Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.38


__ADS_3

Saat ini Andika sudah sampai di depan kantor. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran depan kantor. Beberapa karyawan melihat kedatangan atasan mereka. Namun saat di sapa, Andika hanya diam saja. Dia berjalan sambil bergelut dengan pikirannya. Dia masih memikirkan perkataan Ibunya. Dia jadi takut jika Baby Adel itu anak kandungnya.


Andika sudah sampai di ruangannya. Dia memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu sambil menyenderkan badannya. Sejenak dia memejamkan kedua matanya.


Cklek


Pintu ruangan itu terbuka. Melisa masuk dan melihat Andika yang sedang duduk di sofa.


"Kamu ada masalah?" tanya Melisa, yang merupakan sekretarisnya.


"Sedikit," ucap Andika.


"Apa mau aku pijat, sayang." Melisa mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak usah, aku ingin sendiri. Kamu keluarlah!" Andika menyuruh sekretarisnya pergi.


"Ayolah," Melisa mendaratkan tangannya di bahu Andika.


Andika merasa risih karena Melisa berdiri di depannya, dengan sedikit membungkukan badannya.


"Baiklah, tapi kamu jangan disitu," ucap Andika.


Melisa duduk di sebelah Andika. Lalu Andika memiringkan badannya agar Melisa leluasa untuk memijatnya.


Sudah cukup lama Andika di pijat. Dia merasa jika sekarang lebih enak. Melisa juga berinisiatif untuk memijat kening Andika.


Cklek


"Apa-apaan ini?" Vanesa berdiri di depan pintu. Dia melihat suaminya sedang di pegang-pegang oleh sekretarisnya.


Andika segera beranjak dari duduknya. Lalu dia melangkah mendekati istrinya.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Andika.


"Memangnya aku memikirkan apa?" Vanesa menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Vanesa melihat Melisa yang sedang melangkah mendekati mereka. "Cepat kamu pergi! Bisanya cuma gangguin suami orang saja," Vanesa menatap tajam ke arah Melisa.


"Sayang, cepat kamu usir istri tidak berguna ini. Lagian sebentar lagi aku akan melahirkan anak yang lucu-lucu untuk kamu," Melisa bergelayut manja di lengan Andika. Namun Andika menepis tangannya.


"Keluarlah!" Andika menatap Melisa yang sedang berdiri di sampingnya.


"Baiklah," Melisa berjalan keluar dari ruangan itu.


Vanesa menarik tangan suaminya lalu menyuruhnya untuk duduk di sofa.


"Mas, aku minta kamu pecat sekretaris kamu yang kegatelan itu," pinta Vanesa.


"Iya nanti," ucapnya.


"Kenapa harus nanti, jika sekarang juga bisa."


Aku tidak mau ada masalah dengan Vanesa. Mungkin aku harus memecat Melisa, tapi aku akan kehilangan karyawan berprestasi sepertinya," batin Andika.

__ADS_1


"Baiklah, kamu tunggu di sini. Biar aku dan dia bicara empat mata."


"Aku ikut, enak saja mau berdua-duaan."


"Aku hanya mau memberi pengertian kepada Melisa agar dia tidak marah saat aku pecat."


"Baiklah, lima menit saja. Aku tunggu Mas Dika di sini."


"Oke," Andika pergi keluar ruangannya untuk menghampiri Melisa. Sedangkan Vanesa menunggu suaminya di ruangannya.


Andika memutuskan untuk memecat Melisa dari kantornya. Itu semua dia lakukan demi istrinya.


....


Siang ini Bu Sinta pergi ke rumah Aldi. Dia akan melihat cucunya dan juga ingin bicara serius dengan Anara.


Bu Sinta sudah sampai di rumah Aldi. Kebetulan Bi Inem yang membukakan pintunya. Bi Inem mempersilahkan Bu Sinta untuk masuk.


Bu Sinta melihat Anara yang sedang duduk sendirian, lalu menghampirinya.


"Nara," Bu Sinta sudah berdiri di depan Anara.


"Eh Mamah, mau cari Kak Aldi? Kak Aldi masih di cafe, dia belum pulang," ucapnya.


"Mamah mau bertemu kamu kok," ucapnya.


"Memangnya ada apa, Mah?" Anara menatap lekat kedua mata Bu Sinta.


"Bicara saja, Mah!" Anara merasa jika Bu Sinta akan membicarakan hal yang serius dengannya. Karena tidak biasanya Bu Sinta mengajak dia bicara empat mata.


"Bisakah kita bicara di tempat yang lebih tertutup? Mamah takut kalau ada yang mendengarkan kita bicara," ucap Bu Sinta.


"Baiklah, kita bicara di kamar atas saja," kata Anara.


Bu Sinta mengikuti Anara pergi ke kamarnya. Saat ini keduanya sudah ada di dalam kamar. Bu Sinta dan Anara duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Langsung saja pada intinya," terlihat Bu Sinta sedang menatap Anara. "Siapa ayah kandung Adel?" tanya Anara.


Kenapa tiba-tiba mamah menanyakan itu?" batin Anara.


"Mah, biar itu jadi rahasiaku, lagian aku tidak mau lagi mengingat saat itu," ucapnya.


"Ini menyangkut masa depan kalian, dan juga cepat atau lambat kita semua harus tahu siapa ayah kandung dari Adel. Kamu bicaralah semuanya," pinta Bu Sinta.


Anara masih diam, dia tidak mau membuat masalah baru. Apalagi dia sedang berbahagia dengan kehadiran Baby Adel.


"Anara belum siap untuk bicara," ucapnya.


"Apa lelaki itu Andika?" tanya Bu Sinta.


Spontan Anara mengalihkan arah pandangnya. Dia menatap Bu Sinta yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Dari mana Mamah punya pemikiran seperti itu?" tanya Anara.


"Hanya menebak saja, karena Mamah curiga sama mata birunya. Hanya keturunan keluarga saya di london yang mempunyai warna mata seperti itu. Tapi saat saya bertanya kepada yang lain, mereka bilang tidak mengenal kamu," jelas Bu Sinta.


Anara terlihat memikirkan sesuatu. Pikirannya berkelana entah kemana. Dia jadi mengingat lagi hari itu, hari dimana dia ternoda.


"Katakanlah semuanya, Mamah berjanji tidak akan bicara kepada siapa pun," ucap Bu Sinta.


"Apa kata-kata Mamah ini bisa Nara pegang?"


Bu Sinta hanya menganggukan kepalanya.


Anara menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu dia mulai berkata.


"Iya, Adel itu anak kandung Kak Andika," kata Anara.


Bu Sinta begitu terkejut mendengar pengakuan dari mulut Anara. Hal yang dia takutkan ternyata menjadi kenyataan.


"Ceritakan semua yang terjadi sehingga kamu bisa hamil!" pinta Bu sinta, sambil sedikit menundukan arah pandangnya.


"Baiklah," kata Anara.


Anara mulai bercerita saat dirinya baru kerja di hotel. Dan dia di suruh untuk membersihkan kamar Andika. Dia juga bercerita jika Andika memberinya minuman yang ada pengaruh alkohol sehingga saat itu dia diantara sadar dan tidak. Anara juga mengatakan jika saat itu dia masih virgin, dan Andika lah yang megambil virginnya.


Bu Sinta perihatin setelah mendengar cerita dari Anara. Dia tidak menyangka jika wanita yang masih muda seperti Anara mampu menutupi masalah sebesar itu dari orang lain.


Bu Sinta tidak akan menyalahkan Anara atas semua yang terjadi. Karena dia tahu


di sini yang menjadi korban itu Anara.


"Apa Aldi sudah tahu semua ini?" tanya Bu Sinta.


"Belum, Mah." ucapnya.


"Kalau dia tahu pasti sangat kecewa sekali. Mamah harap kamu secepatnya bicara sama dia. Tapi kamu beri dia pengertian, agar dia tidak terlalu menyalahkan Andika. Mamah takut kalau ini akan menjadi perang keluarga. Apalagi jika Vanesa tahu, pasti perasaannya akan hancur."


"Iya, Mah. Nanti Nara akan mencari waktu yang tepat untuk bicara sama Kak Aldi. Sebenarnya Nara juga tidak sanggup menutupi semua ini sendirian."


Bu Sinta menepuk pelan bahu menantunya.


"Kamu yang sabar yah, tolong maafkan Andika. Mamah malu sekali saat tahu jika Andika melakukan itu kepadamu."


"Iya, Mah. Mara sudah memaafkannya," Anara memaksakan diri untuk tersenyum di depan Bu Sinta.


"Jika butuh apa-apa minta saja sama Mamah,"ucapnya.


"Iya, Mah." jawab Anara.


Bu Sinta memeluk Anara dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.


°°°°°

__ADS_1


__ADS_2