
Malam ini di rumah Adelia dan Rian sudah terlihat ramai. Sudah banyak orang yang datang untuk memenuhi undangan mereka. Acara syukuran yang lebih tepatnya seperti pesta, di lakukan di luar rumah. Terlihat kelap-kelip lampu yang terlihat indah menyinari kegelapan malam.
Adelia dan Rian baru keluar dari rumahnya. Mereka menyambut tamu yang sudah datang.
Terlihat pembawa acara berdiri di depan, dan memberikan sambutan. Lalu pembawa acara itu mempersilahkan Rian untuk maju ke depan.
Kini Rian sudah berdiri di depan. Dia mengucapkan terima kasih kepada semua tamu karena sudah menyempatkan untuk hadir. Rian juga mempersilahkan semuanya untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Untuk menghibur tamu undangan, Rian mengajak istrinya maju ke depan. Mereka mulai berdansa memperlihatkan keromantisan mereka di depan semuanya.
Banyak yang kagum menatap Rian dan Adelia yang terlihat sangat serasi. Beberapa dari mereka ada yang mengabadikan momen itu dengan merekamnya.
Setelah selesai berdansa, keduanya menghampiri keluarga mereka.
Bu Anara menatap anak dan menantunya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Wah kalian hebat. Mamah tidak tahu loh kalau kamu bisa dansa, Del." ucapnya sambil menatap Adelia.
"Hanya insting, Mah. Adel juga cuma ngikutin Mas Rian."
"Tapi kamu keren, Nak." Bu Anara mengacungkan kedua jempolnya.
Bu Anara menatap Kiara yang sedang duduk di dekatnya.
"Nak, kamu tidak ingin berdansa juga kah?" tanya Bu Anara.
"Tidak, Bu. Saya tidak bisa dansa," jawabnya.
"Sudahlah, Mah. Tidak usah tawarin dia. Yang ada nanti cuma malu-maluin," ucap Alan.
"Alan, kamu jangan seperti itu, Nak." tegur Bu Anara.
"Alan, lebih baik kamu ajak Kiara masuk ke rumah saja. Kasihan lagi hamil, tidak baik jika malam-malam seperti ini berada di luar rumah kelamaan," ujar Adelia.
"Kok aku?" Alan terlihat malas.
"Kalau nolak nanti Papah potong uang bulanan kamu loh," sahut Pak Andika.
"Iya deh iya," dengan terpaksa Alan menurutinya, karena dia tidak mau uang bulanannya di potong.
Kiara melangkah lebih dulu, sedangkan Alan mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
Kiara pergi ke ruang keluarga, dan duduk disana. Sedangkan Alan duduk di hadapannya sambil memainkan game online yang ada di ponselnya.
Sebenarnya Alan mau kembali keluar, namun dia tidak mau jika nanti Bu Anara atau yang lain menegurnya.
Lama kelamaan Kiara mengantuk, dia tertidur di sofa.
Satu jam kemudian, acara pesta telah selesai. Semua tamu undangan juga sudah pulang. Adelia mengajak orang tuanya untuk masuk ke rumah. Kebetulan Bu Anara dan yang lainnya memang akan menginap di rumah itu untuk malam ini.
Bu Anara menghampiri Alan yang sedang duduk sambil mendengarkan musik di ponselnya.
"Alan," Bu Anara menepuk pelan bahu Alan.
Alan menoleh ke samping.
"Ada apa si, Mah? Ngagetin saja?"
"Ngapain kamu biarkan Kinara tidur di sofa? Harusnya kamu pindahin dia ke kamar loh."
"Malas, Mah."
"Astaga, cepat kamu pindahin!"
"Iya iya deh," dengan malas Alan beranjak dari duduknya. Dia mendekati Kiara, lalu menggendongnya.
"Ah berat sekali," gumam Alan setelah merebahkan Kiara ke atas kasur.
Sejenak Alan memandang wajah Kiara yang terlihat cantik, karena penampilannya tidak culun lagi. Lalu dia beralih menatap ke perut Kiara yang terlihat buncit. Alan memberanikan diri untuk mengusap perut itu.
"Ah apaan sih?" dengan cepat, Alan menjauhkan tangannya.
°°°°°°°
Keesokan harinya, Bu Anara dan suaminya akan pulang lebih dulu. Kebetulan mereka juga bangun lebih awal.
Adelia melihat ibu dan ayahnya yang baru keluar dari kamar.
"Mah, Pah, mau kemana jam segini?"
"Kita mau pulang, Nak. Papahmu harus bersiap-siap, karena nanti agak siangan akan pergi ke luar kota."
"Sekalian ajak Alan, Pah. Lagian nantinya Alan yang akan menjadi penerus perusahan," ucap Adelia kepada ayahnya.
__ADS_1
"Iya, Nak. Tapi nanti saja. Kalau sekarang biar Alan dekat dulu dengan Kia. Papah ingin Alan menerima Kia di sampingnya," ucap Pak Andika.
"Benar juga sih."
"Ya sudah, Nak. Kita pulang dulu," pamit Bu Anara.
Bu Anara dan Pak Andika segera pergi keluar rumah.
Setelah kepergian orang tuanya, Adelia pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
Setelah selesai memasak, dia pergi ke kamar untuk membangunkan suaminya.
Cklek
Adelia membuka pintu kamarnya. Dia mendekati suaminya yang sedang tidur.
"Mas, bangun!" Adelia menepuk pelan bahu suaminya.
Tidak ada pergerakan sama sekali dari Rian. Adelia memutuskan untuk mencoba membangunkannya lagi.
"Aduh," Adelia kaget karena suaminya menariknya. Saat ini dia terjatuh ke atas kasur. Suaminya langsung memeluknya seperti guling.
"Mas, lepaskan! Ayo bangun, sekarang sudah siang loh."
"Jam berapa sih, sayang?" tanya Rian yang masih menutup matanya. Rasanya enggan untuk dia membuka mata.
"Jam setengah enam."
"Mas masih mengantuk, sayang."
"Jadi Mas Rian mau bangun tidak?"
"Tidak, nanti saja." jawabnya.
"Ya sudah, kalau begitu nanti malam tidak ada jatah."
Spontan Rian langsung membuka matanya. Dia juga beranjak dari atas tempat tidur.
"Mas bangun nih, nanti malam jatah masih dapat kan?"
Adelia tersenyum, lalu dia juga beranjak dari atas tempat tidur.
__ADS_1
"Giliran jatah, langsung bangun. Iya deh, asal Mas Rian langsung mandi."
"Siap, laksanakan." setelah mengatakan itu, Rian langsung pergi ke kamar mandi.