Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.103


__ADS_3

Anara dan Andika baru pulang ke rumah. Anara terus memegang erat tangan suaminya. Dia masih trauma dengan kejadian tadi.


"Sayang, tidak apa-apa kok. Kamu jangan takut," Andika mengusap pelan bahu istrinya. Kebetulan saat ini dia dan istrinya saling bersebelahan. Karena Anara yang terus memegang erat lengan suaminya.


Mereka berdua masuk ke rumah. Kebetulan pintu depan tidak tertutup.


"Nona kenapa?' Ani melihat pipi Anara di balut dengan kain kasa.


"Saya tidak apa-apa kok," ucapnya.


"Biar saya ambilkan air hangat untuk Non Nara," Ani menatap sekilas Adelia dan Eva yang terlihat asyik bermain. Ani beranjak dari duduknya, lalu pergi ke dapur.


Andika dan Anara duduk di sofa. Mereka menatap ke dua anaknya yang sedang bermain di atas tikar.


Ani sudah kembali datang dengan membawa teh hangat untuk majikannya. Ani merasa jika Anara sedang tidak baik-baik saja, jadi dia membawakannya teh hangat.


"Silahkan di minum!" Ani menaruh dua gelas teh hangat manis di atas meja.


"Terima kasih," ucap Anara.


"Sama-sama," setelah mengatakan itu Ani pergi ke dapur untuk menaruh nampan.


Ani kembali menghampiri Adelia dan Eva yang sedang bermain.


"Ani, Mamah dimana? Apa sudah pulang?" Andika bertanya kepada Ani yang sedang duduk di tikar bersama Adelia dan Eva.


"Bu Sinta dan Bi Inem pergi ke supermarket," ucapnya.


"Pantas ini rumah sepi sekali," ucap Andika.


Pak Indra baru masuk ke rumah. Kebetulan tadi habis bersantai di taman belakang. Pak Indra ikut bergabung bersama Anara dan Andika. Pak Indra menatap pipi Anara yang di balut dengan kain kasa.


"Nak, pipi kamu kenapa?" tanya Pak Indra.


"Tidak apa-apa kok, Pah. Hanya luka kecil saja," jawab Anara.


"Jangan berbohong, Nak. Papah melihat kamu sepertinya sedang tidak baik-baik saja," ucap Pak Indra, sambil memperhatikan raut wajah anaknya.


"Tadi Nara di culik, Pah." ucap Andika.


"Siapa yang menculik? Lalu, apa penculik itu sudah tertangkap?" tanya Pak Indra.


"Sudah, Pah." jawab Andika.


"Syukurlah," Pak Indra bernapas lega. Lalu Pak Indra menatap Anara. "Tapi pipi kamu, apa itu ulah penculik itu?" tanya Pak Indra.


"Bukan kok, Pah. Ini hanya karena kecerobohan Nara saja," ucapnya.


"Lain kali hati-hati, Nak."


"Iya, Pah. Lain kali Nara pasti akan berhati-hati kok," kata Anara.


•••••••


Karena kejadian penculikan yang di alami oleh Anara, sekarang Andika jadi membatasi istrinya itu untuk keluar masuk rumah. Andika tidak mengijinkan istrinya pergi sendirian.


Saat ini Andika sedang bersiap karena akan pergi ke kantor. Dia menatap istrinya yang sedang memberesksn tempat tidur.

__ADS_1


"Sayang, nanti kamu di rumah saja ya. Kalau mau pergi harus ada yang menemani. Itu juga, kamu harus ijin dulu sama suamimu ini," ujar Andika.


"Siap, Bos." kata Anara.


"Kenapa wajah kamu cemberut seperti itu?" tanya Andika, sambil menatap wajah istrinya.


"Tidak kok, hanya bosan saja."


"Kalau bosan pergi jalan-jalan," kata Andika memberi saran.


"Jalan-jalan juga bosan, kurang jauh."


"Maaf, sayang. Aku tidak mengijinkan kamu pergi jauh tanpaku. Nanti ya kalau libur kerja kita pergi."


"Hari liburnya lama, masih tiga hari lagi." Anara masih menunjukan wajah cemberut.


"Yang sabar, sayang. Nanti sepulang kerja, aku belikan makanan kesukaanmu."


"Baiklah, aku akan bersabar hingga tiga hari ke depan."


"Nah gitu dong," Andika mengecup singkat kening istrinya.


"Biar aku yang bawakan tasnya," Anara mengambil tas yang sedang di pegang oleh istrinya.


Andika dan Anara keluar dari kamar. Mereka akan sarapan bersama.


Adelia menarik-narik baju Anara. Anara menatap anaknya yang sedang menatapnya.


"Ada apa, sayang? Mamah lagi sarapan nih," Anara menatap anaknya yang sedang menarik-narik bajunya.


"Adel mau mamam?"


Adelia menganggukan kepalanya.


"Sinih duduk dulu," Anara mengangkat anaknya, lalu dia dudukan di kursi sebelahnya.


Anara melihat Ani yang sedang sibuk di dapur.


"Kak Ani, makanan untuk Adel sudah jadi?" tanya Anara dengan sedikit berteriak.


"Sudah, Non. Sebentar mau saya taruh ke mangkuk," ucapnya.


Ani datang dengan membawa bubur kesukaan Adelia.


"Adel makan dulu," Ani menaruh mangkuk yang dia bawa di atas meja.


Adelia menarik-narik tangan Ani.


"Ada apa, sayang?" tanya Ani.


Adelia menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.


Anara melihat tingkah anaknya.


"Duduk saja, Kak. Mungkin Adel ingin makan di suapin Kak Ani."


"Baiklah," Ani duduk di sebelah Adelia. Dia mengambil mangkuk yang tadi dia taruh. Dengan telaten, Ani menyuapi Adelia.

__ADS_1


Anara merasa senang melihat anaknya yang terlihat berselera saat makan.


•••••••••


Anara sedang menjaga anak-anaknya. Padahal dia cape sekali, dan juga mengantuk.


"Sayang, tidur siang yuk! Mamah ngantuk nih," Anara mengajak anak-anaknya tidur siang, namun mereka masih asyik bermain.


Anara berbaring di atas karpet. Dia mengawasi anaknya yang sedang bermain. Lama kelamaan Anara tertidur disana.


Tak lama, Bu Sinta datang ke rumah itu. Biasanya pagi juga sudah ada disana. Tapi hari ini ada urusan di luar, jadi baru bisa mengunjungi cucunya agak siang.


'Tumben ini rumah sepi,' gumam Bu Sinta.


Bu Sinta sudah berada di ruang keluarga. Tatapannya tertuju kepada Anara yang sedang tidur. Namun Adelia dan Eva sedang menaiki tubuh Anara.


"Sayang, kalian lagi ngapain? Kasihan Mamah kalian nanti sakit loh," Bu Sinta menurunkan Adelia dan Eva yang sedang duduk di atas tubuh Anara.


Tring tring


Bu Sinta mendengar ponselnya berbunyi. Ternyata Andika yang menghubunginya.


"Hallo, ada apa, Nak?" tanya Bu Sinta dari balik telfon.


"Mamah sudah di rumah Nara belum? Kok aku telfon dia tidak di angkat juga?" tanya Andika.


"Iya nih, Mamah baru sampai. Kebetulan istrimu sedang tidur. Dan kelakuan anakmu nih, masa mereka duduk di atas istrimu."


"Astaga, dua bocil itu makin nakal saja."


"Iya, Nak. Apalagi sekarang mereka sudah mau main bareng."


"Mah, Dika alihin ke panggilan video ya. Dika mau lihat dua bocil."


"Oke"


Kini Andika bisa melihat anak-anaknya yang sedang bermain. Dia senang karena Eva sudah tidak terlalu nakal kepada kakaknya.


"Mah, coba arahin kameranya ke Nara," pinta Andika.


"Ngapain kamu lihat orang tidur?"


"Mau intip dikit, Mah."


Bu Sinta mengarahkan kameranya ke Anara. Andika menatap istrinya yang sedang tidur dari balik layar ponsel.


"Mah, fotoin Nara dulu dong! Nanti kirim ke aku," pinta Andika.


"Astaga, buat apa? Jangan jahil loh!"


"Sekali saja, Mah."


"Baiklah," Bu Sinta mengambil foto Anara yang sedang tidur pulas. Lalu mengirim foto itu kepada Andika.


Bu Sinta sudah selesai video call dengan Andika. Sekarang tinggal mengurus dua bocil yang sedang asyik bermain.


°°°°°°°°°°

__ADS_1


__ADS_2