
Tak terasa kandungan Anara sudah semakin membesar. Saat ini usia kandungannya memasuki delapan bulan.
Aldi dan Anara sedang bersantai di ruang keluarga. Mereka mendengar ketukan pintu dari luar rumah.
"Biar aku yang bukain pintunya," Aldi beranjak dari duduknya, lalu dia membukakan pintu rumahnya. Ternyata yang datang Bu Sinta.
"Siahkan masuk, Mah!" ucap Aldi.
Bu Sinta masuk ke rumah, lalu ikut bergabung bersama Anara.
"Mamah datang bawa undangan nih," Bu Sinta mengabil sesuatu dari tasnya. Lalu meletakannya di atas meja.
"Undangan apa, Mah?" tanya Anara.
"Undangan peresmian hotel dari sahabat Mamah. Kalian datang yah!" pinta Bu Sinta.
"Harus datang yah? Kasihan loh Anara perutnya sudah besar," ucap Aldi.
"Ayolah, sayang. Ini sahabat Mamah loh," Bu Sinta terus merayu agar mereka berdua mau datang.
"Kita akan datang kok," ucap Anara.
"Nah ini yang Mamah harapkan," Bu Sinta merasa senang karena Aldi dan Anara mau ikut.
Setelah mengatakan itu, Bu Sinta menghampiri Baby Adel yang sedang main bersama Ani.
Hanya satu jam Bu Sinta bertamu. Kini Bu Sinta sudah kembali pulang.
"Sayang, nanti kita ajak Adel juga yah," ucap Aldi.
"Takutnya rewel, Kak."
"Nanti kita ajak Ani saja," ucap Aldi.
"Baiklah, Nara setuju saja."
Tok tok
Keduanya kembali mendengar ketukan pintu dari luar rumah.
"Siapa yang datang? Apa Mamah balik lagi," gumam Aldi namun masih terdengar oleh istrinya.
"Tidak mungkin loh, masa sih Mamah balik lagi."
Aldi beranjak dari duduknya, lalu dia membukakan pintu masuk. Ternyata Andika yang datang dengan membawa boneka besar dan bingkisan di tangan kanannya.
"Wah bonekanya besar sekali, ayo masuk, Kak!" Aldi mengajak Andika masuk ke dalam.
"Iya," Andika mengikuti Aldi masuk ke dalam rumah.
Andika meletakan bingkisan kue yang dia bawa di meja depan Anara duduk.
"Ini untuk kalian, tidak enak kalau bertamu tidak bawa apa-apa," ucap Andika.
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan, Kak. Kalau mau datang tidak usah bawa apa-apa," ucap Anara.
"Tidak enak kalau tidak bawa apa-apa, oh iya, dimana Adel? Aku bawa boneka nih buat Adel," Andika memperlihatkan boneka yang sedang dia pegang.
"Ada di kamarnya sama Ani," ucap Anara.
"Kalau begitu aku mau lihat Adel dulu," Andika pergi dari hadapan Anara dan Aldi.
Aldi duduk di sebelah istrinya. Mereka menatap kepergian Andika.
"Semakin lama Kak Dika semakin baik bahkan akrab sama Adel," ucap Aldi.
"Bagus dong, itu artinya keluarga kita semakin rukun."
"Tapi aku takut jika nantinya Adel lebih menyayangi Kak Dika dari pada aku," ucap Aldi.
Anara menggenggam jari jemari suaminya.
"Tidak boleh berpikiran seperti itu. Pasti saat dewasa nanti Adel menganggap kalian berdua sebagai orang yang begitu penting di hidupnya."
"Semoga saja," Aldi tersenyum menatap istrinya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Siang ini Anara dan Aldi sudah terlihat rapih. Mereka akan pergi ke acara peresmian hotel sesuai permintaan Bu Sinta.
"Sayang, kamu sudah siap?" Aldi menatap istrinya yang sedang memakai lipstik.
"Kalau begitu aku mau lihat Adel dulu."
"Iya, Kak." ucap Anara.
Aldi pergi keluar dari kamarnya. Dia akan melihat apakah anaknya sudah bersiap atau belum.
Tak lama, Anara juga keluar dari kamarnya. Dia melihat suaminya sedang duduk bersama Baby Adel. Ani juga ada bersama mereka.
"Ayo kita berangkat!" ajak Anara yang baru datang.
Aldi dan Ani beranjak dari duduknya. Aldi menggandeng tangan istrinya, lalu mereka berdua keluar dari rumah. Sedangkan Ani mengikuti mereka di belakang.
Aldi membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Terima kasih," Anara tersenyum menatap suaminya.
"Sama-sama, sayang." Aldi kembali menutup pintu mobil itu. Lalu dia berjalan memutar dan membuka pintu mobil. Dia duduk di sebelah istrinya. Aldi mengemudikan mobilnya menuju ke hotel tempat acara.
Setelah cukup lama mengemudi, kini mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Aldi menggandeng tangan istrinya menuju ke hotel. Sedangkan Ani berjalan di belakang mereka.
Tak lupa, Aldi memperlihatkan undangan mereka kepada petugas yang berjaga.
Beberapa serangkaian acara telah terlaksana. Kali ini tinggal acara bersantai sambil menikmati hidangan yang telah di sediakan.
__ADS_1
Bu Sinta datang bersama dengan sahabatnya yang bernama Bu Sela, dan merupakan pemilik hotel itu.
"Ini loh anak bungsu saya sama menantu saya," ucap Bu Sinta memperkenalkan Aldi dan Anara.
"Cantik dan tampan, sangat serasi. Sudah mau punya anak dua yah, wah sepertinya akan ramai nih rumahnya," ucap Bu Sela sambil menatap perut buncit Anara dan menatap Baby Adel yang sedang bersama Ani.
"Iya, Jeng. Saya bersyukur sekali bisa menimang cucu."
"Oh iya, kalau istrinya Andika anaknya sudah berapa?"
"Belum punya," ucap Bu Sinta sambil tersenyum menatap sahabatnya.
"Wah keduluan dong sama adiknya. Oh iya, saya boleh gendong anaknya?" tanya Bu Sela kepada Anara.
"Boleh," ucap Anara.
Bu Sela mengambil Baby Adel yang ada di gendongan Ani. Dia memperhatikan wajah mungil yang begitu cantik. Sejenak dia memperhatikan Anara dan Aldi secara bergantian.
"Kok lebih mirip sama Andika yah, mungkin saat hamil nih Ibunya benci sama Andika," ucapnya.
"Hanya kebetulan saja, Jeng." ucap Bu Sinta.
Mereka asyik mengobrol bersama. Sedangkan Andika dan Sela yang duduk tak jauh dari mereka, menatap kebersamaan mereka yang terlihat asyik karena saling mengobrol.
'Lagi-lagi Anara yang mendapat perhatian dari orang-orang,' batin Vanesa.
Saat ini acara itu sudah selesai. Anara dan yang lainnya segera berpamitan untuk pulang.
Aldi dan Anara sudah ada di perjalanan pulang. Namun Anara meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya saat dia melihat penjual batagor di pinggir jalan.
"Kak, aku ingin beli batagor itu," Anara melihat penjual batagor yang ada di seberang jalan.
"Biar aku yang belikan, kamu disini saja yah," pinta Aldi.
"Baiklah," ucapnya.
Aldi keluar dari mobil untuk membeli batagor.
Anara merasa tak sabar karena suaminya begitu lama. Dia memutuskan untuk menyusul suaminya.
"Kak ..." teriak Anara dari seberang jalan, sambil melambaikan tangannya.
"Sayang, kamu disana saja!" ucap Aldi sedikit berteriak.
Namun Anara tetap ingin menyeberang. Aldi melihat ada sebuah mobil yang melintas cukup cepat. Lalu dia berlari untuk menyelamatkan istrinya yang ada di tengah jalan.
Brak
Aldi tertabrak oleh mobil itu hingga tubuhnya terpental. Sedangkan Anara jatuh ke pinggir jalan karena Aldi mendorongnya.
"Aduh ... " Anara memegangi perutnya yang sakit.
°°°
__ADS_1