Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.65


__ADS_3

Sudah beberapa kali Aldi melakukan terapi. Ternyata ada peningkatan. Sedikit demi sedikit Aldi sudah bisa berjalan lagi. Walaupun itu dengan pelan.


Saat ini Aldi sedang ada di perjalanan pulang. Dia habis terapi di rumah sakit di antar oleh Andika.


"Kak," Aldi memanggil Andika yang sedang fokus mengemudi.


Andika menatap sekilas ke arah Aldi yang sedang duduk di sebelahnya.


"Ada apa?"


"Aku minta Kak Andika untuk membantu Anara saat dia sendirian dan butuh pendamping," ucap Aldi.


Andika merasa heran dengan perkataan adiknya. Bukankah sekarang dia sudah sadar, tapi kenapa malah menyuruh orang lain untuk berada di samping istrinya.


"Kamu tenang saja, Kakak selalu siap untuk membantu kalian," ucap Andika.


Aldi tidak mengatakan apa pun lagi.


Kini mobil yang di kendarai Andika sudah sampai di depan rumah Aldi. Setelah keduanya turun, Andika membantu memapah Aldi hingga masuk ke rumah. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Anara. Bahkan Anara sudah masak yang spesial untuk suaminya.


"Selamat datang, Kak. Ayo kita makan siang bersama!" ucap Anara sambil menatap Aldi dan Andika secara bergantian.


"Wah sepertinya makan siang kita spesial nih," ucap Andika.


"Pastinya, aku sengaja masak spesial untuk suamiku," ucap Anara sambil menatap suaminya.


Perkataan suamiku membuat Andika sedikit iri. Dia tidak pernah di perlakukan manis seperti itu saat dia masih menikah dengan Vanesa.


Kini ketiganya pergi ke ruang makan. Andika melihat Anara yang sangat sibuk melayani suaminya. Anara mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Sedangkan Andika mengambilnya sendiri.


Baru juga akan menyuapkan nasi ke mulutnya, Andika sejenak menghentikannya. Dia melihat Anara dan Aldi yang semakin romantis saja.


"Nih a ...." Anara menyuapi suaminya. Sesekali Aldi juga ikut menyuapi istrinya.


Andika buru-buru menghabiskan makan siangnya. Dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan keromantisan suami istri itu.


"Aku sudah selesai," Andika beranjak dari duduknya.


Anara dan Aldi menatap Andika yang sudah berdiri dari duduknya.


"Cepat sekali, Kak?" ucap Anara.


"Iya, aku kelaparan jadinya makan cepat. Kalau begitu aku permisi dulu, sekalian mau langsung pulang."

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, Kak." ucap Anara.


"Siap," Andika tersenyum menatap Anara. Lalu dia segera pergi dari sana.


Setelah selesai makan siang, Anara mengajak suaminya untuk bersantai sambil mengobrol.


°°°°


Malam harinya, Anara mengajak suaminya untuk pergi ke kamar. Dia juga sudah meminta Ani untuk tidur bersama Adel dan Eva.


Aldi menatap istrinya yang sedang bercermin sambil menyisir rambutnya.


"Sayang, kita itu mau tidur loh. Kok kamu pakai menyisir rambut segala?" tanya Aldi.


"Tidak apa-apa, malam ini malam spesial loh," Anara menoleh menatap suaminya.


Anara menaruh kembali sisir yang sedang dia pakai ke atas meja rias. Lalu dia menghampiri suaminya yang sudah berbaring di atas ranjang.


Anara berbisik di telinga suaminya. Aldi tersenyum setelah mendengar perkataan istrinya.


"Baiklah, ayo kita lakukan!"


Anara langsung naik ke atas suaminya. Malam ini merupakan malam pertama untuk mereka setelah sekian lama tidak melakukan hubungan suami istri.


Setelah merasa lelah, keduanya langsung membenarkan posisi mereka berbaring. Aldi menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


'Aku senang karena kita bisa melakukan ini lagi, sayang.' Aldi membelai wajah istrinya.


"Terima kasih istriku," Aldi mengecup singkat pucuk kepala istrinya. Lalu dia segera membaringkan dirinya di sebelah istrinya.


°°°°


Pagi harinya Aldi terbangun lebih dulu. Dia sudah rapih dengan pakaiannya. Bahkan dia sempat-sempatnya merapihkan kamar itu. Setelah kamar itu rapih dan wangi, Aldi pergi ke lantai atas. Dia ke kamarnya yang sudah lama tidak dia tempati.


Aldi menatap ruangan kamar yang sudah sangat dia rindukan. Dia duduk di pinggiran ranjang, lalu membuka laci dan mengambil sesuatu dari sana. Ternyata yang dia ambil itu buku catatan miliknya. Dia menuliskan sesuatu disana. Setelah itu dia kembali menaruh buku catatannya ke dalam laci.


Aldi keluar dari kamar itu untuk melihat kedua anaknya. Saat dia sampai di lantai bawah, ternyata dia mendengar tangisan anaknya. Aldi mengetuk pintu kamar anaknya, dan Ani yang membukakan pintu kamar itu.


Aldi mencoba menenangkan Eva yang sedang menangis. Sedangkan Ani akan memandikan Adel terlebih dahulu. Setelah Adel selesai mandi, Aldi yang memilihkan dan memakaikan pakaiannya.


Saat ini Adelia dan Eva sudah sama-sama wangi karena sudah mandi. Aldi mengajak ke dua anaknya menuju ke kamar atas. Sedangkan Ani akan memasak untuk Adelia dan Eva.


Sesampainya di kamar atas, Aldi mengajak anaknya untuk tiduran di ranjang. Kedua anaknya ada di sisi kanan dan kirinya. Ternyata mereka masih mengantuk, kebetulan Aldi melihatnya menguap. Aldi menepuk-nepuk pantat anaknya. Tak lama mereka tertidur. Aldi juga ikut memejamkan ke dua matanya.

__ADS_1


Terlihat Anara yang sudah rapih. Dia keluar dari kamarnya. Kebetulan dia melihat Ani yang baru saja dari dapur dengan membawa nampan berisi makanan untuk anaknya.


"Kak Ani, dimana anak-anak?"


"Di kamar atas sama Tuan Aldi," ucapnya.


"Kamu baru masak yah untuk mereka?"


"Iya, tadi mau masak ternyata ada bahan yang kurang. Jadinya pergi ke supermarket depan dulu. Sekarang baru selesai masaknya."


"Kak Ani bawa makanan itu ke ruang depan saja yah, nanti saya juga ke sana sama anak-anak.Saya mau memanggil mereka dulu."


"Siap, Non." ucapnya.


Anara sudah sampai di kamar atas. Dia melihat suaminya sedang tidur di tengah anak-anaknya. Namun Anara merasa aneh dengan posisi tidur suaminya. Aldi menaruh kedua tangannya di dadanya.


Anara mencoba untuk membangunkan suaminya.


"Mas, bangun! Ayo kita sarapan sama-sama," ucap Anara sambil menepuk pelan pipi suaminya. Namun suaminya tidak juga bangun.


Anara melihat ke dua anaknya yang terbangun. Mungkin mereka terusik karena mendengar suara Anara.


"Cup cup ... Anak Mamah jangan pada nangis dong," Anara menggendong Eva. Sedangkan Adelia masih duduk di atas ranjang sambil menarik-narik tangan Aldi.


'Kak Aldi kok tidak bangun, aneh sekali,' gumam Anara.


Anara berjalan menuju ke arah pintu. Dia membuka pintu kamar itu. Anara melihat Ani yang sudah ada di depan pintu.


"Non, anak-anak menangis yah? Biar sama saya saja," ucap Ani.


"Kamu gendong Adel saja, Eva biar sama saya," ucapnya.


Ani mendekati Adel yang ada di atas ranjang. Namun dia merasa aneh saat melihat Aldi. Bibirnya terlihat sangat pucat.


"Non, Tuan Aldi sakit yah? Bibirnya pucat sekali," ucap Ani.


"Saya tidak tahu, biar saya bangunkan dulu. Kamu ke bawah dulu saja," pinta Anara.


"Baik, Non." setelah mengatakan itu Ani pergi keluar dari kamar.


Eva sudah lebih tenang, sekarang sudah tidak menangis lagi. Anara mendudukan Eva di atas ranjang. Lalu dia juga ikut duduk di pinggir ranjang. Anara mulai membangunkan suaminya namun Aldi tidak juga bangun.


Anara menyentuh hidung suaminya, namun tidak merasakan nafas suaminya. Anara panik, dia memeriksa denyut nadi suaminya, namun ternyata sudah tidak ada.

__ADS_1


"Kak Aldi ... "Anara berteriak histeris sambil menggoyang- goyangkan badan suaminya. Eva ikut menangis saat melihat ibunya menangis.


°°°°°°°°


__ADS_2