
Siang ini Alan hanya bekerja setengah hari saja. Setelah jam makan siang, dia memutuskan untuk pulang. Karena selama bekerja, dia merasa tak tenang. Alan terus memikirkan wanita asing yang berdansa dengannya saat di pesta.
Saat ini Alan baru sampai di rumahnya.
"Permisi," ucap Alan dari depan rumah.
Bu Anara yang sedang bersantai bersama dengan suaminya, mereka mendengar seperti ada seseorang yang datang.
"Pah, sepertinya ada tamu."
"Iya, Mah. Tapi kok suaranya seperti tak asing yah."
"Biar Mamah yang lihat ke depan," Bu Anara pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang.
Bu Anara melihat anaknya yang sedang menutup pintu rumahnya.
"Alan, jadi kamu yang datang? Mamah kira tadi ada tamu."
"Iya, Mah. Alan ingin pulang cepat hari ini."
"Tumben sekali kamu datang pakai permisi, biasanya juga langsung nyelonong saja."
"Hehe sesekali Alan pakai permisi, Mah. " Alan melangkah menuju ke ruang keluarga. Dia ikut duduk bersama ayahnya.
__ADS_1
"Tumben kamu pulang jam segini? Memangnya kerjaan sudah beres?" Pak Andika bertanya kepada anaknya.
"Belum si, Pah. Alan selesaikan di rumah saja deh. Oh iya, Papah punya daftar nama yang hadir di acara pesta kemarin malam tidak?"
Mendengar penuturan anaknya, seketika Bu Anara dan Pak Andika langsung menatapnya.
"Memangnya untuk apa?" tanya Pak Andika.
"Aku sedang mencari seseorang," jawabnya.
"Siapa yang kamu cari? Kamu tanyakan saja sama Papah. Papah tahu semua kok tamu yang hadir," ucap Pak Andika.
"Aku juga tidak tahu itu siapa. Itu loh wanita yang sempat dansa sama aku."
"Dia kan sekretaris kamu," ucap Pak Andika.
Pak Andika dan Bu Anara saling tatap, lalu mereka tersenyum.
"Kenapa kalian tersenyum?" tanya Alan.
"Ah tidak, memangnya kenapa dengan wanita itu? Kamu naksir sama dia?" Bu Anara bertanya kepada anaknya.
"Tidak sih, hanya penasaran saja," ucapnya.
__ADS_1
"Kalau kamu penasaran sama dia, pasti kamu tidak akan mencari kekasih lagi selain dia. Coba saja kamu cari dia dam minta kenalan," ujar Bu Anara.
"Jadi Mamah setuju jika aku sama dia?"
"Setuju," jawabnya.
"Kalau begitu aku pinjam daftar tamu pesta kemarin malam, masih ada tidak?"
"Ada, biar Papah ambilkan," Pak Andika beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar.
Pak Andika sudah kembali dengan membawa buku yang berisi daftar tamu kemarin malam, lalu memberikannya kepada Alan. Alan segera pergi ke kamarnya.
Pak Andika kembali duduk di sebelah istrinya.
"Mah, tanpa Alan sadari, dia penasaran dengan sosok Kiara," ucap Pak Andika.
"Iya, Pah. Mamah senang sekali loh dengarnya. Apa tidak sebaiknya kita bilang saja jika wanita itu Kiara?"
"Jangan, Mah. Biarkan Alan berjuang. Enak dong kalau dia tinggal nyamperin Kia begitu saja."
"Iya juga sih. Ya sudah deh terserah Papah saja."
Alan yang sudah berada di kamar, dengan tidak sabaran dia membuka buku yang dia pinjam dari ayahnya. Alan menandai dengan bolpoin, nama-nama tamu yang dia kenal. Ternyata cukup banyak tamu yang tidak dia kenal. Untung saja di daftar tamu ada nama tamu dan nama perusahaan tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Mulai besok aku akan cari satu persatu dari mereka," gumam Alan sambil menyunggingkan senyumannya.
Alan masih penasaran dengan wanita yang berdansa dengannya malam itu.