Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 23


__ADS_3

Beberapa rangkai acara di pertemuan bisnis itu sudah selesai. Semua yang hadir satu persatu keluar dari ruangan itu. Reno senang, karena dia bisa berkenalan dengan beberapa pengusaha yang sebelumnya belum dia kenal. Reno juga mengenalkan usaha barunya kepada mereka, dan juga mengenalkan Wijaya Group. Siapa tahu di antara mereka ada yang mau bekerja sama dengannya atau dengan perusahaan ayahnya.


Reno menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangan itu.


Reno melihat Adelia dan atasannya masuk ke salah satu ruangan. Kebetulan tadi dia mengikuti mereka. Reno memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan itu.


Tok tok


Tak lama, pintu itu di buka oleh lelaki yang merupakan atasan Adelia.


"Siapa kamu?" Lelaki itu bertanya kepada Reno.


"Saya perwakilan dari Wijaya Group, kebetulan tadi saya menghadiri acara pertemuan bisnis," jawab Reno sambil menatapnya.


Adelia yang mendengar kata Wijaya Group, dia mendekati sumber suara.


Adelia melihat Reno sedang berdiri di depan pintu, dan sedang mengobrol dengan atasannya.


"Kak Reno, Kakak disini?" kini Adelia sudah berdiri di dekat mereka.


"Iya, aku tidak menyangka kita akan bertemu disini," Reno menatap Adelia yang terlihat semakin cantik. Walaupun dia sudah tidak mengharapkan Adelia, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada rasa kagum.


"Aku ingin bicara sama Kak Reno," ucap Adelia, lalu dia menatap atasannya yang berdiri di sebelahnya.


"Pergilah!"


"Terima kasih, nanti aku kembali lagi," ucap Adelia.


Adelia mengajak Reno pergi ke tempat yang cocok untuk mengobrol.


Reno hanya menyimak semua perkataan Adelia. Dia tidak menyangka, Adelia mampu menutupi semua masalahnya dari semua orang. Padahal masalah itu begitu berat.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika kamu bisa sekuat itu menghadapi masalah sendirian."


"Aku hanya tidak ingin membuat semua orang kecewa, Kak."


"Tapi sudah cukup kamu menghadapi semuanya sendirian. Sekarang ikutlah denganku! Kita pulang, Del. Kasihan keluargamu yang sampai sekarang mencari keberadaanmu, terutama Bu Anara yang beberapa kali masuk rumah sakit karena kesehatannya menurun," ujar Reno.


"Mamah sakit?"


"Iya, karena terus memikirkan kamu."


"Tapi bagaimana dengan Eva? Aku tidak mau dia kecewa jika tahu aku sedang hamil."


"Semua orang sudah tahu, bahkan Eva dan Rian juga sudah berpisah," ucap Reno.


"Apa mereka berpisah karena masalah ini? Aku jadi merasa tidak enak, pasti Eva sangat kecewa karena berpisah dengan suaminya," Adelia masih memikirkan orang lain, walaupun dirinyalah yang merupakan korban yang harus menanggung beban berat.


"Jangan hanya pikirkan perasaan orang. Sesekali pikirkan kebahagiaan kamu sendiri, Del. Eva tidak akan marah sama kamu, dia sudah baik-baik saja sekarang. Bahkan dia sudah move on dari Kak Rian."


"Benarkah?"


"Ngapain dia mencariku?" tanya Adelia.


"Karena dia ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatannya," jawab Reno.


"Memangnya aku mau sama dia?"


"Itu sih terserah kamu, Del. Tapi yang pasti kamu harus pulang dulu," Reno terus membujuk Adelia agar mau pulang.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Reno terus membujuknya. Dia hanya merasa kasihan dengan Bu Anara yang sering sakit karena sangat rindu dengan anak pertamanya


"Baiklah, aku akan pulang. Tapi kasih aku waktu beberapa hari untuk mengurus semua pekerjaanku disini."

__ADS_1


"Kalau begitu biarkan aku tetap disini. Aku akan pulang bersamamu."


"Tidak usah, nanti aku bisa sendiri. Lagian Kak Reno pasti harus mengurus perusahaan di jakarta."


"Aku sudah tidak bekerja di perusahaan ayah. Sekarang punya usaha sendiri," kata Reno.


"Wah hebat sekali, Kak."


"Lebih hebat kamu, Del. Bekerja dengan kondisi hamil seperti ini. Aku sudah memutuskan untuk pulang bersamamu. Aku tidak mau jika terjadi sesuatu dengan calon Kakak iparku dan keponakanku."


"Memangnya aku mau jadi Kakak iparmu?"


"Memangnya kamu mau jika keponakanku nantinya besar tanpa di dampingi seorang ayah?"


Adelia diam, dia tidak bisa menjawab. Yang di katakan semua oleh Reno memang benar, Adelia tak mungkin sanggup membesarkan anak sendirian.


°°°°°°°


Reno sudah pulang ke hotel. Tadi dia juga sudah sekalian membeli beberapa keperluannya untuk beberapa hari ke depan.


Reno mendudukkan diri di pinggir ranjang. Rasanya hari ini begitu melelahkan. Dia ingin langsung istirahat, namun sebelum itu dia mengaktifkan ponselnya karena takutnya ada pesan penting.


"Astaga, apa-apaan ini?" Reno menatap pesan yang begitu banyak di kirimkan oleh Rian. Mungkin ada sekitar seratus pesan.


Reno membaca pesan itu satu persatu sambil terkekeh geli.


"Aku baca saja ah, tapi tidak ku balas," gumam Reno yang berniat menjahili Rian.


Reno meletakan ponselnya ke atas meja. Namun baru juga dia meletakan ponsel itu, teedengar dering dari ponselnya. Ternyata Rian langsung menghubunginya.


Reno membiarkan panggilan itu tanpa menjawabnya.

__ADS_1


'Tenang, Kak. Nanti juga ku kasih tahu Adel ada dimana, tapi tidak sekarang, aku mau tidur,' Reno merebahkan diri di atas kasur, lalu mulai memejamkan kedua matanya.


°°°°°°°°


__ADS_2