
Terlihat Eva dan orang tuanya baru pulang dari hotel. Mereka melihat Adelia yang sedang menyapu di ruang depan.
"Loh, Adel, kok kamu yang menyapu?" tanya Bu Anara.
"Iya, Mah. Kebetulan tadi Bibi ijin pulang kampung karena anaknya akan menikah," kata Adelia.
"Kok Bibi tidak bilang sama Mamah?"
"Itu karena acaranya mendadak, Mah. Bibi juga baru di kasih tahu tadi malam sama keluarganya," jelas Adelia.
"Begitu ya, tapi kamu kasih uang bonus tidak?" Bu Anara kembali bertanya.
"Adel kasih kok, Mah. Ya sudah Adel mau lanjut beres-beres rumah lagi," Adelia melangkah pergi dari sana dengan kaki yang sedikit pincang.
Bu Anara merasa aneh melihat anaknya yang terlihat kesusahan saat berjalan.
"Adel, kamu kenapa?" tanya Bu Anara.
"Kenapa apanya, Mah?" Adelia menatap Bu Anara yang juga sedang menatapnya.
"Jalanmu kok pincang gitu?"
"Oh, ini tadi Adel terpeleset saat Adel bersihin kamar mandi," Adel terpaksa berbohong demi kebaikan semua orang.
"Hati-hati dong, Nak. Sudah, kamu tidak usah bersih-bersih dulu. Biar Mamah yang selesaikan sisanya," ucap Bu Anara yang merasa kasihan kepada anaknya.
"Adel tidak apa-apa kok, Mah."
"Jangan keras kepala!" Bu Anara mendekati anaknya dan mengajaknya duduk.
Terlihat Rian menuruni tangga. Dia menghampiri keluarga barunya.
"Loh, Rian. Kamu pulang kesini kapan?" Bu Anara bertanya kepada Rian. Sedangkan Eva hanya duduk sambil cemberut. Dia ingin jika suaminya menyesal karena sudah pergi di malam pertamanya.
"Tadi malam, Mah." ucapnya.
"Jadi kamu sama Adel hanya berdua saja di rumah ini?"
"Iya," ucap Rian dengan santainya.
Rian bingung mau bicara apa. Disana ada Eva yang terlihat merajuk. Namun Adelia juga ada disana. Rian takut salah bicara yang mungkin menyakiti hati Adelia.
"Eva, ayo ikut ke kamar! Ada hal yang ingin aku bicarakan," ucap Rian kepada Eva.
"Kenapa tidak bicara disini saja?" tanya Eva.
"Aku tidak mau orang lain mendengarnya," ucap Rian sambil menatap Adelia. Sebenarnya Rian tidak mau jika Adelia mendengar perkataannya.
"Menurut saja dengan suamimu, mungkin dia mau menjelaskan yang semalam," ujar Bu Anara.
Akhirnya Eva menurut dengan perkataan ibunya. Dia mengikuti suaminya pergi ke kamar. Alan juga beranjak dari duduknya. Dia akan ke kamarnya karena masih mengantuk.
__ADS_1
"Pah, Adel mau bicara sesuatu," Adelia ingin membicarakan hal penting dengan ayahnya. Dia sengaja berbicara saat kedua adiknya sudah tidak ada disana.
"Bicaralah!"
"Sebenarnya Adel ingin melanjutkan S2 di london."
"Kamu yakin? Bukankah kamu sendiri yang sudah memutuskan untuk tidak melanjutkana S2, tapi memilih untuk mengurus perusahaan," ujar Pak Andika.
"Tapi sekarang aku berubah pikiran, Pah. Aku berniat untuk melanjutkan S2."
"Kamu yakin?"
"Yakin, Pah. Adel sudah memikirkan ini berulang kali," ucapnya.
"Baiklah jika itu maumu, Papah akan mengijinkan kamu pergi. Tapi nanti disana kamu tinggal di rumah teman Papah saja."
"Tidak mau, Pah. Aku ingin hidup mandiri," ucapnya.
"Ingat, Del. Di negera orang itu hidup bebas. Papah tidak mau ya jika kamu bergaul bebas seperti orang barat."
"Pah, Papah seperti baru mengenal anak kita saja. Adel bukan tipe wanita yang mudah goyah," sahut Bu Anara.
"Benar juga sih," ucap Pak Andika.
Kali ini Pak Andika mengijinkan anaknya pergi, dan juga membiarkan anaknya hidup mandiri. Itu semua berkat Bu Anara yang ikut membujuk Pak Andika agar tidak terlalu mengekang anaknya.
Adelia merasa senang karena di ijinkan pergi. Mungkin niatnya ijn berkuliah, namun dia akan kuliah atau tidak itu tergantung nanti. Saat ini yang terpenting dia bisa keluar dulu dari rumah itu. Adelia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Adelia mengambil beberapa pakaian yang akan dia bawa dari dalam lemari. Lalu dia masukan ke dalam koper. Dia juga akan membawa barang berharganya seperti foto keluarga yang selalu dia pajang di meja dekat tempat tidur.
Adelia menatap sekeliling kamar yang sebentar lagi akan dia tinggal pergi.
Sebenarnya Adelia merasa berat jika harus pergi meninggalkan rumah itu. Namun itu semua dia lakukan demi pernikahan adiknya. Dia tidak mau menjadi orang ketiga dalam pernikahan adiknya. Untuk kecelakaan kemarin, dia berusaha untuk melupakannya. Mungkin dengan dia pergi ke negara bebas, dia bisa di pertemukan dengan lelaki yang bisa menerimanya dengan keadaan dia yang sudah tidak suci lagi.
Setelah selesai membereskan barang bawaannya, Adelia pergi keluar kamar. Dia akan ke ruang makan untuk makan malam bersama keluarganya. Walaupun nanti dia bertemu Rian, namun dia akan berusaha bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Adelia sudah sampai di ruang makan. Dia menarik kursi untuk dia duduki. Tak lama, datanglah pasangan pengantin baru yang terlihat sedang kasmaran. Sejak tadi Eva menggandeng tangan Rian.
“Wah, pasangan pengantin baru terlihat bahagia sekali nih,” ucap Bu Anara yang sedang memperhatikan Eva dan Rian.
“Mamah bisa saja,” Eva terlihat malu-malu.
Eva menarik kursi, lalu menyuruh suaminya untuk duduk disana.
“Eva, karena kamu sudah menikah, sebaiknya kamu pindah ke rumah Aldi. Lagian rumah itu sudah menjadi hak waris untuk kamu. Kalau kamu tidak suka dengan modelnya yang sudah kuno, nanti bisa di renovasi sesuai keinginan kamu,” ujar Pak Andika kepada anaknya yang baru duduk di kursi.
“Kalau Eva terserah sama Mas Rian saja,” ucapnya sambil menatap Rian yang duduk di sebelahnya.
“Saya mau kok, mungkin biar kita lebih mandiri juga,” sahut Rian, lalu mengambil gelas yang berisi air putih.
“Nanti Mamah kesepian deh, kalau Adel jadi pergi ke london, lalu Eva juga pindah rumah,” ujar Bu Anara yang merasa berat untuk berpisah dengan anak-anaknya.
__ADS_1
Uhuk uhuk
Rian terbatuk saat mendengar jika Adelia akan pergi.
“Sayang, hati-hati dong kalau minum,” Eva menatap suaminya yang sedang mengelap sudut bibirnya yang basah.
“Maklum, namanya juga pengantin baru, pasti gerogi,” goda Bu Anara.
Sedangkan Rian hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka.
Pak Andika menyuruh semuanya untuk diam, lalu mereka memulai makan malam.
Sesekali Rian menatap Adelia yang duduk di depannya. Dia merasa kasihan karena sudah merusak masa depannya. Rian bingung harus memberikan solusi yang seperti apa. Jika dia mengatakan semuanya, pasti keluarganya akan kecewa. Namun jika dia membiarkan Adelia menanggung sendiri bebannya, dia merasa bersalah karena menjadi lelaki pengecut yang tidak mau bertanggung jawab dengan perbuatannya.
Adelia sudah selesai makan malam terlebih dahulu. Dia memilih untuk pergi dari sana.
Setelah kepergian Adelia, Rian juga menyudahi makan malamnya. Dia berpamitan untuk pergi ke kamar.
Kebetulan kamar yang di tempati oleh Rian dan Eva bersebelahan dengan kamar Adelia. Rian masuk begitu saja ke kamar Adelia. Kebetulan pintunya tidak terkunci.
“Adel,” ucap Rian.
Adelia membelalakaan kedua matanya saat melihat Rian ada di kamarnya.
“Ngapain kamu kesini? Nanti kalau ada yang melihat bisa gawat,” Adelia merasa cemas.
“Tenang saja, mereka masih sibuk makan malam,” Rian mengunci pintu kamar itu, lalu dia melangkah mendekati sofa yang ada di kamar itu.
“Siapa yang menyuruh kamu duduk?”
“Kemarilah,” Rian menepuk sofa sebelahnya.
Adelia melangkah mendekati Rian, lalu dia duduk disana.
“Kenapa kamu pergi?”
“Aku butuh waktu untuk menenangkan diri,” jawab Adelia.
“Jika dia tumbuh disini,” Rian mengelus perut Adelia yang masih datar.
“Itu tidak akan terjadi, lagian kita hanya melakukannya satu kali,” kata Adelia.
“Jadi kamu akan tetap pergi?”
“Iya, itu sudah keputusanku,” jawabnya.
“Baiklah, nanti aku sesekali akan menengok kamu.”
“Itu tidak perlu,” kata Adelia.
Hanya sebentar Rian mengobrol dengan Adelia. Dia memilih keluar dari kamar itu karena takut jika ada yang melihatnya berada disana.
__ADS_1