
Setiap hari Bu Anara selalu menelepon Kiara dan menanyakan kabarnya, selalu menanyakan anak yang ada di dalam kandungan Kiara. Kiara selalu mengatakan jika dia baik-baik saja, begitu juga dengan kandungannya.
Memang antara Kiara dan keluarga Eva selalu berkomunikasi. Kecuali Alan yang memang satu-satunya orang yang tidak tahu jika Kiara berada di luar negeri bersama dengan Kakaknya.
Terlihat Bu Anara dan Pak Andika sedang menyeruput es teh manis. Memang cocok sekali minum yang segar-segar di siang yang terik ini.
"Mah, kita seperti pengantin baru saja ya, di rumah cuma berduaan," ucap Pak Andika.
"Benar, Pah. Rumah ini sepi sekali karena anak-anak kita tidak tinggal disini."
"Tapi masih ada Alan, Mah."
"Alan itu sering pulang malam loh, Pah. Mamah kok jadi khawatir ya jika dia macam-macam di luar sanai."
"Benar, Mah. Papah juga takut jika Alan di luar sana mempermainkan wanita lain. Alan itu harusnya bersanding dengan Kiara, yang jelas-jelas wanita yang sedang mengandung anaknya," ujar Pak Andika.
"Apa kita perlu lakukan sesuatu untuk Alan?" Bu Anara meminta masukan dari suaminya.
"Lakukan apa ya," Pak Andika tampak bergelut dengan pikirannya.
"Ah sudahlah, nanti saja kita pikirkan lagi."
"Iya, Mah. Papah juga jadi pusing sendiri jika memikirkan anak yang satu itu."
Alan yang sedang di bicarakan, tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Astaga, kamu kok sudah berada disini, Al? Kapan masuknya?" tanya Bu Anara yang sedikit heran.
"Barusan kok," jawabnya.
__ADS_1
"Kalau masuk itu pakai permisi, jadinya kita tahu kalau kamu datang."
"Tidak perlu, Mah. Lagian rumah sendiri," Alan mendudukan dirinya di depan orangtuanya.
"Mau di rumah sendiri atau rumah orang lain, itu harus bersikap sopan, Al. Jangan di biasakan seperti itu," tegur Bu Anara.
"Iya, Mah." Alan tetap terlihat santai.
"Al, bagaimana perusahaan?"
"Lancar, Pah. Tadi ada rekan bisnis Papah datang bersama putrinya. Ternyata putrinya itu cantik banget, body wow," Alan membayangkan sambil senyum-senyum sendiri.
"Pah, Alan mulai lagi tuh," bisik Bu Anara di telinga suaminya.
"Sudah biarkan saja, biar dia menyesal sendiri karena kelakuannya itu" ujar Pak Andika
°°°°°
Terlihat Alan yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.
Tring tring
Alan mendengar ponsel miliknya yang ada di atas meja berdering. Ternyata Nela yang menghubunginya.
📞"Hallo, sayang. Ada apa kamu menghubungiku? Padahal kita baru juga bertemu beberapa jam yang lalu."
📞"Bisakah kita bertemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan," ucap Nela yang tampak serius.
📞"Bicara apa?"
__ADS_1
📞"Aku ingin bertemu secara langsung," kata Nela.
Alan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul empat sore.
📞"Baiklah, kita ketemuan sekarang saja. Lagian sebentar lagi jam pulang kantor."
📞"Oke, aku langsung otw ke tempat biasa."
📞"Baiklah, aku juga akan segera menyusul."
Kini keduanya sudah selesai berteleponan. Alan langsung saja merapikan meja kerjanya. Setelah itu, dia segera pergi.
Alan sudah sampai di cafe yang sering di datangi olehnya dan Nela. Dia menatap ke segala arah. Namun sepertinya Nela juga belum datang. Alan memilih duduk di kursi belakang yang biasa mereka duduki.
Setelah lima menit menunggu, akhirnya Nela datang juga. Dia menarik kursi di depan Alan, lalu langsung duduk disana.
"Sayang, ada apa? Kenapa wajah kamu terlihat serius sekali?"
Nela berat untuk mengatakan ini. Karena dia sangat mencintai Alan. Namun demi menuruti kemauan orang tuanya, dia terpaksa harus mengatakan ini.
"Maaf, Alan. Sepertinya kita tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini," dengan berat hati, Nela harus mengatakan itu.
"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba?" Alan terkejut, karena sebelumnya hubungan mereka berdua itu baik-baik saja.
"Orang tuaku tidak setuju jika aku melanjutkan hubungan dengan kamu. Terlebih lagi kamu sudah menghamili wanita lain. Orang tuaku juga sudah menjodohkanku dengan anak dari rekan kerjanya. Maaf karena aku baru bicara ini," Nela menundukan pandangannya. Dia tidak berani menatap Alan, karena dia tidak tega melihat raut wajah Alan yang terlihat sedih.
"Kenapa kamu tidak menolak saja?"
"Aku tidak mungkin menolaknya, karena orang tuaku mengancam akan mencoret namaku dari daftar keluarga. Aku permisi dulu, sekali lagi aku minta maaf," Nela beranjak dari duduknya, lalu segera pergi keluar dari cafe itu.
__ADS_1
Alan mengacak kasar rambutnya. Dia tidak pernah membayangkan jika akan berpisah dengan Nela.