Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.73


__ADS_3

Malam ini, Rian datang dengan membawa mainan untuk ke dua anak Anara.


Rian yang baru datang, ikut bergabung bersama Anara dan yang lainnya yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Malam semua," ucap Rian, sambil menatap Anara, Bu Sinta, dan Andika secara bergantian.


"Malam juga, rajin sekali kamu datang kesini, Nak." ucap Bu Sinta.


"Harus rajin dong, biar Anara cepat luluh."


"Uhuk ... uhuk ... "Anara yang sedang memakan makanan ringan tersedak.


Andika dan Rian mengambil gelas berisi air minum yang ada di depan Anara. Namun ke duanya rebutan gelas yang sama-sama sedang mereka pegang.


"Biar aku saja," ucap Andika sambil menatap tajam Rian.


"Aku saja, karena aku duluan yang mengambil gelas ini," ucap Rian, yang tak mau kalah.


"Stop! Dari pada kalian datang cuma bikin ribut, mending pulang!" ucap Anara, lalu dia beranjak dari duduknya. Anara pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Bu Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Andika dan Rian.


Sudah beberapa hari ini Rian memang selalu datang. Andika juga selalu di rumah itu karena tidak mau jika kecolongan start oleh Rian.


Anara memilih bermain bersama anak-anaknya. Dia tidak kembali ke ruang keluarga.


Rian sejak tadi menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Kok Anara lama yah," ucapnya.


"Mungkin langsung ke kamar nidurin anak-anak," ucap Bu Sinta.


"Yah tidak asyik dong, kalau begitu aku pulang saja deh," ucap Rian, lalu memberikan boneka yang dia bawa kepada Bu Sinta. "Ini untuk anak-anak yah, Tan. Mohon di terima."


"Terima kasih, Nak. Tidak perlu repot-repot segala kalau mau datang kesini."


"Saya tidak merasa di repotkan kok, Tante."


Setelah berpamitan, Rian segera pergi. Padahal dia belum sempat mengobrol dengan Anara, namun sepertinya Anara sibuk dengan anak-anaknya.


🍀🍀🍀


Andika memutuskan untuk menginap di rumah itu. Karena kebetulan Bu Sinta juga menginap disana. Hingga menjelang tengah malam, Andika belum tidur. Dia memilih untuk duduk bersantai sambil menonton acara televisi di ruang keluarga.

__ADS_1


Andika melihat Anara yang baru keluar dari kamar, dan kini berjalan menuju ke dapur. Andika menyusul Anara yang kini sudah berada di dapur. Ternyata Anara sedang mengambil minum.


Andika memeluk Anara dari belakang, lalu segera menyerangnya.


"Ah ... lepasin," Anara merasakan geli di lehernya.


Andika hendak melepaskan Anara, namun sebelum itu dia meninggalkan jejak di leher putih itu.


Plak


Anara menampar pipi Andika.


"Kak Dika jangan macam-macam yah, ini sudah di lewat batas."


"Aku hanya tidak mau jika kamu di miliki orang lain," ucapnya.


"Apa maksudnya?"


"Aku mencintai kamu Anara," ucapnya.


Anara diam mematung saat mendengar perkataan Andika. Diamnya Anara di jadikan kesempatan untuk Andika. Dia mendekatkan bibirnya dan bermain-main disana.


Anara menjauhkan wajahnya, lalu dia kembali menampar Andika.


Plak


"Siap, Tuan putri." ucapnya sambil tersenyum menatap Anara.


Anara segera pergi dari hadapan Andika. Dia kembali ke kamarnya.


Andika tersenyum kecil menatap kepergian Anara.


'Tidak apa-apa jika sekarang kamu membenciku, tapi nanti akan aku pastikan jika kamu jatuh ke pelukanku,'' batin Andika.


🍀🍀🍀


Anara menatap penampilannya di depan cermin. Bekas merah di lehernya juga tidak terlihat karena sudah dia tutupi menggunakan foundation.


Anara sudah siap pergi ke cafe. Dia mendekati Bu Sinta yang sedang duduk sendirian.


"Mah, dimana Kak Dika?"


"Pulang, dia tidak bawa baju ganti. Nanti katanya mau kesini lagi anterin kamu ke cafe," ucap Bu Sinta.

__ADS_1


"Tidak usah, Mah. Biar aku berangkat sendiri saja."


"Mending sama Dika loh, tidak keluar ongkos," ucap Bu Sinta.


"Tidak apa-apa, aku berangkat sendiri saja."


"Baiklah, nanti Mamah telfon Dika biar tidak usah kesini."


"Kalau begitu Nara pamit ya, Mah."


"Iya, sayang."


Setelah berpamitan, Anara melangkah pergi mendekati pintu depan. Namun baru juga dia membuka pintu, dia melihat ada sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Ternyata itu mobil milik Rian.


'Astaga, kenapa dia datang lagi,' Anara kembali menutup pintunya.


Bu Sinta melihat Anara yang tidak jadi keluar dari rumah.


"Nara, kok pintunya di tutup lagi? Kamu tidak jadi pergi?"


Anara melangkah mendekati Bu Sinta.


"Mah, tolong dong bilangin ke Rian kalau aku sudah berangkat. Aku lagi mau pergi sendiri," pinta Anara.


"Di depan ada Rian?"


"Iya, Mah.


"Baiklah, Mamah mau keluar dulu, Bu Sinta keluar dari rumah itu untuk berbicara kepada Rian.


Bu Sinta sudah mengatakan sesuai yang di perintahkan oleh Anara.


Rian segera pergi dari sana, dia berniat menyusul Anara ke cafe.


"Bagaimana, Mah?" tanya Anara, saat melihat Bu Sinta sudah kembali masuk ke rumah.


"Beres, dia sudah pergi."


"Syukurlah, kalau begitu Nara berangkat dulu yah."


"Hati-hati, Nak."


"Iya, Mah." setelah mengatakan itu, Anara segera pergi.

__ADS_1


°°°°°


__ADS_2