
Beberapa bulan kemudian.
Bu Anara mendapatkan kabar jika saat ini Kiara sudah melahirkan, dan anaknya itu laki-laki. Anaknya mirip sekali dengan Alan. Setiap menatap wajah anaknya, Kiara harus menahan sedih, karena selalu mengingatkannya dengan Alan.
Bu Anara dan keluarganya juga berniat untuk pergi ke luar negeri, untuk melihat bayi mungil yang merupakan anggota baru di keluarganya.
Alan yang kebetulan melewati kamar ibunya, dia melihat ibunya sedang mengemasi pakaiannya.
"Mah, kok pakaiannya di masukan ke koper? Memangnya Mamah mau kemana?" tanya Alan.
"Mamah mau pergi, Nak. Kamu di rumah saja ya, jangan ikut. Lagian kamu harus kuliah loh."
"Mamah mau liburan kok tega banget sih tidak ajak-ajak Alan."
"Bukan seperti itu, Nak. Mamah ini mau pergi sama Papahmu. Masa kamu mau gangguin kita yang mau mesra-mesraan."
"Seperti anak muda saja mesra-mesraan," ucap Alan menyindir.
"Memangnya yang muda saja yang boleh mesra-mesraan. Lagian yang muda saja kalah mesranya sama yang tua."
"Iya deh, terserah Mamah saja. Tapi pulangnya jangan lupa bawa oleh-oleh ya," pinta Alan.
"Baik, Nak."
Alan segera pergi dari sana setelah dia selesai berbicara dengan ibunya.
Cklek
Terlihat pintu kamar mandi terbuka. Pak Andika keluar dari kamar mandi, lalu mendekati istrinya.
"Mah, siapa yang datang? Tadi Papah mendengar Mamah seperti sedang berbicara dengan seseorang?" Pak Andika tampak menengok kanan kirinya.
__ADS_1
"Tadi Mamah bicara sama Alan, Pah." jawabnya.
"Bicara apa dia?" tanya Pak Andika.
"Alan nanya Mamah mau pergi kemana. Ya udah Mamah jawab kalau mau pergi liburan sama Papah."
"Dia tidak ingin ikut kan?"
"Tadinya sih ingin, tapi Mamah larang."
"Syukurlah," Pak Andika bernapas lega.
Sebenarnya bukannya Alan tidak boleh ikut, namun takutnya Kiara kurang nyaman jika melihat Alan. Takutnya Alan tidak mengakui anaknya. Dari pada Kiara sakit hati jika saja Alan berkata seperti itu, lebih baik Alan tidak usah ikut saja.
°°°°°
Alan melihat ayah dan ibunya yang terlihat keren. Mereka membawa koper sambil melangkah keluar rumah, namun keduanya memakai kaca mata.
"Tidak usah banyak tanya, kami mau bulan madu," ucap Pak Andika beralasan, agar anaknya tidak curiga.
Alan tertawa geli saat mendengar penuturan ayahnya.
"Memangnya Papah sama Mamah masih kuat, kok bulan madu segala?"
"Kamu meragukan kemampuan, Papah? Mau tiga sampai lima ronde pun, Papah masih kuat. Iya kan, Mah?" ucap Pak Andika sambil menoleh menatap istrinya yang berdiri di sebelahnya.
"Papah apa-apaan sih, malu tahu," Bu Anara memukul pelan lengan suaminya.
Bu Anara dan Pak Andika berpamitan dengan Alan. Lalu mereka segera pergi di antar oleh sopir menuju ke bandara.
Setelah kepergian orang tuanya, Alan pergi ke kamar untuk mengemasi beberapa pakaiannya. Dia berniat untuk menginap di rumah Adelia, karena dia tidak mau jika di rumah sendirian.
__ADS_1
Terlihat Alan keluar dari rumahnya. Dia pergi dengan mengendarai mobil miliknya.
Ternyata di tengah perjalanan, ban mobil Alan bocor. Terpaksa dia harus mencari bengkel terdekat.
Cukup lama Alan berada di bengkel, kini ban mobilnya sudah di ganti dengan yang baru. Alan kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke alamat rumah Adelia.
Sesampainya di rumah Adelia, ternyata rumahnya terlihat kosong. Alan menatap ke jendela rumahnya yang tertutup horden. Sepertinya Kakaknya itu sedang pergi.
"Kakak kemana sih? Masa dari tadi aku panggil-panggil tidak ada yang nyahutin," gumam Alan.
Dari arah belakang, terlihat pembantu di rumah itu habis pergi keluar.
"Den Alan, mau cari Non Adel ya?" tanya pembantu itu.
Alan menoleh ke sumber suara.
"Benar, Kak Adel dimana ya? Kok rumah sepi?"
"Tadi pergi bersama Tuan Rian. Mereka membawa koper besar. Sepertinya sih hendak pergi berlibur," jawabnya.
"Bibi tahu mereka pergi kemana?"
"Bibi tidak tahu, Den." jawabnya.
"Baiklah, aku pulang saja," Alan melangkah pergi dari sana. Dia kembali masuk ke mobilnya.
Alan masih duduk di mobil, belum menyalakan mesinnya. Dia memikirkan kemana Kakaknya itu pergi.
"Kak Adel sama Kak Rian pergi, terus Mamah dan Papah juga pergi. Jangan-jangan mereka memang pergi bersama. Kenapa aku tidak di ajak? Sepertinya aku harus telepon Mamah. Aku mau tanya kemana perginya mereka, biar aku bisa menyusul," gumam Alan.
Alan mencoba menghubungi nomor ibunya, namun tidak aktif. Lalu dia mencoba mnghubungi nomor ayahnya dan Kakaknya, namun nomor mereka juga tidak aktif.
__ADS_1
"Awas saja kalian, liburan kok tidak ngajak-ngajak," Alan langsung mengemudikan mobilnya pergi dari sana. Terpaksa dia akan kembali ke rumah. Padahal niatnya dia akan menginap, tapi karena Kakaknya tidak ada, dia tak jadi menginap.