Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.59


__ADS_3

Alan sudah kembali ke Apartemen. Dia menaruh bubur ayam yang di belinya ke dalam mangkuk. Alan menaruh mangkuk itu ke dalam nampan. Lalu dia juga mengambil air minum, dan menaruhnya disana.


Alan melangkah menuju ke kamar Kinara. Di apartemen itu memang tidak ada pembantu yang menetap. Jadi Alan yang harus mengurus Kinara. Saat pagi memang ada pembantu yang datang untuk sekedar bersih-bersih. Tapi pembantu itu tidak menginap disana.


Cklek


Alan membuka pintu kamar Kiara. Dia masuk ke dalam kamar itu. Lalu nampan yang sedang dia bawa, di taruh di atas meja dekat ranjang.


"Nih bubur, cepat makan!" ucap Alan dengan sedikit ketus.


Kiara hendak mengambil piring itu. Namun tangannya gemetar saat hendak meraihnya.


"Astaga merepotkan saja," Alan mengambil piring itu. Lalu dia mulai mengambil satu sendok bubur ayam, dan menyuapkannya kepada Kiara.


Kiara menerima suapan itu. Dia tahu jika Alan tidak ikhlas menyuapinya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sangat lemas.


Walaupun makan di paksakan, tapi Kiara berhasil menghabiskan satu mangkuk bubur ayam. Dia juga tidak merasa mual, mungkin karena Alan yang menyuapinya.


Alan mengambil obat lalu mengambilnya masing-masing satu dari tiga macam obat, lalu memberikannya kepada Kiara.


"Minumlah!" ucap Alan.


Kiara mengambil obat itu, lalu mulai menelannya satu-satu.


Setelah meneguk habis air yang ada di dalam gelas, Kiara kembali menyenderkan kepalanya di sandaran ranjang.

__ADS_1


"Aku keluar dulu," Alan beranjak dari duduknya dengan membawa nampan yang tadi dia bawa.


Kiara tersenyum senang sambil menatap kepergian Alan. Dia senang karena Alan masih mau peduli kepadanya. Walaupun Alan terlihat tidak ikhlas melakukannya, namun setidaknya dia masih mempunyai hati nurani.


°°°°°°


Kiara merasa ingin buang air kecil. Dia beranjak dari atas tempat tidur. Namun saat berdiri dia merasakan pusing.


Alan yang baru membuka pintu kamar Kiara, dia melihat Kiara yang sedang berdiri sambil berpegangan di pinggiran ranjang.


"Mau kemana kamu?" tanya Alan, yang kini berdiri di depan pintu.


"Aku mau ke kamar mandi," jawabnya.


"Mau ngapain?"


"Biar aku bantu," Alan melangkah mendekati Kiara.


"Tidak usah, aku bisa sendiri kok."


"Biar aku bantu jalan. Nanti aku tunggu di depan pintu."


"Terima kasih," ucap Kiara.


"Hm," hanya itu yang di ucapkan oleh Alan.

__ADS_1


Alan memapah Kiara hingga masuk ke kamar mandi.


"Pintunya tidak usah di kunci. Lagian tidak ada yang mengintip."


"Iya," kata Kiara.


Alan keluar dari kamar mandi. Dia berdiri di depan pintu.


Tak lama, Alan mendengar suara Kiara yang memanggil-manggil namanya. Alan segera membuka pintu kamar mandi. Dia kembali membantu memapah Kiara.


"Maaf aku banyak merepotkan," ucap Kiara yang kini sudah duduk di pinggir ranjang.


"Baru nyadar?" ucap Alan ketus.


"Maaf," Kiara merasa tak enak karena selalu merepotkan Alan.


Alan segera keluar dari kamar Kiara. Niatnya dia akan pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Namun baru juga keluar kamar, Alan mendengar pintu depan terbuka. Terlihat Eva yang baru datang.


"Kakak kemana saja sih? Kok baru pulang?" tanya Alan.


"Aku menginap di rumah Tante Vanesa. Memangnya kenapa?"


"Kiara sakit, dan aku yang mengurusnya. Lagian Kakak sepertinya sengaja ninggalin kita berdua."


"Tapi usaha Kakak berhasil kan. Kamu dan Kiara saling dekat. Oh iya, Kakak mau tengok Kia dulu deh," Eva berlalu pergi dari hadapan Alan.

__ADS_1


Alan mendengus kesal sambil menatap kepergian Eva.


__ADS_2