
Kiara mengerjapkan matanya. Dia menatap ruangan yang menurutnya asing. Dia juga melihat ada dua orang asing yang sedang duduk di kursi.
"Kenapa aku disini?"
Pak Andika dan Bu Anara menghampiri Kiara.
"Nak, kamu sudah sadar?" tanya Bu Anara.
"Saya kenapa?"
"Tadi kamu pingsan di jalan. Kamu harus lebih hati-hati, Nak. Jangan telat makan, kasihan anakmu kalau tidak ada asupan."
"Iya, Bu. Terima kasih sudah menolong saya," Kiata tersenyum memperlihatkan wajah pucatnya.
"Tadi kamu mau kemana, Nak? Kita lihat kamu membawa tas besar loh," tanya Bu Anara.
"Saya tidak tahu mau kemana, Bu. Saya di usir dari tempat kos," ucapnya.
"Kok bisa? Lalu suami kamu dimana?"
"Saya belum menikah, Bu. Saya juga di DO dari kampus karena ketahuan hamil. Saya tidak mau pulang kampung karena saya sudah mengecewakan orang tua."
"Bagaimana kamu bisa hamil? Apakah kamu---" Bu Anara sedikit tidak enak saat ingin bertanya.
"Saya korban pele*cehan, Bu." jawabnya.
"Saya turut prihatin, Nak." Bu Anara tahu bagaimana perasaan Kiara saat ini.
"Siapa lelaki itu? Kenapa tidak bertanggung jawab?" Sahut Pak Andika yang juga bertanya.
"Maaf, saya tidak mau memberitahunya. Karena dia juga tidak mau bertanggung jawab."
Bu Anara berbisik di telinga suaminya.
__ADS_1
"Pah, Mamah mau bicara sama Papah," bisik Bu Anara.
"Disini atau di luar?"
"Di luar saja, ayo!" ajak Bu Anara.
Pak Andika sudah melangkah duluan keluar dari ruangan itu.
Bu Anara menatap Kiara lalu berkata,
"Nak, saya keluar dulu sebentar ya."
"Iya, Bu."
Bu Anara menyusul suaminya yang kini sudah berada di luar.
"Apa yang mau Mamah bicarakan?" tanya Pak Andika.
"Bagini, Pah. Mamah kok kasihan lihat Kiara. Bagaimana jika kita ajak dia ikut sama kita. Nanti dia tinggal sama Kak Nesa. Pasti Kak Nesa senang jika ada temannya di rumah. Lagian sekarang Eva lebih sering menginap di rumah kita dari pada disana," ujar Bu Anara memberikan saran.
Kini kedunya kembali masuk ke ruangan itu.
"Nak, kami berniat untuk mengajakmu ikut sama kami. Nanti kamu tinggal sama Kakak saya," ucap Bu Anara.
"Saya takut merepotkan, Bu. Lagian saya bukan siapa-siapa di keluarga ibu," ucap Kiara.
"Kebetulan Kakak saya itu tinggal sendiri. Pasti akan senang jika ada kamu yang menemani," ucap Bu Anara.
Kiara tampak berpikir, mungkin ada baiknya juga jika dia menerima tawaran itu. Apalagi dia tidak mempunyai arah tujuan.
Kiara menatap Bu Anara yang juga sedang menatapnya.
"Baiklah, saya mau ikut sama Ibu," ucap Kiara pada akhirnya.
__ADS_1
Bu Anara dan Pak Andika merasa senang karena Kiara mau menerima tawaran mereka.
"Syukurlah, sekarang kita bersiap, ayo! Kebetulan kata dokter, kamu sudah di perbolehkan untuk pulang," ucap Bu Anara.
"Baik, Bu." ucap Kiara.
Kini Bu Anara, Pak Andika, dan Kiara, keluar dari rumah sakit. Kebetulan Pak Andika yang membawakan tas milik Kiara hingga sampai ke mobil.
Pak Andika segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Bu Vanesa.
Setelah melewati keramaian ibukota, kini mereka bertiga sudah sampai di depan rumah Bu Vanesa. Bu Anara mengajak Kiara turun dari mobil. Lalu mereka melangkah mendekati pintu masuk rumah.
Bu Anara mengetuk pintu rumah itu. Tak lama Bu Vanesa membukakan pintunya.
"Eh Nara, ayo masuk!" ucapnya ramah.
Mereka masuk ke rumah itu, lalu duduk di sofa.
Bu Vanesa masih memperhatikan Kiara. Dia bingung kenapa Bu Anara mengajak wanita muda kesana. Apalagi membawa tas besar.
"Kak Nesa, aku mau minta tolong nih. Dia namanya Kiara," ucap Bu Anara sambil menatap Kiara. " Apa dia boleh tinggal disini untuk sementara?' tanya Bu Anara yang kini beralih menatap Bu Vanesa.
"Boleh sih, kebetulan aku juga kesepian di rumah sendirian terus. Tapi Kiara ini siapa?"
"Tadi aku menolongnya saat pingsan di tengah jalan. Kasihan Kak, dia tidak punya tempat tinggal disini. Dia juga sedang hamil, jadi aku kasihan melihatnya," kata Bu Anara.
"Memangnya suaminya kemana?" tanya Bu Vanesa.
"Saya belum menikah, Bu. Kebetulan saya ini hamil karena di nodai," ucap Kiara.
"Pasti ini berat untuk kamu, Nak. Kamu boleh tinggal disini sampai kapan pun kamu mau. Kamu tidak usah memikirkan biaya hidup. Biar semuanya saya yang menanggung," ucap Bu Vanesa.
"Nanti saya dan suami saya juga membantu," sahut Bu Anara.
__ADS_1
Kiara mengucapkan terima kasih kepada mereka. Karena sudah mau menampungnya tinggal disana. Kiara senang, ternyata masih ada orang yang baik, yang mau membantunya.