
Anara membawakan kopi untuk suaminya. Dia masuk ke kamar yang kebetulan pintunya tidak tertutup. Andika menatap istrinya yang sedang melangkah memasuki kamarnya.
“Terima kasih sayangku,” ucap Andika sambil tersenyum menatap istrinya.
“Sama-sama,” Anara menaruh kopi buatannya di atas meja.
“Tidak mau duduk dulu disini temani aku,” Andika menepuk-nepuk ranjang sebelahnya.
“Emm bagaimana yah, tapi Alan sendirian di kamar,” ucap Anara.
“Kamu suruh Ani dulu untuk jagain dia,” pinta Andika.
“Baiklah, kalau begitu aku mau panggil Ani dulu,” Anara melangkah keluar dari kamar itu.
Anara sudah berbicara kepada Ani, dan menyuruhnya untuk menjaga Alan. Setelah itu dia ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
‘Kok Nara hanya memanggil Ani saja lama sekali,’ batin Andika.
Andika melihat istrinya yang sudah kembali ke kamarnya. Terlihat sekali pakaian yang dia pakai sudah berbeda. Anara duduk di sebelah suaminya. Andika menggeserkan badannya agar dia duduk lebih menempel dengan istrinya.
Anara menatap suaminya yang sudah mendaratkan tangannya di pinggangnya.
"Apa sih Mas pegang-pegang?"
"Mau mesra-mesraan sama kamu," ucap Andika.
"Ada anak-anak tuh," Anara menunjuk ke dua anaknya yang sedang bermain.
"Tidak apa-apa, sayang. Mereka sedang sibuk sendiri, tidak mungkin melihat kita," ucap Andika
__ADS_1
"Ih ... " Anara menepuk tangan suaminya yang mengelus pahanya dari luar daster yang dia kenakan.
"Makin ribet saja kalau punya anak tiga, kita semakin jarang melakukan itu," ucap Andika dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Sabar, Mas. Lagian kamu sih giliran bikinnya semangat, tapi giliran ngurus mereka, malas-malasan," ucap Anara.
"Bukan seperti itu, sayang. Mas hanya sedikit cape."
"Memangnya cuma Mas Dika saja yang cape, aku juga cape loh." ucapnya.
"Sinih bersandar, nanti rasa capenya hilang," Andika menepuk-nepuk bahunya.
Anara tersenyum, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
"Harum sekali," Andika menghirup aroma rambut istrinya.
°°°°°°°°°°°°
Adelia dan Eva sudah tidur pulas. Anara berniat untuk kembali ke kamarnya.
"Mas, aku mau temani Alan tidur," ucap Anara.
"Baiklah, selamat malam," Andika mengecup singkat kening istrinya.
Anara keluar dari kamar itu. Dia akan pergi ke kamarnya untuk menemani Alan.
Cklek
Anara membuka pintu kamarnya. Dia melihat Ani yang sedang berbaring di samping Alan. Anara mendekati ranjang itu dan melihat Ani yang sudah tertidur disana.
__ADS_1
'Ani tidur disini? Lebih baik aku kembali saja ke kamar Mas Dika dan anak-anak.' Anara keluar lagi dari kamar itu.
Andika yang baru merebahkan diri di atas kasur, melihat pintu kamarnya terbuka. Dia melihat istrinya yang kembali masuk ke dalam.
Andika turun dari atas tempat tidur. Lalu dia mendekati istrinya.
"Sayang, kamu kok kembali lagi?"
"Iya, Mas. Ternyata Ani sudah tidur bersama Alan. Ya sudah aku tidur disini saja."
"Pintar, " Andika mengajak istrinya naik ke atas kasur.
Anara hendak tidur di sebelah Eva, namun Andika ingin istrinya tidur di sebelahnya. Andika sedikit menggeser Eva dan Adelia. Lalu dia meminta istrinya naik. Andika merebahkan diri di samping istrinya, lalu memeluknya.
Baru juga memejamkan mata, Anara merasakan geli karena tangan suaminya tidak mau diam.
"Mas, aku mau tidur nih, kamu jangan pegang-pegang," ucap Anara dengan sedikit berbisik. Karena dia takut jika ke dua anaknya terganggu.
Untuk beberapa menit Andika bisa diam. Namun tak lama, dia kembali usil kepada istrinya.
"Mas, aku tidak bisa tidur nih," Anara kembali membuka matanya.
"Sayang, pindah ke sofa yuk! Aku ingin," bisik Andika di telinga istrinya.
"Tapi nanti kalau anak-anak bangun bagaimana?"
"Kamu jangan bersuara, jadi mereka tidak akan bangun."
Andika dan Anara turun dari atas tempat tidur. Sesampainya di sofa, Andika melakukan apa saja yang dia mau. Dia sudah rindu menyentuh istrinya. Semenjak kehadiran Alan, mereka jarang tidur bersama. Karena Anara memakai daster rumahan, itu memudahkan Andika untuk melancarkan aksinya.
__ADS_1
°°°°°°°°°°