
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Saat ini kandungan Anara sudah semakin membesar. Tinggal menunggu beberapa minggu lagi dia melahirkan. Hubungannya dengan Aldi juga baik-baik saja. Bahkan Aldi sudah lama tidak meminta haknya, sesuai yang di janjikan Anara. Hanya satu kali saja mereka melakukan itu.
Saat ini Aldi sedang pergi bersama Anara. Mereka pergi ke toko perlengkapan bayi. Anara memilih semua barang yang bernuansa pink. Karena anaknya itu kemungkinan perempuan.
Tring tring
Aldi mendengar ponsel miliknya berbunyi. Lalu dia menjauh dari Anara untuk mengangkat panggilan telfon itu.
Aldi kembali menemui Anara yang sedang memilih pakaian bayi.
"Nara, aku ada kepentingan." kata Aldi.
"Ya sudah, lebih baik Kak Aldi pergi saja." ucap Anara.
Aldi tampak bergelut dengan pikirannya.
"Baiklah, nanti aku hubungi supir rumah untuk menjemput kamu. Kamu jangan pulang dulu yah sebelum supir datang." pinta Aldi.
"Iya, Kak."
Cup
Aldi mengecup singkat kening Anara. Lalu dia segera pergi.
Anara merasa jika belakangan ini Aldi lebih sering pergi keluar dari pada mendampinginya. Aldi selalu beralasan ada kepentingan. Namun yang membuat Anara heran, apakah setiap hari memang ada kepentingan. Apakah tidak ada Asisten yang bisa menggantikannya.
Akhir-akhir ini Anara sangatlah merindukan sosok Aldi di dekatnya. Bahkan Aldi selalu pulang malam. Tidak seperti saat awal-awal Anara tinggal di rumahnya, Aldi lebih sering di rumah dari pada di luar.
Setelah selesai membayar semua belanjaan, Anara menunggu supir yang akan menjemputnya di depan toko. Sesekali dia duduk karena merasa lelah. Anara mengusap keringat di keningnya
Terlihat sebuah mobil hitam berhenti di depan Anara.
"Non Anara, ayo masuk!" ucapnya.
"Pak, bisa bawakan belanjaan saya?"
"Sebentar, Non." ucapnya
Pak Dodo keluar dari mobil lalu membawa barang belanjaan Anara dan menaruhnya di bagasi mobil.
"Terima kasih, Pak." ucap Anara.
"Sama-sama,Non."
Kini keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Pak Dodo langsung mengemudikan mobilnya.
°°°
°°°
Saat ini Andika sedang berada di kantor. Dia mendapat kabar dari rekan kerjanya yang mengatkan jika melihat Vanesa sedang jalan bersama lelaki lain.
Andika langsung saja menghubungi nomor istrinya. Namun nomornya tidak aktif.
Sttt, beraninya kamu bermain-main denganku, Nesa." gumam Andika.
__ADS_1
Andika memakai jas kerjanya yang dia taruh dia atas sofa.
Tok tok
Andika mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar.
Sekretarisnya masuk begitu saja ke dalam ruangan.
"Mau kemana?" Mela memeluk Andika dari belakang.
"Aku mau pergi, jangan ganggu aku!"
"Untuk malam itu..." Mela menggantung perkataannya.
"Maaf, untuk malam itu aku khilaf. Lupakanlah! Lagian kamu juga sudah mempunyai suami," Andika mengambil tas kerjanya lalu segera pergi meninggalkan Mela yang masih ada di ruangannya.
Mela menghentak-hentakan kakinya keluar dari ruangan itu.
Andika sudah ada di perjalanan menuju ke tempat yang tadi di share lokasinya oleh rekan bisnisnya. Sesampainya disana, dia langsung memarkirkan mobilnya. Andika melangkah memasuki restoran. Dia menatap kanan kirinya untuk mencari keberadaan istrinya. Dia melihat istrinya sedang bersama seorang lelaki. Bahkan lelaki itu memegang tangan Vanesa.
"Apa-apaan ini?"
Vanesa terkejut karena melihat suaminya berada disana.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." ucap Vanesa
"Sudah jelas-jelas kepergok, masih saja beralasan," ucap Andika.
"Sudahlah Bro, jangan di bikin masalah." ucap Kenzo
Bugh bugh
Kenzo tersenyum menatap Andika.
"Sudahlah bro, tidak perlu pakai emosi," ucap Kenzo lalu melangkah pergi. Kenzo menghentikan langakahnya dan menatap ke belakang. "Oh iya, milik istrimu selalu wangi. Aku suka aromanya, dan masih sempit saja. Hm, rasanya aku menginginkannya lagi." setelah mengatakan itu, Kenzo kembali melanjutkan langkahnya.
Vanesa membelalakan kedua matanya saat mendengar Kenzo berani mengatakan itu di depan Andika.
Andika menatap tajam Vanesa.
"Apa kamu sering tidur dengannya?"
Vanesa hanya menunduk saja. Dia tidak menjawab perkataan suaminya.
"Jangan-jangan orang yang telah mengambil kesuacianmu itu dia," ucap Andika. "Jawab! Benarkan dia!" Baiklah, diammu itu menandakan jika jawabannya iya." Andika langsung pergi dari hadapan istrinya. Saat ini dia sangatlah kecewa. Kalau di pikir-pikir, lebih baik dia mendapatkan seorang janda dari pada gadis bukan perawan.
Vanesa mengejar suaminya. Saat ini Andika mengemudikan mobilnya meninggalkan restoran itu. Vanesa berlari mengejar suaminya.
Brak
Vanesa tertabrak mobil yang sedang melaju kencang. Semua orang berkerumun untuk melihat korban kecelakaan. Sedangkan pengemudi mobil pergi begitu saja.
Andika menatap ke belakang, dia melihat ada kerumunan.
Ada apa itu?" gumam Andika.
__ADS_1
Andika memilih untuk putar balik karena rasa penasarannya. Saat ini dia menghentikan mobilnya di dekat kerumunan itu.
"Ini ada apa yah?" tanya Andika yang sudah keluar dari mobilnya.
"Ada kecelakaan, Pak." ucap salah satu dari mereka.
Andika masuk ke kerumunan itu. Dia terkejut saat melihat istrinya terkapar tak sadarkan diri.
"Vanesa, kenapa kamu seperti ini?" Andika memeluk Vanesa yang bersimbah darah. Lalu dia menggendongnya dan segera membawanya ke rumah sakit.
Saat ini Andika sudah berada di perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia menghubungi Pak Indra dan memberitahukan jika Vanesa kecelakaan.
Akhirnya dia sudah sampai di rumah sakit. Andika menggendong Vanesa dan berlari memasuki rumah sakit. Dia berteriak meminta pertolongan. Terlihat beberapa perawat datang menghampirinya dengan mendorong brankar pasien.
Saat ini Vanesa di bawa ke ruang UGD untuk di lakukan penanganan.
Di luar ruangan, Andika sedang berdiri di depan pintu. Dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Aldi dan memberitahu tentang kondisi Vanesa.
°°°
Setelah mendapatkan kabar dari Kakaknya, Aldi langsung pulang dari cafe. Dia akan mengajak Anara untuk pergi ke rumah sakit.
Aldi melihat Anara yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Nara, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Aldi.
"Mau ngapain?" Anara menatap Aldi yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Vanesa kecelakaan, tadi Kak Dika mengabariku." kata Aldi.
"Apa? Kecelakaan?" Anara begitu terkejut mendengar jika Kakaknya kecelakaan.
"Sebentar! Aku mau ganti pakaian dulu," Anara beranjak dari duduknya lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, Anara dan Aldi langsung pergi.
Saat ini Aldi sudah mengemudikan mobilnya melewati keramaian ibu kota. Sesekali dia menatap Anara yang duduk di sebelahnya. Dia melihat jika Anara terlihat gelisah.
"Tenanglah, Vanesa pasti baik-baik saja kok," ucap Aldi sambil mengusap tangan Anara dengan satu tangannya. Sedangkan tangan satunya memegang setir kemudi.
"Tapi aku sangat cemas, aku takut jika kondisi Kak Nesa parah," ucap Anara.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk Vanesa," ucap Aldi dan kembali menjauhkan tangannya dari Anara. Dia kembali fokus mengemudi.
"Iya, Kak."
°°°
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA.
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
GIFT
LIKE DAN KOMEN SAJA SUDAH CUKUP KOK😊😊😊😊