Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.84


__ADS_3

Dua minggu kemudian


Akhirnya hari yang di tunggu- tunggu telah tiba. Yaitu hari pernikahan Anara dan Rian. Acara pernikahan mereka di laksanakan secara sederhana.


Anara terlihat begitu cantik menggunakan balutan kebaya putih, dan riasan tipis di wajahnya. Kini dia di antar oleh Bu Sinta dan Ani menuju ke tempat ijab qabul.


Ternyata Andika juga datang dengan Stela. Namun dia sengaja duduk agak jauh. Rasanya begitu sesak melihat wanita yang dia cintai menikah dengan orang lain.


"Bagaimana ke dua mempelai? Apakah sudah siap?" tanya Pak penghulu.


Rian menundukan pandangannya. Dia mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.


"Maaf, mempelai laki-lakinya harus di ganti," ucap Rian.


Semua yang hadir disana merasa bingung mendengar ucapan Rian.


Rian beranjak dari duduknya. Dia pergi untuk menghampiri Andika, lalu mengajaknya ke tempat ijab qabul. Andika merasa bingung dengan semua ini.


Terlihat Bu Sinta yang mendekati anaknya bersama salah seorang tamu undangan.


"Dika, lihatlah ini! Ini undangan pernikahan yang di berikan ke salah satu tamu undangan."


Andika mengambil undangan pernikahan yang sedang di pegang oleh Ibunya. Itu merupakan undangan pernikahan Anara. Karena dia juga punya undangan seperti itu. Namun saat melihat namanya dan Anara yang ada di undangan itu, dia merasa bingung.


"Mah, kok beda sama undangan milikku?" tanya Andika.


"Itu sengaja, karena kita bertiga yang sudah merencanakan semua ini," ucap Bu Sinta sambil menatap Rian dan Stela.


"Apa maksudnya? Kenapa jadi seperti ini?" Anara datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Maaf, Nara. Tapi kamu dan Andika memang pantas bersatu. Kalian sama-sama mencintai." Lalu Bu Sinta beralih menatap Rian. "Maaf Nak Rian, karena Tante sudah menyuruhmu untuk mengalah."


"Tidak apa-apa, Tante. Rian juga ikut bahagia jika melihat Anara bahagia." ucapnya.


"Nara terimalah Andika sebagai suamimu, ini kado terindah yang Mamah berikan di hari ulang tahunmu. Kami sengaja merencanakannya. Ya, walaupun awalnya Rian memang berniat untuk menikahimu beneran." jelas Bu Sinta.


Anara menangis terisak, dia tidak menyangka jika bisa bersatu dengan orang yang di cintainya. Begitu juga Andika yang tidak meyangka hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuknya.


Semua tamu undangan ikut terharu melihat mempelai wanita yang sedang menangis bahagia.


Bu Sinta mengambil kotak cincin dari dalam tasnya. Lalu di berikan kepada Andika.


Andika berjongkok di hadapan Anara dan memegang tangannya. Lalu dia membuka kotak cincin itu.


"Anara, wanita yang paling aku cintai. Dan kamu merupakan ibu dari anak-anakku. Maukan kamu menikah denganku?" tanya Andika.


Semua tamu yang ada di sana bertepuk tangan untuk calon pengantin itu.


Bu Sinta menyuruh Anara dan Andika ke tempat yang sudah di persiapkan untuk ijab qabul. Sekarang perasaan ke duanya sudah lega. Tidak ada lagi yang mengganjal di pikiran mereka.


Pak penghulu mengarahkan Andika untuk melafadzkan ijab qabul. Dengan sekali ucap, Andika melafadzkannya dengan benar. Semuanya ikut berbahagia melihat Andika dan Anara yang sudah sah menjadi suami istri.


Anara mencium punggung tangan istrinya. Lalu Andika mencium keningnya.


Setelah selesai ijab qabul. Andika dan Anara meminta Bu Sinta untuk menjelaskan semuanya.


Kini Anara dan Andika duduk bersama Bu Sinta, Pak Indra, Rian, dan Stela.


Rian mulai menceritakan semuanya dari awal. Jika saat itu dia melihat Anara menangis saat keluar dari toilet restoran. Setelah mengantar Anara pulang, dia kembali ke restoran untuk melihat rekaman CCTV. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Anara.

__ADS_1


Setelah dia melihat rekaman CCTV di restoran, ternyata setelah Anara masuk ke toilet wanita, Andika dan Stela juga masuk ke sana. Rian bisa menduga jika Anara melihat kebersamaan Andika dan Stela. Mungkin itu penyebab Anara menangis saat itu.


Rian juga bercerita, jika Bu Sinta beberapa kali memintanya berpikir dua kali untuk menikahi Anara. Karena terlihat sekali Anara mau menikah dengannya hanya terpaksa.


Andika tidak menyangka jika Rian melakukan itu semua. Rela membiarkan wanita yang di cintai menikah dengan lelaki lain. Andika juga mengucapkan terima kasih. Karena saat ini dia yang menikah dengan Anara.


"Bagaimana perasaan kalian?" Bu Sinta bertanya kepada anak dan menantunya.


"Nara senang, Mah." Anara tersenyum menatap Bu Sinta.


"Dika juga bahagia sekali, Mah. Terima kasih untuk semuanya yang sudah menyatukan kita."


"Jika tidak dengan cara ini, Anara tidak mungkin mengakui perasaannya," ucap Bu Sinta.


"Nara malu, Mah."


"Kalau cinta tidak usah malu-malu, langsung serobot saja," ucap Rian.


"Memangnya malam pertama, langsung serobot," ucap Bu Sinta.


Spontan mereka semua menatap ke arah Bu Sinta. Apalagi Anara yang terlihat malu-malu.


Hanya sebentar mereka mengobrol. Karena Bu Sinta meminta mereka untuk foto bersama, untuk mengabadikan momen yang sangat indah ini.


Menjelang sore, rumah itu sudah terlihat sepi. Karena semua tamu undangan sudah pulang.


Bu Sinta menyuruh Anara dan Andika untuk beristirahat di kamar. Andika langsung menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar. Terlihat senyum terpancar dari sudut bibir ke duanya.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2