
Pak Indra berpamitan kepada Vanesa, karena akan pergi untuk mengambil semua barang miliknya yang ada di rumah Anara.
“Nak, Papah pergi dulu ya,” Pak Indra mendekati anaknya yang sedang duduk sendirian.
“Mau kemana?” tanya Vanesa.
“Mau mengambil semua pakaian Papah di rumah Nara,” jawabnya.
“Baiklah, hati-hati, Pah.”
“Iya, Nak.” Pak Indra tersenyum menatap anaknya, sebelum pergi keluar dari rumah.
Setelah kepergian Pak Indra, kini Vanesa juga bersiap untuk pergi. Kebetulan dia akan pergi ke rumah Kenzo. Karena sudah sangat lama mereka tidak bertemu.
Vanesa menatap penampilannya di depan cermin.
‘Ternyata aku masih cantik, walaupun mantan napi,’ gumam Vanesa.
Vanesa menyemprotkan parfum ke pakaiannya. Lalu dia mengambil tas slempang miliknya yang tergeletak di atas kasur.
Vanesa melangkah keluar kamarnya. Niatnya dia akan pergi menaiki taxi. Padahal dia ingin sekali mengendarai mobil sendiri. Namun dia takut karena sudah lama tidak mengemudi.
Hanya tiga puluh menit, Vanesa sampai di depan rumah Kenzo. Dia segera turun setelah membayar taxi.
Kini Vanesa sudah berdiri di depan pintu masuk, lalu dia mengetuk pintu itu.
Tok tok
Kebetulan yang membukakan pintu itu seorang wanita yang sedang hamil besar. Vanesa menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Dia mengenali wanita itu. Kebetulan wanita itu dulunya satu agensi dengan dia saat menjadi model.
“Kak Vanesa, silahkan masuk!” ucapnya ramah.
“Kamu kok tinggal disini?” tanya Vanesa.
“Aku---“ belum sempat menjawab, terdengar suara Kenzo dari dalam rumah.
“Sayang, siapa yang datang?” tanya Kenzo, lalu menghampiri istrinya.
__ADS_1
Kenzo tersenyum saat melihat Vanesa yang sedang berdiri di depan pintu.
“Lama kita tidak berjumpa, Vanesa. Perkenalkan ini istriku,” Kenzo merangkul istrinya di depan Vanesa.
“Wah kalian sudah menikah ya, selamat,” Vanesa tersenyum menatap ke duanya.
“Ayo masuk!” ajak Kenzo.
“Iya, terima kasih.” Vanesa melangkah masuk mengikuti Kenzo dan istrinya.
Mereka bertiga saling mengobrol. Sebenarnya Vanesa sedikit canggung mengobrol bersama mereka. Tapi setidaknya dengan dia mengobrol, itu lebih baik. Dari pada tadi dia langsung pulang, itu terlihat tidak sopan.
Hanya lima belas menit Vanesa bertamu. Saat ini dia berpamitan untuk pulang. Vanesa akan langsung pergi ke rumah Bu Sinta untuk menemui Andika. Jika Kenzo sudah milik orang lain, maka dia akan kembali mengejar Andika. Dia berniat untuk meminta kesempatan ke dua.
Saat ini Vanesa sudah berada di dalam taxi. Dia menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik kaca mobil. Lama-kelamaan dia tertidur karena mengantuk.
“Maaf, Nona. Kita sudah sampai,” ucap supir taxi yang sudah menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Bu Sinta.
“Nona,” ucapnya dengan suara sedikit meninggi.
“Emm ... “ Vanesa membuka ke dua matanya. “Maaf, Pak saya ketiduran,” ucapnya, sambil membuka tas miliknya. Vanesa mengambil uang pas untuk membayar taxi.
Vanesa melihat seorang Asisten rumah tangga yang sedang menyapu halaman depan.
“Bi,” Vanesa memanggilnya dari arah belakang.
“Iya, Non. Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya, sambil menoleh ke belakang.
“Apa Mas Dika ada di dalam?” tanya Vanesa.
“Maaf, tapi Tuan Andika tidak tinggal disini lagi. Sekarang tinggal bersama istri dan anak-anaknya,” ucapnya.
“Istri?” Vanesa terkejut saat tahu jika mantan suaminya sudah menikah lagi. Selama ini Pak Indra tidak pernah memberitahunya saat menengoknya di penjara.
“Nona, kenapa kaget?”
“Tidak kok, kalau boleh tahu, dimana alamat rumahnya?” tanya Vanesa.
__ADS_1
Asisten rumah tangga itu langsung menyebutkan alamat rumah yang saat ini di tempati oleh Andika.
Setelah mengetahui alamat tempat tinggal Andika, Vanesa segera pergi dari sana.
Vanesa merasa jika alamat rumah itu tidak asing baginya. Namun dia sendiri juga lupa, kapan dia pergi ke alamat itu.
Sebenarnya Vanesa cukup kelelahan, tapi dia harus cepat pergi. Karena dia ingin tahu siapa yang menjadi istrinya Andika.
°°°°°
Hanya dua puluh menit perjalanan, kini Vanesa sudah sampai di alamat tempat tinggal Andika.
‘Kenapa rumah ini terasa tidak asing?’ batin Vanesa saat dia berdiri di depan rumah itu.
Vanesa melihat pintu rumah terbuka. Terlihat Pak Indra keluar dengan membawa koper besar miliknya. Di belakangnya ada Anara dan Andika, dan ke dua anaknya.
“Pah,” ucap Vanesa sedikit berteriak.
Mereka semua menatap ke sumber suara. Ternyata Vanesa sedang berdiri dengan jarak yang lumayan jauh dari mereka.
Vanesa melangkahkan kakinya mendekati mereka.
“Pah, kenapa Mas Dika ada disini?” Vanesa bertanya kepada ayahnya.
Pak Indra masih diam, serasa berat untuk berucap. Begitu juga dengan Anara yang saat ini menunduk. Dia takut jika Kakaknya akan marah jika tahu bahwa Andika sudah menikah dengannya.
“Saya disini karena memang tinggalnya disini,” ucap Andika.
“Lalu--- ” Vanesa menatap tangan Andika yang sedang menggenggam erat tangan Anara. Kalian pasangan?” Vanesa bertanya kepada mereka berdua.
“Benar, kami sudah menikah sejak lima tahun yang lalu,” ucap Andika.
“Kalian penghianat!” Vanesa menatap mereka dengan tatapan tak rela. Lalu dia berlari pergi dari sana.
“Nesa,” Pak Indra berteriak memanggil Vanesa, namun Vanesa tetap melanjutkan langkahnya.
“Mas, aku jadi merasa bersalah,” Anara memegang erat tangan suaminya.
__ADS_1
“Tenanglah, sayang. Semua ini bukan salahmu. Kita menikah itu karena memang berjodoh,” Andika mengusap punggung tangan istrinya.
°°°°°°°°°°