Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.107


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Andika mengerjapkan ke dua matanya. Dia menatap ke sampingnya. Ternyata istrinya tidak ada di sampingnya. Andika mendengar suara dari kamar mandi. Dia turun dari atas tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk memastikan suara yang dia dengan itu suara istrinya atau bukan.


Hoek hoek


Andika melihat istrinya yang sedang mual-mual, lalu dia mendekatinya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Andika, yang saat ini berdiri di belakang istrinya.


"Aku tidak tahu, Mas. Tadi setelah bangun tidur tiba-tiba aku mual," jawabnya.


"Aku ambilkan minyak angin ya," ucap Andika, sambil menatap wajah cantik istrinya dari pantulan cermin yang ada di depan mereka.


"Iya, Mas."


Andika keluar dari kamar mandi. Dia mencari minyak angin di laci meja kecil yang ada di dekat tempat tidur.


Andika sudah kembali ke kamar mandi. Dia mengoleskan minyak angin itu di leher istrinya, sambil memijatnya pelan.


"Bagaimana, sayang? Apa sudah mendingan?"


"Iya, Mas. Sekarang rasa mualnya berkurang," jawab Anara.


"Lebih baik nanti kita pergi periksa saja ya. Aku tidak mau jika terjadi sesuatu sama kamu. Aku tidak mau kamu sakit," ucapnya.


"Iya, Mas."


Andika membantu memapah istrinya menuju ke kamar. Lalu dia membantu istrinya untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Mau di pijit tidak?" tanya Andika kepada istrinya.


"Tidak usah, Mas. Tapi aku ingin teh manis hangat untuk meredakan rasa mual," pinta Anara.


"Baiklah, aku ambilkan dulu di dapur," Andika berlalu pergi keluar dari kamar itu.


Andika melihat Bi Inem yang sedang memasak di dapur.


"Bi, tolong buatkan teh manis hangat ya," pinta Andika.


"Baik, Tuan. Sebentar!" Bi Inem menghentikan sejenak aktivitasnya. Lalu dia segera membuatkan teh manis hangat untuk majikannya.


Andika kembali ke kamar dengan membawa teh hangat untuk istrinya.


Andika membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Sayang, ini tehnya sudah jadi," Andika mendekati istrinya, lalu memberikan teh itu.


Anara mengambil gelas itu, lalu segera meminumnya.


"Terima kasih, Mas." kata Anara.


"Sama-sama, sayang." Andika tersenyum menatap istrinya.


Andika menyuruh istrinya untuk kembali berbaring.


"Sayang, kalau kamu mau tidur lagi juga tidak apa-apa ko," ucap Andika kepada istrinya.


"Tidak, Mas. Aku tidak mengantuk kok. Aku hanya mau berbaring sebentar. Lagian sudah jam segini, tidak bisa tidur lagi." ucap Anara.


°°°°°°


Andika memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Dia akan memeriksakan istrinya. Saat ini Andika dan Anara sedang bersiap untuk pergi.


Bu Sinta melihat anak dan menantunya yang baru keluar dari kamar. Namun pakaian ke duanya terlihat rapih.


"Kalian mau kemana? Apa Nara mau ikut ke kantor?" tanya Bu Sinta.


"Aku tidak pergi ke kantor, aku mau menemani istriku periksa ke dokter ," jawab Andika.


"Nara sakit apa?" tanya Bu Sinta.


Bu Sinta terlihat senang saat mendengar perkataan anaknya.


"Mamah kok senyum-senyum seperti itu?" tanya Andika.


"Tidak kok, mungkin kamu saja yang merasa begitu." jawab Bu Sinta.


"Mas, kita langsung pergi saja!" perkataan Anara memotong obrolan Andika dan Bu Sinta.


"Eh iya, Ayo!" Andika menggandeng tangan istrinya. Lalu mereka keluar rumah.


Andika membukakan pintu mobil. Lalu dia menyuruh istrinya untuk masuk. Setelah itu dia juga masuk ke mobil. Andika segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Tak terasa sudah cukup lama mengemudi, kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Andika dan Anara segera turun. Lalu mereka segera melangkah masuk ke rumah sakit.


Setelah mendaftar, Andika dan Anara mencari tempat duduk.


Tak lama menunggu, kini Anara di panggil untuk di lakukan pemeriksaan. Andika menemani istrinya masuk ke ruang pemeriksaan.


Terlihat seorang dokter wanita yang sedang duduk. Andika dan Anara masuk dengan mengucapkan permisi. Lalu mereka mendekati Dokter wanita itu.

__ADS_1


"Duduklah!" ucapnya.


"Terima kasih, Dok." kata Anara.


"Sama-sama," jawabnya. Lalu Dokter itu menatap formulir yang tadi telah di isi oleh Anara. "Apa keluhannya, Bu?" tanya Dokter itu kepada Anara.


"Tadi pagi saya merasakan rasa mual. Saya hanya tidak mau jika terjadi sesuatu sama saya. Takutnya jika itu gejala penyakit," ucap Anara.


"Baiklah, mari berbaring disana!" Dokter itu mengarahkan Nara untuk berbaring di ranjang pasien tempat pemeriksaan.


Kini Anara berbaring disana. Dokter itu mulai memeriksanya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Dia sakit apa?" tanya Andika.


"Sepertinya istri Anda hamil, tapi untuk memastikannya bisa langsung di USG. Hanya saja saya bukan ahlinya. Nanti kalau mau, saya arahkan Bu Anara untuk di periksa oleh Dokter kenalan saya yang ada di rumah sakit ini," ujar Dokter itu.


"Boleh, Dok." ucap Anara.


Dokter wanita itu mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Setelah selesai bertelfonan, dokter itu meminta Anara dan Andika untuk ikut bersamanya.


Kini mereka berhenti di depan ruangan dokter kandungan. Anara dan Andika di minta untuk menunggu. Sedangkan Dokter yang tadi masuk ke dalam untuk menyerahkan formulir pendaftaran milik Anara. Dokter wanita itu sudah keluar. Lalu menyuruh Anara untuk menunggu namanya di panggil.


Untung saja di depan ruangan Dokter kandungan itu tidak ada yang mengantre. Hanya ada Anara dan Andika saja yang duduk disana.


Pintu ruangan terbuka, Nama Anara di panggil. Dan dia segera masuk ke dalam. Andika selalu di samping istrinya saat istrinya melakukan pemeriksaan.


Kini Anara sudah selesai di periksa oleh Dokter. Ternyata memang benar jika saat ini dia sedang hami. Anara dan Andika begitu bahagia mendengar kabar itu.


Ke duanya keluar dari ruangan itu dengan senyum mengembang. Terlihat sekali rona kebahagiaan yang terpancar di raut wajah mereka.


"Sayang, terima kasih ya. Akhirnya kamu hamil lagi," Andika mengecup singkat kening istrinya.


"Mas malu, ini di tempat umum," Anara menatap sekelilingnya yang sedang memperhatikan mereka.


"Tidak apa-apa, sayang. Biarkan saja semua orang tahu jika kita ini pasangan yang sedang berbahagia," Andika tak henti-hentinya memperlihatkan kemesraan dengan istrinya di tempat umum seperti ini.


Anara hanya menunduk malu. Dia membiarkan suaminya merengkuh pinggangnya dan berjalan melewati beberapa orang yang ada di depan mereka.


Saat ini mereka sudah sampai di parkiran. Andika membukakan pintu untuk istrinya, lalu istrinya segera masuk ke dalam. Andika segera mengemudikan mobilnya.


Di sepanjang perjalanan, Andika terus mengecup punggung tangan istrinya. Kebetulan dia mengemudi sambil memegangi satu tangan istrinya.


"Mas lepasin! Nanti kamu susah loh bawa mobilnya," ucap Anara.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku ingin kita seperti ini dulu," pinta Andika.

__ADS_1


"Baiklah," Anara hanya menurut dengan suaminya.


•••••••


__ADS_2