Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.81


__ADS_3

Hanya sepuluh hari Bu Anara dan keluarganya berada di London. Hari ini mereka memutuskan untuk pulang. Kebetulan dari beberapa jam yang lalu, pesawat yang mereka naiki sudah take off.


Setelah singgah di beberapa tempat, akhirnya pesawat yang mereka naiki sampai juga di ibukota.


Adelia hendak beranjak dari duduknya. Namun saat dia menatap kanan kirinya, ternyata suami dan orang tuanya sedang tidur.


"Astaga, pasti mereka kelelahan," gumam Adelia.


Adelia mencoba untuk membangunkan mereka.


"Emm ... Kita sudah sampai ya?" Bu Anara tampak membuka kedua matanya. Begitu juga dengan suaminya dan Rian.


"Iya, Mah. Ayo kita turun! Kalian nyenyak sekali sih tidurnya?"


"Cape, sayang. Jadi saat tidur terasa nyenyak," sahut Rian menjawab.


Mereka menatap kanan kirinya. Ternyata beberapa penumpang sudah turun. Bahkan mereka merupakan penumpang terakhir yang masih duduk disana.


"Sudah pada turun ternyata. Syukurlah jadi tidak berdesakan," gumam Bu Anara.


Mereka turun dari pesawat, dan segera keluar dari bandara. Kebetulan sopir mereka sudah menuggu di luar.


Adelia dan Rian berpamitan kepada orang tuanya. Setelah itu barulah mereka masuk ke mobil mereka.


Bu Anara dan suaminya juga segera masuk ke mobil jemputan mereka.


Setelah melewati keramaian ibukota, kini mereka sampai juga di rumah yang mereka tinggali.


Alan yang sedang bersantai di depan rumah, dia melihat mobil milik ayahnya berhenti di halaman rumah. Dia melihat orang tuanya keluar dari mobil.


"Enak ya habis liburan ke luar negeri. Tega banget sih, aku tidak di ajak-ajak," Alan berekspresi merajuk di depan orang tuanya.


"Enak dong, kami masuk dulu ya. Cape nih mau istirahat," ucap Bu Anara.

__ADS_1


Alan hanya menatap kepergian kedua orang tuanya.


°°°°°°


Sudah beberapa kali ini Alan selalu bermimpi yang sama. Dia bermimpi perempuan yang menggendong bayi lagi. Namun masih saja dia melihatnya dari arah belakang.


"Arrghhhh siapa sih dia?" Alan kesal karena lagi-lagi dia mimpi yang sama.


Alan menatap gelas yang ada di atas meja dekat ranjang, ternyata kosong. Dia mengambil gelas itu, lalu dia pergi keluar kamar.


"Sudah bangun Al? Tumben jam segini sudah bangun?" Bu Anara bertanya saat melihat anaknya bangun cukup pagi. Biasanya Alan selalu bangun hampir jam tujuh pagi.


"Iya, Mah. Akhir-akhir ini aku selalu mimpi aneh," ucapnya.


"Mimpi apa itu?"


"Mimpi perempuan menggendong anak kecil. Tapi Alan tidak tahu perempuan itu siapa. Tidak pernah menampakan wajahnya di mimpi Alan."


'Mungkin saja itu Kiara. Ah sudahlah, biarkan Alan tahu sendiri kalau Kiara sudah melahirkan,' batin Bu Anara.


"Baiklah, aku akan mengabaikannya."


Alan membuka kulkas, lalu mengambil air dingin untuk dia minum.


Alan melirik ibunya yang sedang memasukan masakannya ke dalam mangkuk.


"Mah, sudah matang ya? Alan mau langsung makan deh."


"Iya nih sebentar," ucapnya.


Alan pergi ke ruang makan. Dia duduk disana, menunggu ibunya menghidangkan masakannya.


Melihat anaknya yang sedang makan, Bu Anara pergi memanggil suaminya untuk mengajaknya sarapan bersama.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Alan segera bersiap. Karena hari ini dia harus datang ke kampus lebih awal.


Alan melihat penampilannya yang tampan di pantulan cermin. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu dia memakai kaca mata agar penampilannya lebih keren.


Bu Anara yang sedang bersantai bersama suaminya, melihat anaknya yang sedang menuruni tangga.


"Sudah mau berangkat, Al?" tanya Bu Anara.


"Iya nih, Mah." Alan mendekati orang tuanya, lalu dia berpamitan kepada mereka.


Setelah kepergian Alan, Bu Anara dan suaminya kembali melanjutkan obrolannya.


"Pah, bagaimana kinerja Alan di kantor?" Bu Anara bertanya sambil menatap suaminya yang duduk di sampingnya.


"Bagus, Mah. Alan cukup pintar dan cekatan. Ya awalnya sih Papah sempat meragukan dia, karena dia tidak sepintar Adel. Tapi ternyata dia bisa juga, kreatif juga anaknya."


"Syukurlah, setidaknya anak itu bisa di andalkan."


°°°°°


Alan yang baru sampai di kampus, dia segera turun dari mobilnya. Alan melangkah memasuki kampus dengan sedikit tergesa-gesa. Tak sengaja dia menabrak salah satu mahasiswi yang lewat berpapasan.


"Aduh ... " wanita cantik itu hendak terjatuh, namun Alan menahan tubuhnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan.


"Tidak," ucapnya, lalu kembali membenarkan posisi berdirinya.


Alan masih menatap wajah wanita itu yang terlihat asing. Baru kali ini dia melihat wanita itu di kampus.


"Kamu anak baru ya? Aku baru lihat," tanya Alan.


"Iya, aku pindahan dari Bandung. Aku permisi dulu," setelah mengatakan itu, wanita itu segera pergi dari hadapan Alan.

__ADS_1


Alan masih diam di tempatnya sambil menatap kepergian wanita itu. Kulit putih, hidung mancung, penampilan sexy, wanita itu termasuk kriteria wanita idamannya.


__ADS_2