
Bu Sinta begitu senang saat tahu jika Anara benar hamil. Bu Sinta juga sudah memberitahu Pak Indra dan keluarganya. Bahkan mereka di undang untuk makan malam bersama di rumah Aldi untuk merayakan kehamilan Anara.
Aldi melihat Bu Sinta yang baru masuk ke rumah dengan membawa banyak barang belanjaan.
"Mah, kok banyak sekali belanjanya? Memangnya mau ada acara apa?" tanya Aldi, yang kini sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Oh iya Mamah lupa memberitahu kamu. Nanti malam mau ada acara makan malam spesial untuk merayakan kehamilan Anara. Tadi Mamah juga sudah mengundang Pak Indra dan keluarganya."ucap Bu Sinta.
"Memangnya tidak berlebihan yah, Mah?"
"Tidak, Nak. Kamu tenang saja, biar Mamah yang urus semuanya. Nanti Mamah akan memasak di bantu oleh Bibi. Kamu dan Anara hanya tinggal duduk manis saja."
"Terima kasih, Mah. Mamah begitu perhatian sama kami."
"Sama-sama, Nak. Lagian ini juga sudah kewajiban Mamah.
Mamah senang karena mendapatkan cucu lagi."
Hanya sebentar Bu Sinta dan Aldi mengobrol. Bu Sinta berpamitan pergi ke dapur karena akan mulai memasak.
Bu Sinta memanggil Bi Inem untuk membantunya masak.
Anara yang berada di kamar, mencium aroma masakan yang begitu enak. Dia pergi ke dapur untuk mengeceknya. Anara melihat Bu Sinta dan Bi Inem yang sedang memasak.
"Mah, baunya enak sekali nih. Lagi masak apa?" tanya Anara dari arah belakang Bu Sinta.
"Ini Mamah mau masak untuk nanti malam."
"Mamah jadi undang Papah sama Kak Nesa?"
"Jadi, mereka mau datang kok." ucapnya, tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Syukurlah kalau mau datang.
Oh iya, Mah. Nara bantu masak yah?"
__ADS_1
"Tidak usah, Nak. Lebih baik kamu istirahat saja di kamar. Lagian kamu sedang hamil loh, nanti kecapean."
"Tapi Nara tidak enak, Mah. Masa cuma duduk santai saja. Sedangkan Mamah sibuk memasak."
"Tidak apa-apa, Nak. Lagian ini niat Mamah sendiri," ucap Bu Sinta.
"Baiklah, kalau begitu Nara kembali ke kamar saja," Anara pergi dari hadapan Bu Sinta.
Cukup lama memasak, kini masakannya telah matang semua. Bu Sinta dan Bi Inem sedang menata masakan mereka di atas meja.
"Akhirnya selesai juga," gumam Bu Sinta. Lalu menatap Bi Inem yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Bi, saya mau mandi dulu ya." pamit Bu Sinta.
"Baik Nyonya, biar saya yang mengerjakan sisanya." ucap Bi Inem.
Sebelum pergi ke kamar tamu untuk mandi, terlebih dahulu Bu Sinta meminta tolong Ani untuk membantu pekerjaan Bi Inem. Ani yang sedang menjaga Baby Adel, segera menyerahkannya kepada Anara.
°°°°
"Wah akhirnya datang juga, ayo masuk!" ucap Bu Sinta dengan ramah.
"Terima kasih," ucap Pak Indra, lalu melangkah masuk di ikuti oleh Andika dan Vanesa.
Bu Sinta langsung mengarahkan mereka ke ruang makan. Setelah itu, Bu Sinta memanggil Anara dan Aldi untuk ikut bergabung.
"Maaf telat," ucap Anara sambil menarik kursi untuk dia duduki.
"Tidak apa-apa, Nak." ucap Pak Indra.
Anara merasa senang karena bisa makan bersama seperti ini. Momen seperti ini yang dia impikan sejak dulu, karena ini baru pertama kalinya mereka makan dalam satu meja makan yang sama. Anara juga senang karena sedikit demi sedikit sikap Pak Indra sudah berubah. Pak Indra tidak terlalu acuh seperti sebelumnya.
Bu Sinta meminta Pak Indra memimpin doa sebelum makan.
Kini mereka mulai menikmati masakan Bu Sinta yang begitu lezat.
__ADS_1
Anara menghentikan sejenak tangannya yang handak menyuapkan nasi ke mulutnya. Dia merasa ada yang menyentuh kakinya di bawah. Anara menatap ke bawah dan melihat ada kaki yang menyentuh kakinya. Sudah bisa di pastikan jika itu kaki Andika. Karena Andika yang duduk di depannya.
Anara menatap Andika yang juga sedang menatapnya sambil sedikit tersenyum.
'Apa sih maunya ini orang? Kalau kakinya aku injak, baru tahu rasa dia,' batin Anara.
Anara meminta suaminya untuk bertukaran tempat duduk. Aldi mengikuti keinginan istrinya. Karena dia tahu jika Istrinya selalu meminta yang aneh-aneh semenjak hamil. Mungkin saja bertukar tempat duduk juga keinginan anaknya.
Semuanya kembali fokus menyantap makan malam mereka.
Sstelah selesai makan malam, Bu Sinta mengajak mereka untuk bersantai sambil mengobrol di ruang keluarga.
"Saya senang sekali bisa berkumpul seperti ini," Bu Sinta tersenyum sambil menatap mereka semua. "Akhirnya kita punya cucu lagi yah, Pak Indra." ucapnya lagi.
"Iya, Bu. Saya juga senang," Pak Indra hanya berbicara seperlunya saja. Mungkin karena belum terbiasa mereka duduk bersama seperti itu. Apalagi dengan Anara, yang sebelumnya tidak dekat.
Ani datang dengan membawa Baby Adel. Anara mengajak Baby Adel ikut bersantai bersama mereka. Andika menatap Anara, Aldi, dan Baby Adel yang terlihat akrab. Mereka keluarga kecil yang sangat sempurna. Apalagi saat ini Anara sedang hamil lagi.
'Andaikan aku mengenalmu lebih dulu, mungkin aku yang saat ini ada di sampingmu,' batin Andika, sambil menatap Anara.
Andai saja Anara bicara jika saat itu dia hamil anaknya, mungkin Andika tidak melanjutkan lagi pernikahannya dengan Vanesa. Namun saat itu Anara juga tidak tahu jika dirinya sedang hamil. Memang Andika juga begitu bodoh, dia membiarkan orang yang sudah dia nodai begitu saja, tanpa bertanggung jawab.
Kedua kalinya dia melihat Anara saat dia berkunjung ke rumah Vanesa. Namun saat itu dia sama sekali tidak punya keinginan untuk hidup bersama dengan Anara. Karena dia begitu mencintai Vanesa. Padahal Vanesa bukanlah wanita suci.
Andika juga ingin sekali hidup berbahagia dengan anak dan istrinya. Namun saat ini hanya angan-angannya saja. Karena istrinya tidak bisa hamil.
"Sayang, kamu lihatin apa?" tanya Vanesa dengan sedikit berbisik di telinga suaminya.
"Tidak kok," ucap Andika, sambil menatap istrinya.
Vanesa tahu jika sejak tadi suaminya menatap Anara dan anaknya.
'Lagi-lagi Anara mengambil perhatian semua orang,' batin Vanesa sambil menatap tak suka terhadap Anara.
°°°°
__ADS_1