
Saat ini Anara dan Aldi sudah sampai di rumah sakit. Mereka menuju ke tempat dimana Vanesa berada.
Anara melihat Andika sedang mondar-mandir di depan ruangan operasi.
“Kak Dika, bagaimana kondisi Kak Nesa?” tanya Anara.
“Kondisinya lumayan parah dan perutnya terkena benturan yang sangat keras sehingga...” Andika menjeda perkataannya. Seolah berat untuk dia mengatakan kenyataan yang ada.
“Sehingga kenapa, Kak?” Anara masih menunggu Kakak iparnya melanjutkan perkataannya lagi.
Andika menghela nafas kasarnya.
“Benturan yang sangat keras membuat rahimnya bermasalah dan sekarang Vanesa sedang di operasi pengangkatan rahim,” ucap Andika sambil mengusap air matanya yang menetes di sudut matanya.
“Apa? Jadi Kak Nesa, hiks..hiks..hiks..” Anara tak kuasa lagi untuk menahan tangisnya.
Aldi merengkuh Anara ke dalam pelukannya.
“Jangan terlalu sedih, kamu sedang hamil, sayang.” Ucap Aldi sambil menepuk-nepuk punggung Anara.
Terlihat Pak Indra sedang melangkah mendekati mereka. Karena kebetulan habis pergi ke kantin cari makan.
“Pah,” Anara melepaskan pelukannya dari Aldi. Lalu dia menatap Ayahnya yang baru datang.
Anara memeluk Ayahnya begitu erat. Seolah menyalurkan kerinduan yang begitu mendalam. Sudah sangat lama dia tidak mendapatkan pelukan dari orang-orang yang dia sayang.
“Lepaskan!” Pak Indra mendorong Anara.
Beruntung Aldi menahan tubuh Anara sehingga dia tidak jatuh ke lantai.
“Maaf kalau saya ikut campur, tapi Bapak jangan terlalu kasar sama wanita. Apalagi wanita ini anak Bapak sendiri,” ucap Aldi.
“Aku tidak apa-apa kok,” ucap Anara.
“Sebaiknya kita pergi dari sini saja. Aku tidak mau kandungan kamu kenapa-napa,” ucap Aldi.
“Aku tidak mau pergi, aku mau di sini saja sampai Kak Nesa siuman,” ucap Anara.
“Baiklah jika itu maumu, tapi sekarang kita duduk dulu. Kasihan kalau kamu berdiri terus,” Aldi mengajak Anara duduk di kursi tunggu.
Cukup lama menunggu, akhirnya ruang operasi terbuka. Pak Indra dan Andika menghampiri Dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
“Dok, bagaimana keadaan anak saya? Apakah operasinya lancar?” tanya Pak Indra.
“Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar. Sekarang pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan. Tapi saya minta tolong agar jangan memberitahu semuanya kepada pasien saat siuman nanti. Takutnya syok dan akan mempengaruhi masa pemulihannya.” Jelas Dokter.
“Baik, Dok. Saya tidak akan memberitahukan semuanya kepada anak saya,” ucap Pak Indra.
__ADS_1
Kini beberapa perawat mendorong brankar pasien dimana Vanesa berbaring. Pak Indra dan yang lainnya mengikuti kemana Vanesa dibawa. Hingga saat ini Vanesa sudah berada di sebuah ruangan VVIP.
Pak Indra dan yang lainya bergantian masuk untuk membesuk Vanesa. Karena tidak di perbolehkan jika berkerumun di dalam ruangan itu.
Saat ini Anara dan Andika baru keluar dari ruang inap Vanesa. Mereka akan segera pulang karena Aldi tidak mau jika Anara terlalu kelelahan.
°°°
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit, kini Vanesa sudah di perbolehkan untuk pulang. Anara dan Aldi juga datang ke rumah sakit.
“Kak Nesa, Kakak yang tabah yah, Kakak harus tetap kuat,” ucap Anara.
“Apa maksud kamu? Aku ini sudah baik-baik saja, ucap Vanesa, lalu dia menatap ayahnya. “Iya kan, Pah?”
“Iya, Nak. Kamu sudah baik-baik saja,” ucap Pak Indra.
Aduh, hampir saja aku keceplosan,” batin Anara.
Andika mendorong kursi roda yang di naiki oleh istrinya. Pak Indra berjalan di samping mereka. Sedangkan Anara dan Aldi ada di belakang mereka.
Kini mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Andika dan Aldi mengambil mobil mereka masing-masing. Vanesa pulang bersama suami dan Ayahnya.
Saat ini kedua mobil yang beriringan itu sudah sampai di depan rumah Pak Indra. Mereka segera keluar dari mobil. Andika menggedong istrinya hingga masuk ke rumah.
Anara mendekati Kakaknya yang saat ini sudah di bawa ke kamar.
“Aku hanya mau kamu pergi dari sini,” ucap Vanesa.
“Maaf jika kehadiranku mengganggu Kak Nesa,” Anara keluar dari kamar Vanesa sambil mengusap sudut matanya yang basah.
Nanti saja aku datang lagi kalau keadaan Kak Nesa sudah lebih baik,” batin Anara.
Anara menghampiri Aldi yang sedang duduk dengan Pak Indra.
“Kak Aldi, ayo kita pulang!” ajak Anara.
“Kok cepat sekali?”
“Iya, Kak. Aku keluar dulu,” Anara pergi begitu saja dari hadapan mereka.
Aldi berpamitan kepada Pak Indra dan Andika. Lalu dia menyusul Anara yang sudah keluar duluan.
°°°
Aldi menatap Anara yang terlihat diam.
“Sudahlah, kamu jangan sedih seperti ini. Sedih juga tidak ada gunanya. Itu tidak bisa membuat sikap Vanesa ke kamu berubah,” ucap Aldi.
__ADS_1
“Iya, Kak. Aku hanya berharap jika suatu saat Kak Nesa dan Papah akan bisa menerimaku.
Aldi dan Anara saling pandang dan melempar senyuman.
“Kamu tenanglah, saat itu pasti akan datang juga,” Aldi mengusap pelan bahu Anara.
“Semoga saja,” ucapnya.
“Kamu mau kita mampir dulu atau kemana mungkin?”
“Kita langsung pulang saja, Kak.” Kata Anara.
“Baiklah,” Aldi kembali fokus mengemudi.
Sesampainya di rumah, keduanya segera beristirahat.
Tiba-tiba Anara merasakan sakit di perutnya.
"Aduh aww," Anara meringis menahan sakit.
"Kamu kenapa?" Aldi menghampiri Anara.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba perutku sakit," kata Anara.
"Mungkin mau melahirkan," Aldi duduk di sebelah Anara.
"Ini belum waktunya kalau menurut perhitungan Dokter."
"Coba sini aku lihat," Aldi sedikit membuka daster yang di pakai oleh Anara di bagian perut. Lalu dia mulai mengusapkan tangannya disana.
Anara merasakan jika sakit di perutnya mulai reda. Dia menatap Aldi yang sedang duduk di sebelahnya.
"Kenapa lihatin aku?" tanya Aldi.
"Perutku sudah tidak sakit lagi," ucap Anara.
Cup
Aldi mencium perut buncit Anara.
"Mungkin anaknya mau di sayang-sayang sama ayahnya," ucap Aldi.
"Terima kasih," Anara memeluk Aldi.
"Sama-sama, lagian ini sudah kewajibanku," ucap Aldi.
Anara dan Aldi masih berpelukan.
__ADS_1
°°°°