta baru keluar dari kamar tamu. Karena semalam tidur disana.

__ADS_1


"Sudah mendingan, Mah. Tidak seperti kemarin."


"Andika sudah bangun belum?"


"Belum, Mah. Masih di kamar sama Eva."


"Dika tidur sama Eva?"


"Iya, Mah." ucap Anara.


Bu Sinta tersenyum senang karena Andika sudah mulai dekat dengan Eva. Padahal Eva bukan anak kandungnya.


"Mending kamu bangunin," pinta Bu Sinta.


"Baik, Mah." Anara berlalu pergi ke kamar Adelia yang saat ini di tempati oleh Andika dan Eva.


Anara sudah ada di dalam kamar. Dia mendekati Andika, lalu membangunkannya.


"Eughh ... " Andika memegang erat tangan Anara yang ada di pipinya. Memang tadi Anara mencoba nepuk pelan pipi Andika, namun tangannya malah di pegang erat.


"Kak bangun," Anara kembali menepuk pipi Andika dengan tangan yang satunya.


Andika mengerjapkan kedua matanya. Yang pertama dia lihat itu Anara yang sedang berdiri di samping ranjang. Lalu Andika menatap tangannya yang sedang memegang tangan Anara.


"Maaf, " Andika segera melepaskan tangan Anara.


"Tidak apa-apa, aku hanya mau membangunkan Kak Dika," ucapnya.


"Terima kasih," ucap Andika.


"Untuk?"


"Karena sudah membangunkanku."


"Tidak masalah, lagian aku sekalian mau melihat Eva."


Hanya sebentar Andika mengobrol bersama dengan Anara. Dia memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Anara membangunkan anaknya, namun Eva belum juga bangun. Akhirnya dia menggendongnya dan membawanya keluar dari kamar itu. Anara akan memindahkan Eva ke kamarnya.


••••


__ADS_2