Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.37


__ADS_3

Bu Sinta yang pamitnya mau mengurus bisnis di luar kota, ternyata malah pergi ke london. Bu Sinta ingin menemui keluarganya di sana. Dia akan bertanya kepada semua putra dari saudaranya yang tinggal di sana. Jujur, mata biru yang di miliki oleh Baby Adel, masih tidak bisa dia lupakan.


Bu Sinta sudah bertanya kepada semua anak dari saudaranya. Kebetulan mereka juga ada yang tinggal di indonesia beberapa bulan yang lalu. Namun sekarang sudah kembali ke london, karena urusan bisnis di indonesia sudah di tangani.


"Jadi Kakak mau langsung pulang?" tanya laura yang merupakan adik kandung Bu Sinta.


"Iya, Ra. Aku harus bertemu Andika. Karena hanya Andika yang belum aku tanyai. Tadinya aku mengira, mungkin salah satu anak dari paman atau Kakakku ada hubungan dengan Anara. Namun nyatanya mereka tidak kenal."


"Iya, Kak. Mereka memang pergi ke Indonesia, tapi kalau untuk urusan cinta, mereka sudah punya kekasih disini."


"Semoga saja tidak ada hal mengecewakan yang aku dapat. Aku sungguh takut jika cucuku itu anak kandung Andika. Pasti nanti akan terjadi masalah besar."


"Semoga saja, Kak. Bisa saja warna bola mata yang di miliki oleh cucu Kakak hanya mirip saja," kata Laura.


"Aku harap begitu," ucapnya.


Bu Sinta berpamitan untuk pergi. Laura mengantar Bu Sinta menuju ke bandara. Sebenarnya Laura melarang Bu Sinta untuk pulang cepat. Namun Bu Sinta tidak bisa begitu saja membiarkan masalah yang belum tuntas. Mau sekarang atau nanti, tetap saja jika ayah kandung dari Baby Adel harus di ketahui. Karena ketika seorang wanita akan menikah, ayah kandungnya lah yang berhak menikahkan.


Tak lama menunggu, akhirnya semua penumpang di perintahkan untuk memasuki pesawat. Karena pesawat akan take off. Bu Sinta dan yang lainnya segera masuk ke pesawat.


Setelah menempuh perjalanan selama 14,5 jam, kini Bu Sinta sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Rasanya begitu melelahkan bepergian jauh. Apalagi Bu Sinta baru juga pergi dua hari yang lalu, tapi hari ini langsung pulang lagi.


Bu Sinta menemui supirnya yang sudah menunggu di depan bandara. Lalu mereka segera pergi.


Sesampainya di rumah, Bu Sinta hanya ingin beristirahat. Dia sudah ingin sekali tiduran di atas kasur.


"Akhirnya sampai juga," gumam Bu Sinta, lalu melangkah memasuki rumahnya.


Bu Sinta pergi menuju ke kamarnya. Lalu segera merebahkan diri di atas kasur.


Lebih baik aku hubungi Dika dulu," batin Bu Sinta, lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Tut tut (Panggilan terhubung)


πŸ“ž"Hallo," ucap Andika dari seberang sana.


πŸ“ž"Hallo, Nak. Besok bisa ketemuan tidak?"


πŸ“ž"Boleh, mau jam berapa?" tanya Andika.


πŸ“ž"Pagi saja, kalau kamu tidak ada urusan di kantor, kamu langsung ke rumah Mamah," pinta Bu Sinta.


πŸ“ž"Oke, Mah. Besok pagi Dika kesana.


Oh iya, kok suara Mamah seperti ngos-ngosan?"


πŸ“ž"Mamah cape sekali baru pulang," ucapnya.


πŸ“ž"Pulang dari mana?" tanya Andika.

__ADS_1


πŸ“ž"Dari london," jawabnya.


πŸ“ž"Ngapain ke london?"


πŸ“ž"Besok saja Mamah jelasinnya, sekarang lelah sekali," ucap Bu Sinta, lalu segera memutuskan panggilan telfonnya.


Sekarang Bu Sinta sudah bisa istirahat dengan tenang. Namun dia sudah tidak sabar untuk menunggu esok hari.


°°°


Pagi ini Andika sudah terlihat rapih dengan memakai jas. Dia melangkah keluar kamar dengan membawa tas kerjanya. Andika bergabung dengan istri dan mertuanya yang sudah berada di ruang makan.


"Duduk di sini, Mas." Vanesa menarik kursi untuk di duduki oleh suaminya.


"Terima kasih, sayang." Andika tersenyum menatap istrinya.


"Sama-sama, Mas." jawab Vanesa.


Vanesa mengambil piring kosong lalu memasukan nasi dan lauk untuk suaminya.


Ketiganya hanya serius melahap sarapan mereka tanpa ada yang bersuara.


Setelah selesai sarapan, mereka duduk bersantai di ruang keluarga. Mungkin hanya sekitar lima belas menit Andika berada disana. Dia memilih untuk segera pergi.


"Hati-hati, Mas." ucap Vanesa yang saat ini sedang berdiri di depan rumah. Dia menatap suaminya yang sedang memasuki mobil.


"Iya, sayang." kata Andika, sambil tersenyum menatap istrinya.


Vanesa hendak melangkah masuk. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar ponsel miliknya berdering. Ternyata Kenzo yang menelfon. Vanesa segera mengangkat panggilan telfon itu.


πŸ“ž"Hallo, sayang." ucap Vanesa sedikit mengecilkan suaranya. Karena takut terdengar oleh ayahnya.


πŸ“ž"Kamu kapan sih mengunjungiku? Aku sudah kangen nih," ucapnya.


πŸ“ž"Nanti siang aku ke Apartemenmu," ucap Vanesa.


Hanya sebentar mereka bertelfonan. Vanesa tidak mau berlama-lama bertelfonan dengan Kenzo. Karena jika ada yang mendengar bisa gawat.


Andika mengemudikan mobilnya melewati keramaian ibu kota.


Tak terasa sudah cukup lama mengemudi, kini mobil itu sudah sampai di depan rumah ibunya. Andika segera keluar dari mobil, dan melangkah mendekati pintu masuk.


Tok tok


Andika mengetuk pintu rumah itu. Kebetulan asisten rumah tangga yang membukakan pintunya.


"Silahkan masuk, Tuan!" ucapnya dengan ramah.


"Terima kasih, Bi. Apa Mamah ada?"

__ADS_1


"Sama-sama, Nyonya ada di kamarnya. Sebentar! Biar Bibi panggilkan," ucap Bi Marni, lalu segera pergi dari hadapan Andika.


Bu Sinta menghampiri anaknya yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.


"Dika, kamu pagi sekali datangnya?" Bu Sinta mendudukan dirinya di depan anaknya.


"Iya nih, oh iya, Mamah mau bicara apa sama Dika?"


"Jadi begini," sejenak Bu Sinta menghirup napasnya dalam-dalam. "Mamah baru pulang dari london untuk memastikan sesuatu," Bu Sinta menatap Andika dengan tatapan serius.


"Apa itu?"Andika penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh ibunya.


"Kamu tahu Adel kan?"


"Adel siapa? Memangnya saudara kita di london ada yang bernama Adel?"


"Adelia anaknya Anara," ucapnya.


"Apa hubungannya Mamah ke london sama Adel?" tanya Andika, yang belum tahu kemana arah pembicaraan ibunya.


"Kamu diam dulu ya, jangan banyak bicara!"


"Baiklah," Andika terlihat serius menatap ibunya.


"Mamah curiga jika ayah kandung Adel itu salah satu saudara kita. Kamu perhatikan mata birunya, hanya keluarga kita yang mempunyai warna mata biru seperti itu. Namun di antara mereka tidak ada yang mengenal Anara." ucapnya.


"Kenapa Mamah bisa mengira kalau ayah dari Adel itu keluarga kita? Bukankah mereka tinggal di London? Itu berarti kemungkinan kecil kalau ketemu dengan Anara."


"Tapi salah satu saudara kamu itu kan sering bolak balik dari london ke indonesia, ya Mamah sempat berpikiran ke sana. Tapi Mamah pergi tidak dapat hasil apa-apa," ucap Bu Sinta, lalu dia melihat raut wajah anaknya. "Kenapa kamu terlihat panik seperti itu?" tanya Bu Sinta.


"Siapa yang panik, aku biasa saja kok," ucapnya.


"Mamah kok curiga yah kalau Adel itu anak kamu,"Bu Sinta menatap anaknya penuh selidik.


Bagaimana nih kalau Mamah tahu jika aku pernah meniduri Anara? Atau jangan-jangan Adel memang anakku," batin Andika.


"Kenapa kamu diam?" Bu Sinta melihat Andika seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak kok, bukan Mah. Masa sih aku ayahnya Adel. Aku kan Kakak iparnya Anara."


"Benar juga sih," ucap Bu Sinta.


Hanya sebentar mereka mengobrol. Andika segera berpamitan untuk pergi ke kantor, sebelum ibunya melontarkan pertanyaan mengenai Anara lagi.


°°°°


MAAF YAH BARU UPDATE, DI KARENAKAN MENULIS 2 NOVEL. JADI UP GANTIAN


Nanti di tambah satu episode lagi deh😊

__ADS_1


Jangan lupa kasih like komennya biar tambah semangat UP.


__ADS_2