Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.52


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pernikahan Alan dan Nela. Pernikahan itu akan di laksanakan di sebuah hotel mewah.


Kebetulan Alan dan semua keluarganya sudah bersiap untuk pergi. Adelia dan Rian juga masih tinggal di rumah itu, atas permintaan Bu Anara. Memang Bu Anara melarang anaknya untuk pindah rumah dulu sebelum pernikahan Alan. Mungkin beberapa hari setelah Alan menikah, mereka baru akan pindah.


Adelia yang baru keluar dari kamarnya, bergabung dengan keluarganya yang sedang duduk bersama di ruang keluarga. Namun Alan tidak ada disana.


"Mah, Alan dimana?" tanya Adelia.


"Tadi pergi ke toilet sebentar," jawabnya.


"Pasti gerogi nih Alan. Belum apa-apa juga sudah pergi ke toilet," ucap Adelia.


"Siapa yang gerogi? Aku biasa saja kok," ucap Alan yang sudah kembali dari toilet. Alan melangkah mendekati mereka.


"Ayo kita berangkat!" ajak Pak Andika.


"Nanti dulu, Pah. Kita tunggu Kak Nesa," ucap Bu Anara.


"Memangnya Vanesa mau kesini?"


"Iya, Mamah yang memintanya untuk ikut rombongan kita."


Obrolan mereka terhenti saat terdengar suara seseorang dari luar.


"Permisi," ucap seseorang yang tak lain adalah Kiara.


Kiara memberanikan diri untuk datang ke rumah Alan. Dari jauh-jauh hari sebelumnya dia memang berniat untuk datang ke acara pesta pernikahan Alan dan Nela. Namun sepertinya dia datangnya ke rumah keluarga Alan saja, jadi dia memutuskan untuk datang kesana.


"Biar Mamah yang ke depan," Bu Anara melangkah pergi ke depan.

__ADS_1


Bu Anara melihat Kinara yang sedang berdiri di depan pintu. Pakaian yang di kenakannya tampak lusuh, seperti dulu saat pertama kali Bu Anara bertemu dengannya.


"Kia, kamu kembali, Nak." Bu Anara menatap Kiara yang sedang tersenyum, memperlihatkan bibir pucatnya. Terlihat sekali bibir Kiara yang sedikit mengelupas. Sepertinya dia kekurangan vitamin.


Bu Anara merasa prihatin melihat kondisi Kiara. Dia sedang hamil, namun badannya terlihat kurus. Bahkan lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Iya, Bu. Saya kembali karena ingin berbicara sesuatu dengan Bu Anara dan keluarga," ucap Kiara.


Sebenarnya Kiara enggan datang kepada keluarga Alan, jika saja perekonomiannya cukup. Namun dia butuh sekali biaya untuk dia lahiran nanti. Pekerjaannya sebagai buruh cuci dan setrika, hanya pas-pasan saja. Itu juga tidak cukup jika harus membeli susu ibu hamil.


"Ayo kita masuk!" ajak Bu Anara.


Kiara dan Bu Anara masuk ke rumah. Mereka menghampiri yang lainnya di ruang keluarga.


"Mah, siapa yang da---" Alan terkejut saat melihat Kiara culun datang ke rumahnya.


"Ini Kia, katanya dia datang karena ingin bertemu dengan kita."


"Tidak usah, Kak."


"Kia, katanya kamu mau bicara, bicaralah!" pinta Bu Anara.


"Duduk dulu dong, Mah, Kia." ucap Eva.


"Oh iya, ayo kita duduk!" ucap Bu Anara.


Kini Kiara dan Bu Anara duduk bersebelahan.


"Mah, lebih baik kita langsung pergi saja. Nanti acaranya telat loh," ucap Alan. Sebenarnya Alan takut jika Kiara berbicara yang tidak-tidak kepada keluarganya.

__ADS_1


'Segitunya kamu mencintai dia, sedangkan anakmu sendiri tidak kamu cintai,' batin Kiara.


"Sabar, Tantemu juga belum datang," ucap Bu Anara.


"Maaf semuanya, jika kedatangan saya ini mengganggu. Tapi disini saya--" perkataan Kiara terhenti karena Alan memotong perkataannya lagi.


"Mah, ayo kita pergi!" ucap Alan dengan tidak sabaran.


Sebenarnya Alan sudah panik, takutnya jika Kiara mengungkapkan semuanya di hadapan keluarganya.


Kiara hanya tersenyum kecut sambil menatap Alan.


"Nak, lanjutkan perkataanmu!" pinta Bu Anara.


“Sebenarnya saya‐-“ ucapan Kiara terhenti karena lagi-lagi Alan memotong perkataannya.


“Mah, ayo kita berangkat! Keburu siang loh,” kata Alan.


“Alan, kalau ada orang bicara itu yang sopan. Jangan memotong perkataan orang lain,” tegur Bu Anara.


“Maaf jika kedatangan saya mengganggu. Sepertinya saya memang tidak di izinkan untuk bicara,” ucap Kiara.


Semua yang ada disana menatap ke arah Kiara.


“Kia, kamu jangan tersinggung, Nak. Alan memang seperti itu. Bicara saja apa yang ingin kamu bicarakan,” pinta Bu Anara.


Kiara menghirup napasnya dalam-dalam, lalu dia hembuskan. Kini dia mulai berbicara lagi.


Alan tidak bisa duduk dengan tenang. Sejak tadi dia menggerak-gerakan tubuhnya. Dia takut sekali jika Kiara mengungkap semuanya.

__ADS_1


“Saya hanya mau mengatakan, jika saat ini saya hamil anak dari lelaki yang tak bertanggung jawab, dan lelaki itu adalah Alan,” Kiara langsung menundukkan pandangannya setelah selesai berbicara. Kiara sedikit merasa takut, apalagi jika dikira hanya mengaku-ngaku saja.


__ADS_2