Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.88


__ADS_3

Saat ini Dinda sudah berada di ruangan Anara. Ke duanya duduk berhadapan. Namun Anara terlihat menundukan kepalanya. Anara mengangkat wajahnya lalu menatap Dinda yang duduk di hadapannya.


"Kak Dinda, maaf aku harus mengatakan ini. Mulai hari ini Kak Dinda di pecat." setelah mengatakan itu, Anara membuka laci meja kerjanya. Dia mengambil amplop coklat yang sudah dia siapkan.


"Ini gaji terakhir dan sedikit pesangon," Anara meletakan amplop coklat itu di atas meja.


Dinda masih diam, dia tak percaya jika harus kehilangan pekerjaannya.


"Kenapa saya di pecat begitu saja? Apa salah saya?"


"Lebih baik Kak Dinda renungkan apa kesalahan yang sudah Kakak lakukan. Tanpa saya jelaskan juga, pasti Kak Dinda tahu sendiri," kata Anara.


Dinda tidak bicara apa pun. Dia mengambil amplop coklat yang ada di atas meja, lalu langsung pergi begitu saja dari sana.


Anara menatap kepergian Dinda sambil tersenyum kecut. Sebenci itukah dia kepadanya, sehingga untuk menyapa juga enggan.


Dinda pergi ke tempat istirahat karyawan. Dia mengmbil tas slempang miliknya, lalu memasukan amplop coklat itu ke dalam tas.


"Woy, mau kemana nih? Jam segini kok sudah pegang tas?" tanya Agus sambil menepuk punggung Dinda.


"Mulai sekarang aku tidak bekerja lagi disini, aku di pecat."


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah, aku kan suka gosipin bos, paling ada yang mengadu, dan sekarang aku di pecat."


"Wah itu sih salahmu," Agus menepuk pelan bahu Dinda. "Selamat sampai tujuan, kamu mau pulang kampung kan?"


"Belum tahu nih."


Setelah mengatakan itu, Agus pergi dari hadapan Dinda.


°°°


Menjelang jam makan siang, Anara masih belum berencana untuk pergi keluar. Dia masih fokus mengerjakan pekerjaannya.


Tok tok


Anara mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya. Dia beranjak dari duduknya, lalu membuka pintu itu. Ternyata suaminya yang datang.


"Mas Dika, kok datang kesini sih?"

__ADS_1


"Memangnya tidak boleh jika suami datang mau ngajakin istrinya makan siang?"


"Ya boleh dong, memangnya Mas Dika tidak sibuk? Kok masih sempat datang kesini?"


"Ya sedikit sibuk sih, nanti juga kembali ke kantor. Tapi kamu harus ikut loh," ucapnya.


"Ngapain?"


"Ayolah, temani suamimu ini bekerja biar tambah semangat," ucapnya.


"Baiklah, sebantar ya aku mau beres-beres dulu."


"Aku ikut," Andika mengikuti istrinya masuk ke ruangan itu.


Andika duduk di sofa sambil menunggu istrinya yang sedang sibuk membereskan meja kerjanya.


Anara mengambil tas miliknya, lalu dia mendekati suaminya.


"Ayo!" ajak Anara.


Andika beranjak dari duduknya. Lalu dia merengkuh pinggang istrinya.


"Mas, ngapain?" Anara mencoba untuk melepaskan tangan suaminya. Namun Andika tidak mau melepaskan tangannya.


"Tapi Nara malu loh nanti di lihatin para karyawan."


"Tidak apa-apa, sayang. Biar semua orang tahu jika kamu ini milikku," ucapnya.


Terpaksa Anara menuruti keinginan suaminya. Walaupun sebenarnya dia merasa malu.


Semua karyawan menatap Anara dan Andika yang begitu romantis. Anara hanya menunduk karena merasa malu.


Saat ini mereka sudah ada di dalam mobil.


"Mas, kita mau makan siang dimana?"


"Di kantorku saja, nanti go food." ucapnya.


"Kenapa tidak mampir ke restoran saja?"


"Tidak mau," ucap Andika, lalu dia segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya.

__ADS_1


Setelah cukup lama mengemudi, kini


ke duanya sudah sampai di tempat tujuan.


Anara dan Andika jalan berdampingan memasuki kantor. Beberapa karyawan yang berpapasan, menyapa mereka.


Kini mereka memasuki lift menuju ke lantai paling atas.


Ting


Pintu lift terbuka, Andika menggandeng tangan istrinya. Lalu mereka melangkah menuju ke ruangan Andika. Sesampainya di ruangan, Andika langsung mengunci pintu.


"Mas, kok pintunya di kunci? Pesan makan siangnya sudah belum?" tanya Anara.


"Nanti saja, sayang. Sekarang Mas hanya mau memakanmu," Andika mengedipkan sebelah matanya.


"Mas Dika apa-apaan sih? Ini masih siang loh?"


"Tapi Mas ingin, ayolah sayang."


"Baiklah," Anara hanya menurut dengan suaminya. Walaupun menolak, pasti suaminya akan tetap melakukannya.


Andika mengajak istrinya ke kamar pribadi yang ada di ruangan itu. Dengan tidak sabaran, Andika melucuti pakaiannya dan pakaian istrinya. Lalu mereka masuk ke dalam selimut yang sama.


Sudah cukup lama mereka bergelut di atas kasur. Anara terus meremas seprei untuk menahan tubuhnya. Suaminya begitu bersemangat menghujam miliknya.


"Mas, pelan-pelan!"


"Kenapa, sayang? Kamu lelah?" tanya Andika tanpa menghentikan aksinya.


"Bukan lelah lagi, nih tubuhku sakit semua."


"Tapi milikku masih betah disana," ucapnya, sambil menujuk miliknya.


"Jika begini aku bisa hamil lagi," gumam Anara.


"Bagus dong kalau kamu hamil lagi," ucap Andika sambil melepaskan miliknya. Dia merasa kasihan melihat istrinya yang sudah kelelahan.


Andika mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu dia memesan makan siang.


"Aku mandi dulu," Andika kembali meletakan ponselnya. Lalu dia turun dari atas tempat tidur.

__ADS_1


Setelah kepergian suaminya, sejenak Anara memejamkan ke dua matanya.


__ADS_2