
Aldi semakin merasa aneh dengan Istrinya. Anara tidak mau saat di ajak tidur bersama. Dia memilih tidur dengan anaknya. Setelah Aldi bertanya, Anara hanya menjawab jika dia tidak suka dengan bau badan suaminya yang membuatnya sedikit mual.
Aldi baru bangun dari tidurnya. Dia meraba kasur sebelahnya. Dia baru ingat jika dia tidur sendirian, tidak bersama istrinya. Aldi beranjak dari atas tempat tidur. Lalu keluar kamar untuk menghampiri istrinya.
Tok tok
Aldi mengetuk pintu kamar Baby Adel. Karena ternyata tidak di kunci, jadi dia langsung saja membuka pintu itu. Aldi menghampiri Anara yang sedang sibuk membereskan kamar.
"Sayang," Aldi berdiri di belakang Anara.
Anara yang melihat suaminya datang, segera menutupi hidungnya.
"Mas, jangan dekat-dekat! Kamu bau," ucap Anara.
"Kamu kenapa sih, sayang? Kok menghindariku seperti itu?" Aldi maju satu langkah, namun istrinya juga ikut mundur satu langkah.
"Stop! Cepat keluar!" Anara mengusir suaminya dari kamar.
"Baiklah," Aldi menunduk lesu, lalu keluar dari kamar itu.
Aldi kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Karena dia harus pergi ke cafe.
Aldi sudah rapih dengan pakaiannya. Dia akan sarapan, namun istrinya belum ada di ruang makan. Aldi mendekati Bi Inem yang sedang membereskan dapur.
"Bi, Nara belum kesini yah?" tanya Aldi.
"Non Nara katanya tidak ikut sarapan," ucap Bi Inem.
"Memangnya kenapa?"
"Sudah makan puding tadi, katanya sudah kenyang."
"Baiklah," Aldi pergi ke ruang makan lalu menarik kursi untuk dia duduki.
Bu Sinta yang baru datang, melihat anaknya sedang sarapan sendirian.
"Al, kok kamu sendirian? Nara mana?" tanya Bu Sinta, sambil menatap ke semua sudut ruangan.
"Di kamar sama Adel, kata Bibi sih Nara sudah makan puding jadi tidak ikut sarapan."
"Kamu tidak ajakin?"
"Malas, sedikit aneh dia. Masa aku dekati juga tidak mau. Katanya badanku bau," kata Aldi.
__ADS_1
Bu Sinta mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan anaknya.
"Nara minta yang aneh-aneh tidak?"
"Iya, kemarin dia pagi-pagi minta rujak," ucap Aldi.
"Wah, kamu harus ajak istrimu ke dokter tuh. Sepertinya Nara hamil."
"Hamil?" Aldi kaget sekaligus senang.
"Coba saja kalian pergi ke dokter untuk periksa," ucap Bu Sinta.
"Baiklah, nanti Aldi coba ajak Nara ke dokter," Aldi buru-buru menghabiskan sarapannya. Dia sudah tidak sabar untuk mengajak istrinya periksa kandungan.
Bu Sinta pergi dari hadapan anaknya. Dia ke kamar untuk menghampiri Anara.
Ternyata Anara sedang bercermin sambil menatap penampilannya. Kebetulan Anara sudah terlihat rapih. Dia mengenakan pakaian bagus seperti hendak pergi.
"Nara, kamu mau kemana?" tanya Bu Sinta.
"Mau ikut ke cafe," ucap Anara, lalu dia memakai masker untuk menutupi hidungnya.
"Kok pakai masker segala?"
"Kamu hamil?" Bu Sinta menatap Anara sambil tersenyum.
Spontan Anara mengalihkan arah pandangnya. Dia melihat Bu Sinta yang sedang tersenyum menatapnya.
"Aku tidak tahu," ucap Anara.
"Pergilah ke Dokter! Tadi Mamah sudah bicara sama Aldi."
"Baiklah, semoga saja Nara beneran hamil, Mah."
"Iya, sayang. Mamah senang deh kalau nambah cucu lagi."
Anara sudah selesai bersiap. Dia langsung menemui suaminya. Sedangkan Baby Adel dia titipkan kepada Bu Sinta. Kebetulan Bu Sinta menawarkan diri untuk menjaga Baby Adel.
Kini keduanya sudah ada di perjalanan menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Anara mendaftar dan menunggu nomor antriannya. Karena kebetulan banyak ibu-ibu hamil yang memeriksakan kandungannya.
"Sayang, kamu mau minum? Pasti haus nungguin dari tadi," ucap Aldi.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin minum."
"Baiklah," Aldi kembali diam.
Tak lama, Anara di panggil untuk melakukan pemeriksaan.
Aldi hanya diam sambil menatap istrinya yang sedang di periksa oleh Dokter.
Anara kembali duduk di sebelah suaminya setelah dia di periksa oleh Dokter.
Dokter perempuan itu tersenyum menatap Aldi dan Anara. Lalu kembali duduk di kursinya.
"Bagaimana Dok? Apa istri saya benar hamil?" tanya Aldi.
"Iya, Pak. Selamat yah Bu Anara positif hamil, dan usia kandungannya baru memasuki minggu ke empat." ucapnya.
Aldi dan Anara terlihat bahagia saat mendengar perkataan Dokter. Aldi begitu bersyukur karena di karuniai seorang anak secepat ini.
"Terima kasih, Dok." kata Anara.
"Dok, apa wanita hamil boleh berhubungan suami istri?" tanya Aldi.
Anara menatap suaminya, lalu mencubit lengannya.
"Aduh ... "Ringis Aldi karena merasa sakit.
"Kalau mau tanya jangan yang aneh-aneh," kata Anara.
Dokter itu tersenyum menatap Anara dan Aldi yang terlihat serasi.
"Boleh kok, tapi jangan sekarang. Karena kandungannya masih rentan. Takutnya membahayakan janin. Di sarankan jika kandungan Ibu Anara sudah memasuki enam belas minggu." jelas Dokter.
"Yah masih lama dong," Aldi pura-pura merajuk.
"Dok, jangan dengarkan suami saya," ucap Anara, yang sedikit malu.
"Tidak apa-apa kok, sudah biasa beberapa orang bertanya begitu sama saya. Oh iya, ini ada vitamin untuk Ibu Anara. Jangan lupa di minum yah. Jika ada keluhan apa pun langsung saja datang kesini."
"Baik, Dok." ucap Anara, lalu dia dan Aldi berpamitan untuk pergi.
Anara dan Aldi keluar dari ruangan itu. Lalu mereka ke tempat pembayaran obat.
°°°°
__ADS_1