
Pagi ini Adelia mengajak Rian untuk berkunjung ke kediaman orang tuanya. Sebenarnya dia datang karena ingin bertemu dengan orang tuanya, sekaligus ingin bertemu dengan pengantin baru.
"Sayang, kamu sudah siap belum?" Rian sedang berdiri di depan pintu kamarnya, menunggu istrinya yang masih berada di dalam.
"Sebentar, Mas." Adelia mengambil keperluan milik Raffa yang sudah dia siapkan, lalu dia segera keluar.
Rian melihat istrinya yang sudah keluar dari kamar dengan menggendong anaknya dan membawa tas yang berisi perlengkapan anaknya.
"Biar Mas yang bantu bawakan," Rian mengambil tas yang sedang di pegang oleh istrinya.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, sayang." jawabnya.
Mereka berdua berjalan berdampingan keluar dari rumah itu.
Sesampainya di dekat mobil, Rian menaruh tas milik anaknya di jok belakang. Lalu dengan cepat dia membukakan pintu depan untuk istrinya.
"Silakan, sayang!"
"Terima kasih, suamiku. Kamu perhatian sekali sih."
"Harus dong, sayang." kata Rian sambil menutup pintu mobilnya. Dia beralih ke sebelah, lalu membuka pintu mobilnya.
Rian menatap istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Sudah siap, sayang?"
"Sudah, Mas." jawabnya
Rian langsung tancap gas, dia mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Sepanjang jalan mereka saling mengobrol, hingga tak terasa perjalanan mereka terasa lebih cepat.
__ADS_1
Saat ini mereka sampai di depan kediaman Pak Andika. Keduanya segera keluar dari mobil.
Adelia menatap suaminya yang sedang mengambil tas milik anaknya.
"Ayo, sayang!" Rian menutup pintu mobilnya, lalu dia merengkuh pinggang istrinya.
"Iya, Mas."
Mereka berjalan berdampingan mendekati pintu masuk rumah.
Tok tok
Adelia mengetuk pintu rumah itu.
"Permisi, Mah, Pah." ucap Adelia dengan sedikit berteriak.
Tak lama Bu Anara membukakan pintu rumahnya. Bu Anara senang melihat kedatangan mereka.
"Wah pagi-pagi begini kalian sudah datang. Ayo masuk!" ajaknya.
Bu Anara mengajak mereka untuk duduk di ruang keluarga.
"Mah, masih pagi kok sepi, dimana yang lain?" tanya Adelia sambil menatap ke segala arah.
"Papahmu sama Alan lagi ke kantor. Kalau Eva dan Reno masih di kamar," jawabnya.
"Astaga, mentang-mentang pengantin baru masih di kamar. Kemarin sore juga Eva sampai tanya ke aku obat buat nyeri--" Adelia menutup mulutnya. Dia hampir saja keceplosan.
"Nyeri apa, Del? Eva kenapa? Perasaan dia baik-baik saja," ucap Bu Anara.
"Paling nyeri yang di bawah, Mah. Dia kan habis malam pertama," sahut Rian.
"Ih Mas Rian malu-maluin. Diam stt," Adelia mengisyaratkan suaminya untuk diam.
__ADS_1
"Hahaha suami kamu ini jujur apa adanya, Del." ucap Bu Anara sambil menatap anak dan menantunya.
Adelia sedikit malu, karena suaminya ceplas-ceplos.
Terlihat Eva dan Reno menuruni tangga. Mereka ikut bergabung dengan ibu dan kakaknya.
"Wah kalian jam segini baru keluar dari kamar. Habis ngapain saja? Itu rambut juga masih basah, sepertinya kalian habis basah-basahan nih," ucap Rian sambil menatap keduanya.
Adelia melotot ke arah suaminya. Suaminya itu tidak ada malu-malunya sama sekali.
"Iya, kami baru selesai mandi tadi," ucap Reno. Sedangkan Eva menundukkan pandangannya karena malu.
°°°°°°
Kiara pergi ke rumah ibu pemilik kontrakan. Saat ini dia sudah berada di depan pintu masuk rumah itu. Saat hendak mengetuk pintu, dia mengurungkan niatnya saat mendengar ibu pemilik kontrakan sedang berteleponan. Suaranya terdengar sangat jelas sekali.
"Baik Pak Andika, saya akan laksanakan perintah Bapak. Tenang saja, Kiara tidak akan tahu," ucapnya.
Kiara menajamkan pendengarannya. Dia yakin jika dia tidak salah dengar. Lagian pendengarannya masih normal.
'Jadi Bu Sukma, pemilik kontrakan ini mengenal Pak Andika. Perintah apa yang di maksudnya? Atau jangan-jangan semua kebaikannya selama ini itu atas perintah Pak Andika. Semua bantuan itu dari Pak Andika, bukan dari Bu Sukma,' batin Kiara.
Kiara mengurungkan niatnya untuk bertamu. Dia memilih untuk pergi.
Kiara senang karena ternyata Pak Andika masih peduli dengannya. Mungkin karena saat ini dia sedang mengandung cucunya. Dia bingung, apa dia masih harus tetap disana dan menerima bantuan terus menerus dari Pak Andika. Jujur saja Kiara merasa tak enak hati, karena Pak Andika dan keluarganya sudah sangat baik kepadanya.
Kiara sudah sampai di kontrakan yang di tinggalinya. Dia duduk di kursi kayu yang ada di ruang depan. Dia menatap ke luar, kebetulan di luar ada anak-anak tetangga sebelah yang sedang main bersama dengan ibu dan ayahnya. Kiara mengusap perutnya, ada keinginan dihatinya agar suatu saat nanti dia bisa hidup bersama dengan keluarga kecil yang terlihat bahagia seperti itu.
'Aku tidak boleh seperti ini terus, aku harus kuliah lagi agar nantinya bisa menjadi orang yang sukses dan bisa bekerja di kantoran. Aku tidak ingin jika nanti anakku hidup susah juga seperti aku,' batin Kiara.
Entah bagaimana caranya, namun setelah melahirkan nanti, Kiara harus punya pekerjaan dan harus kuliah juga. Mungkin dia akan mencari jalur beasiswa agar dia bisa kuliah lagi.
Kiara beranjak dari duduknya. Dia pergi ke kamar, lalu membereskan semua pakaiannya. Dia memasukkan pakaiannya ke dalam tas besar miliknya.
__ADS_1
"Besok aku akan berpamitan kepada Bu Sukma. Aku tidak enak jika terus hidup gratis seperti ini," gumam Kiara.