
Anara melihat suaminya yang baru pulang dari cafe. Dia menghampirinya untuk menyambutnya.
"Kak Aldi, baru pulang?"
"Iya nih, sayang. Cape sekali nih," ucapnya.
"Mau Nara pijitin tidak?" Anara menawarkan diri untuk memijat suaminya.
"Boleh, kita langsung ke kamar saja," Aldi menggandeng tangan istrinya, lalu mengajaknya pergi ke kamarnya.
Anara mulai memijat suaminya. Pikirannya berkelana entah kemana. Dia ingin bicara semua kebenaran mengenai ayah kandung dari Baby Adel. Namun dia ragu, dia takut jika suaminya marah.
Lebih baik aku bicara nanti malam saja,' batin Anara.
"Kak Aldi, ada yang mau Nara bicarakan," ucap Anara.
"Bicaralah!" pinta Aldi.
"Nanti malam saja ya! Lebih baik sekarang Kak Aldi mandi terus istirahat." kata Anara.
"Baiklah," ucap Aldi.
Setelah selesai memijat, Anara menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi. Lalu dia juga menyiapkan pakaian gantinya.
Lebih baik aku ke bawah saja bantuin Bibi masak,' Anara meletakan pakaian ganti suaminya di atas sofa. Lalu dia pergi keluar kamar.
Anara sudah berada di dapur. Ternyata Bi Inem baru akan memasak. Karena kebetulan tadi ijin mau ketemu sama anaknya di kontrakan.
"Bi, baru mau masak yah?" tanya Anara.
"Iya nih, non." jawab Bi Inem.
"Biar saya saja yang masak, Bi. Saya mau masak yang spesial untuk suami saya."
"Tapi non, Bibi tidak enak nih kalau tidak ngapa-ngapain. Bibi bantuin yah," Bi Inem meminta agar Anara mengijinkanya untuk membantu memasak.
"Tidak usah, Bi. Tolong ya!"
"Baiklah, Bibi akan mengerjakan pekerjaan yang lain saja," setelah mengatakan itu, Bi Inem pergi dari dapur.
Anara mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Kali ini dia akan memasak makanan kesukaan suaminya.
Anara merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Dia menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya itu suaminya.
"Kak Aldi, lepasin! Nara susah nih lagi masak," Anara mencoba melepaskan pelukan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah," Aldi menatap ke arah wajan, ternyata istrinya sedang masak makanan kesukaannya. "Wah, sepertinya enak, Mas tungguin nih," Aldi melepaskan pelukannya dari pinggang istrinya.
"Kak Aldi duduk saja sambil nungguin Nara," pinta Anara.
"Siap sayang," Aldi melangkah pergi menuju ke ruang makan. Dia duduk disana sambil menunggu istrinya selesai memasak.
Anara sudah selesai memasak. Dia memasukan ayam kecap kesukaan suaminya di piring bulat.
Aldi melihat istrinya membawa tempat nasi dan piring berisi lauk, lalu menaruhnya di atas meja. Setelah itu Anara kembali lagi untuk mengambil sup dan yang lainnya.
"Kak Aldi mau makan sekarang?" Anara menarik kursi di depan suaminya.
"Iya, sayang. Sepertinya lebih enak nih kalau masih hangat," kata Aldi.
"Tapi Nara belum mandi loh, masa makan dulu," Anara mencium bau asam dari pakaiannya.
"Tidak apa-apa, sayang. Masa kamu biarin suamimu ini makan sendirian sih," Aldi menatap istrinya dengan tatapan memohon.
"Baiklah," Anara menurut dengan suaminya.
Anara mengambil piring kosong yang ada di depan suaminya. Lalu dia memasukan nasi dan lauk.
"Silahkan!" ucap Anara sambil menatap suaminya.
"Terima kasih, sayang."
Kini keduanya fokus melahap makanan mereka. Anara merasa senang saat melihat suaminya begitu lahap memakan masakannya.
°°°
Saat ini Anara dan Aldi sedang berada di kamar. Anara sengaja mengajak suaminya masuk ke kamar lebih awal. Padahal baru pukul tujuh malam. Niatnya dia akan membicarakan semua kebenaran mengenai ayah kandung Baby Adel.
"Sayang, kamu mau bicara apa?" tanya Aldi yang kini duduk di sebelah istrinya.
Anara menghela napasnya, dia mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.
Semoga saja Kak Aldi mau mengerti,' batin Anara.
"Ini menyangkut ayah kandung Adel," kata Anara.
"Kamu sudah siap untuk memberitahukan ayah kandung Adel? Bukankah kamu berniat tidak akan memberitahukan ke siapa pun sebelum Adel berumur satu tahun?"
"Aku mau memberitahu Kak Aldi sekarang saja, karena Mamah Sinta juga sudah mengetahuinya."
"Mamah tahu? Kok Mamah tidak bilang ke aku?"
__ADS_1
"Mamah juga baru tahu," kata Anara, lalu dia kembali berucap. "Nara mohon yah, saat mendengar semua kebenaran ini, Kak Aldi jangan benci sama Nara. Kak Aldi jangan ninggalin Nara," terlihat Anara yang menundukan pandangannya.
"Bicaralah! Apa pun itu, aku siap menerimanya," Aldi memegang bahu istrinya dengan kedua tangannya.
Anara kembali menegakan arah pandangnya. Dia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Sebenarnya ayah kandung dari Adel itu Kak Andika," ucap Anara.
Spontan Aldi menurunkan tangannya dari bahu istrinya. Dia menatap lekat raut wajah istrinya. Sama sekali tidak terlihat kebohongan disana.
"Apa kamu yakin?"
"Iya, karena satu-satunya lelaki yang menyentuhku sebelum Kak Aldi ya itu Kak Andika," ucap Anara.
"Lalu, kenapa kamu tidak menikah saja sama Kak Dika?" tanya Aldi.
"Ceritanya panjang, Kak."
"Coba ceritakan semuanya! Aku tidak mau jika ada yang di tutup-tutupi di antara kita," pinta Aldi.
"Saat itu aku baru lulus sekolah. Aku ingin mencari kerja untuk memenuhi kehidupanku. Akhirnya aku di terima kerja di hotel milik Om Bram," Anara hendak melanjutkan perkataannya, namun Aldi memotongnya.
"Yang kamu maksud Om Bram itu ayahnya Ica?" tanya Aldi.
"Iya, benar. Yang aku maksud itu Om Bram ayahnya Ica. Saat itu aku baru kerja satu hari. Aku di suruh untuk pergi ke salah satu kamar, karena ada yang memanggil layanan hotel. Saat aku sampai di sana, ternyata penghuni kamar itu seorang laki-laki. Awalnya dia sedikit melecehkan*ku. Aku ingin pergi karena takut lelaki itu berbuat lebih. Namun aku boleh keluar asal aku mau menerima minuman yang dia kasih," sejenak Anara menjeda perkataannya.
"Setelah aku meminum minuman itu, badanku panas. Aku tidak tahu minuman apa yang membuatku seperti itu. Akhirnya lelaki itu mendekatiku lalu dia menodaiku. Aku tidak bisa memberontak karena efek minuman itu yang membuatku semakin merasa panas." jelas Anara.
"Apa saat itu kamu tahu jika dia Kakak ipar kamu?"
"Tidak, itu pertemuan pertama kami. Aku tahu dia calon suami Kakakku saat beberapa hari kemudian dia datang ke rumahku. Aku tidak mau merusak kebahagiaan Kakakku, jika aku bicara yang sebenarnya."
"Berarti saat itu kamu belum hamil?"
"Belum, aku ketahuan hamil saat Kak Nesa dan Kak Andika sudah menikah."
"Kenapa kamu mengorbankan diri sendiri? Harusnya kamu minta pertanggung jawaban saat itu juga," Aldi memeluk Anara lalu mengusap punggungnya. Dia menangis di pelukan istrinya.
"Aku tidak mau merusak kebahagiaan Kak Nesa. Lagian jika aku meminta pertanggung jawaban, belum tentu Kak Andika mau sama aku," ucap Anara.
"Aku semakin cinta sama kamu. Kamu begitu mulia, dan perduli perasaan saudara kamu sendiri," Aldi melepaskan pelukannya. Lalu dia menatap wajah istrinya. "Sekarang kamu tidak usah khawatir, karena aku sudah menerima kamu dan Adel. Aku sudah menganggap Adel seperti anakku sendiri."
"Tapi aku takut jika Kak Andika tahu Adel anaknya, dia akan merebutnya dariku."
"Aku tidak akan membiarkan itu, sayang. Kamu tenang saja," Aldi kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
Aku tidak menyangka jika Kak Dika tega melakukan hal itu kepada gadis yang masih belia seperti Anara,' batin Aldi.
°°°°