
Setelah tahu jika suaminya membohonginya, Vanesa jadi lebih curigaan kepada suaminya. Bahkan dia memutuskan untuk membuntuti kemana suaminya pergi.
Saat ini Vanesa ingin menyusul suaminya ke kantor. Di tengah perjalanan, dia melihat Anara yang sedang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya Anara habis belanja, karena dia memegang plastik putih ukuran besar.
Vanesa menatap sekelilingnya. Ternyata suasana di sana tidak terlalu rame. Dia langsung tancap gas dan menyerempet Anara. Lalu dia pergi begitu saja dari sana.
Terlihat ada dua orang yang menghampiri Anara.
"Nona tidak apa-apa?" tanya seorang wanita seusianya.
"Saya tidak apa-apa kok," ucap Anara.
"Syukurlah, biar saya bantuin yah," wanita itu mengambil beberapa barang belanjaan Anara yang terjatuh, lalu memasukannya kembali ke plastik.
"Siapa sih orang tidak bertanggung jawab itu? Sudah menabrak harusnya nolongin, ini malah kabur," ucap seorang lelaki yang bersama wanita itu.
"Aku tidak apa-apa kok, mungkin orang itu tidak sengaja," Anara berdiri kembali, lalu dia mengambil plastik belanjaannya yang tergeletak di jalan.
"Mau kita antar pulang?" tawar seorang wanita itu.
"Tidak usah, saya sudah pesan taxi online kok," ucap Anara.
"Baiklah, kami tinggal yah. Karena kami masih ada urusan di luar," ucapnya.
"Iya, terima kasih yah karena sudah membantu saya," Anara tersenyum menatap keduanya.
"Sama-sama, Nona." setelah berpamitan untuk pergi, keduanya pergi dari hadapan Anara.
Tak lama, taxi online yang di pesan Anara sudah datang. Anara langsung masuk ke mobil dan meminta Pak supir untuk segera mengantarnya pulang.
Hanya dua puluh menit saja, kini taxi itu sudah sampai di tempat tujuan. Anara segera keluar setelah membayar. Anara melangkahkan kakinya melewati halaman rumah. Dia sedikit kesusahan saat berjalan karena kakinya terasa sakit.
Bi Inem melihat majikannya yang baru pulang, lalu menghampirinya.
"Non Anara kenapa?" Bi Inem mendekati Anara.
__ADS_1
"Hanya jatuh kok, Bi." ucapnya.
"Kasihan sekali, Non. Biar Bibi bantuin bawa belanjaannya, Ya!" Bi Inem mengambil plastik berisi belanjaan yang sedang di pegang oleh Anara.
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Non."
Bi Inem kembali masuk setelah Anara sudah masuk ke rumah.
°°°
Andika sedang duduk bersama dengan Melisa. Kebetulan tadi Melisa pergi ke kantornya. Walaupun sudah di pecat, tapi dia masih suka pergi kesana untuk menemui Andika.
"Jadi apa masalahmu? Sepertinya kamu menyimpan banyak rahasia dariku?" tanya Melisa, yang saat ini sedang duduk di sebelah Andika.
"Tidak ada," ucapnya.
"Apa ini masalah istrimu yang sudah tidak bisa hamil itu. Sudahlah, tinggalkan saja dia. Nanti aku juga akan tinggalkan suamiku, dan kita akan menikah."
"Lalu?"
"Ini menyangkut adik iparku. Sepertinya anak yang dia lahirkan itu anakku," ucap Andika.
Dari arah belakang mereka, terlihat Vanesa yang sedang melangkah masuk ke ruangan itu. Karena kebetulan pintu ruangan itu tidak tertutup, jadi Vanesa bisa masuk begitu saja.
"Apa maksudmu, Mas?" Vanesa melangkah mendekati mereka.
Andika terkejut saat mendengar suara istrinya. Dia menoleh ke sumber suara. Sedangkan Melisa merasa senang melihat Vanesa yang terlihat emosi.
"Suamimu ini menghamili dua wanita. Yang satu aku, yang satunya lagi adik iparnya," ucap Melisa.
Vanesa terbelalak mendengar perkataan Melisa. Dia tidak percaya jika suaminya melakukan itu.
"Jangan asal bicara! Dasar pelakor kegatelan," Vanesa mendekati Melisa lalu menarik rambutnya.
__ADS_1
"Aww ... sakit ... "Melisa meringis merasakan sakit.
"Cukup!" ucap Andika dengan suara sedikit meninggi.
Vanesa melepaskan cekalannya dari rambut Melisa. Lalu dia beralih menatap suaminya.
"Apa yang dia ketakan benar, Mas?" tanya Vanesa.
"Benar, aku sudah menghamilinya," kata Andika.
"Lalu yang dia bilang adik ipar, jangan bilang kalau itu ... " Vanesa tak melanjutkan perkataannya.
"Ya, itu Anara," ucap Andika sambil menunduk.
Sebenarnya Andika itu penasaran dengan Ibunya yang mengira jika dia ayah dari anak yang di kandung oleh Anara. Dia berpikir, tidak mungkin jika Anara berhubungan dengan lelaki lain, kecuali suaminya yang sekarang. Apalagi Anara terlihat sangat polos. Dengan bola mata Baby Adel, dan wajahnya yang sedikit mirip dengannya, itu sudah membuktikan jika di antara keduanya bisa saja ada kecocokan sebagai ayah dan anak.
Plak
Vanesa menampar pipi suaminya.
"Dasar bajingan! Lihat saja, nanti kamu yang akan menyesal," Vanesa melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Amarahnya begitu menggebu-gebu. Dua orang yang tidak dia suka ternyata sudah menggoda suaminya.
'Awas saja Anara, aku akan memberimu perhitungan,' batin Vanesa.
Andika masih berdiri di tempatnya. Melisa mendekatinya lalu memegang lengannya. Namun Andika melepas kasar tangan Melisa.
"Jangan pegang saya! Sekarang pergilah!" Andika mengusir Melisa, karena dia tidak ingin di ganggu oleh siapa pun untuk saat ini.
"Tapi, sayang. Aku mau menemai kamu loh," ucap Melisa.
"Jangan menambah masalah lagi!" Andika melangkah mendekati kursi kebesarannya, lalu dia duduk disana.
Melisa menghela nafasnya, lalu dia pergi keluar dari ruangan itu. Setidaknya dia sedikit senang karena bisa membuat Vanesa marah. Apalagi Vanesa pasti cemburu karena suaminya bisa punya anak dengan wanita lain.
'Urusan Vanesa beres, sekarang aku tinggal menemui wanita yang bernama Anara. Semoga saja wanita itu tidak jadi penghalang untuk aku merebut Andika.' batin Melisa.
__ADS_1
°°°°