Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.75


__ADS_3

Anara sudah terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna abu muda. Wajahnya juga sudah di rias tipis, sehingga dia terlihat lebih anggun.


Bu Sinta melihat Anara yang baru keluar dari kamar.


"Wah, kamu cantik sekali, Nak." ucapnya, memuji kecantikan Anara.


"Mamah juga cantik."


"Tapi kamu lebih cantik, Nak."


"Gaun Nara ketat sekali atau tidak sih?"


"Ini pas kok, kamu tidak percaya diri yah?"


"Iya, Mah. Sedikit tidak percaya diri."


Tok tok


Obrolan ke duanya terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Bu Sinta membukakan pintu dan ternyata yang datang Andika.


Andika masih berdiri di depan pintu sambil menatap penampilan Anara. Dia begitu terpukau melihat kecantikan Anara. Apalagi wajahnya memakai riasan.


"Dika, awas tuh ada lalat masuk," ucap Bu Sinta kepada anaknya. Karena mulut Andika sedikit menganga.


"Eh, Mamah ada-ada saja," ucap Andika tanpa mengalihkan pandangannya.


"Jangan di lihatin terus, kasihan tuh Anara malu."


"Cantik sih, jadi tidak bosan melihatnya," ucap Andika.


Anara menunduk malu saat di puji seperti itu oleh Andika.


"Ayo berangkat!" ajak Anara.


"Mari, Tuan putri," Andika melangkah duluan keluar dari rumah itu. Di ikuti oleh Anara di belakangnya.


Kini ke duanya sudah berada di dalam mobil. Andika segera mengemudikan mobilnya menuju ke hotel tempat acara di laksanakan.


Sepanjang perjalanan, Andika sesekali menatap Anara yang duduk di sebelahnya.


Anara merasa risih di tatap seperti itu oleh Andika.


"Jangan lihatin aku terus," ucap Anara.


"Siapa yang lihatin kamu? Pede sekali," Andika menyangkal jika dia tidak menatap Anara.


"Tidak usah berbohong."


Andika menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu dia mendekatkan wajahnya dengan Anara.


"Mau ngapain?" Anara merasa panik saat berada di posisi intim seperti itu.


Andika tidak menjawab, dia fokus menperhatikan wajah cantik Anara. Lalu dia melihat tanda merah di leher Anara.


"Kamu lupa pakai foundation?" tanya Andika, sambil menjauhkan lagi wajahnya.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tuh lihat tanda merah di lehermu."


Anara mengambil cermin kecil yang ada di tas miliknya. Dia membelalakan ke dua matanya saat menatap bercak merah di lehernya.


"Kenapa aku sampai melupakannya?" gumam Anara.


"Sudah, tidak apa-apa kok. lagian tidak terlalu terlihat."


Anara mencari foundation di tasnya, namun ternyata dia tidak membawanya.


"Nanti kalau ada swalayan, berhenti dulu ya. Aku mau beli foundation."


"Siap, Tuan putri."


Andika kembali mengemudikan mobilnya.


Andika melihat ada swalayan di depan sana. Dia berhenti di depan swalayan itu, lalu memarkirkan mobilnya.


"Biar aku saja yang beli," ucap Andika. Karena dia kasihan melihat Anara turun dengan memakai gaun seperti itu. Pasti nanti akan menjadi tontonan orang.


"Baiklah, sebentar, aku ambil uang dulu."


"Tidak usah, biar dari aku saja," Andika segera membuka pintu mobil lalu keluar.


Tak lama menunggu, kini Andika sudah kembali ke mobil. Dia memberikan foundation yang dia beli kepada Anara.


Anara buru-buru mengoleskan foundation itu ke kulit lehernya untuk menutupi bercak merah itu.


Kini ke duanya sudah sampai di tempat tujuan. Andika dan Anara bersamaan membuka pintu mobil.


"Ayo," Andika menggandeng tangan Anara.


"Kak Dika apa-apaan sih? Lepasin!" ucap Anara. Namun Andika tidak menuruti perkataan Anara.


"Tidak boleh protes!" ucap Andika, lalu dia melangkah memasuki hotel dengan menggandeng tangan Anara.


Ternyata acara pesta di lakukan out door. Mereka di arahkan oleh petugas ke taman belakang hotel.


"Diam! Seperti ini saja," Andika berbisik di telinga Anara.


Anara hanya menurut saja, walaupun dia malu karena harus bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Andika mengajak Anara untuk menyapa rekan bisnisnya.


"Hallo Bro, kita bertemu lagi," ucap Andika.


"Wah pasangan baru nih, eh kok seperti adik iparmu?"


"Iya, dia adik iparku," ucapnya.


"Mantap nih, habis merasakan Kakaknya, sekarang sama adiknya."


"Doakan saja secepatnya," ucap Andika.


"Kalian mau menikah?"

__ADS_1


"Tidak," kata Anara.


"Iya," kata Andika.


Keduanya berucap bersamaan.


"Yang benar yang mana nih? Iya atau tidak?"


"Iya," kata Anara.


"Tidak," kata Andika.


"Wah, kalian ini pasangan yang sangat serasi. Jangan lupa undangannya, Bro." ucapnya, sambil menepuk pelan bahu Andika.


"Di tunggu saja," Andika tersenyum menatap rekan kerjanya.


'Astaga, kenapa ini mulut bilang iya,' batin Anara.


"Aku mau ke toilet dulu" ucap Anara sedikit berbisik di telinga Andika.


"Mau aku antar?"


"Tidak usah," ucapnya.


Anara melangkah pergi meninggalkan pesta itu. Dia mencari toilet terdekat.


Salah satu pintu toilet terbuka. Anara keluar dari toilet itu, lalu dia bercermin menatap penampilannya.


Tiba-tiba ada dua orang lelaki berdiri di belakangnya.


"Siapa kalian?" Anara membalikan badannya. Dia merasa panik melihat ke dua lelaki itu.


Lelaki itu saling pandang lalu menganggukan kepalanya. Salah satu dari mereka mengambil sapu tangan lalu membekap mulut Anara. Mereka membawa Anara keluar dari toilet.


Sudah lima belas menit, tapi Anara belum juga kembali dari toilet. Andika sangat gelisah. Dia memutuskan untuk mencari Anara di toilet.


Saat ini Andika sudah berdiri di depan toilet. Dia melihat seorang perempuan yang baru keluar.


"Maaf, Nona. Bolehkan saya bertanya?"


"Silahkan!" ucapnya.


"Apa di dalam ada wanita ini?" Andika memperlihatkan foto Anara yang ada di ponsel miliknya.


"Tidak ada, tadi di dalam hanya saya sendiri. Tidak ada orang lain lagi," ucapnya.


"Benarkah?"


"Benar, saya permisi dulu."


Andika masuk ke toiet itu untuk memastikannya sendiri. Ternyata Anara memang tidak ada disana.


'Sttt kemana perginya Anara,' batin Andika.


Andika kembali ke pesta untuk mencari Anara. Setelah dia berkeliling mencari Anara, dan bertanya ke beberapa rekan bisnisnya, mereka tidak tahu keberadaan Anara. Andika juga tidak melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2