
Anara sudah melakukan aktifitasnya seperti biasanya. Karena Adelia sudah sembuh.
Bu Sinta melihat Anara yang sedang menyuapi anaknya.
"Nara, biar Mamah saja yang menyuapi Adel. Lebih baik kamu pergi saja ke cafe," ucap Bu Sinta yang kini sudah berdiri di dekat Anara.
"Nanggung, Mah. Ini sebentar lagi kok." ucapnya.
"Baiklah," ucap Bu Sinta, lalu menatap Eva yang sedang di pangku oleh Ani.
Bu Sinta ikut duduk bersama mereka, sambil menatap ke dua cucunya yang sedang makan.
Setelah selesai menyuapi Adel, Anara berpamitan untuk pergi ke cafe. Dia menitipkan ke dua anaknya kepada Ani dan Bu Sinta. Kebetulan Bu Sinta sudah berhenti mengurus perusahaan. Sekarang perusahaannya di urus oleh Andika. Jadi Andika sibuk mengelola dua perusahaan.
Tin
Kebetulan Andika baru datang. Dia melihat Anara yang sedang berjalan melewati halaman rumah.
"Ayo masuk!" ajak Andika.
"Kak Dika tidak mau masuk ke rumah dulu?" tanya Anara.
"Nanti saja mampirnya kalau pulang kerja."
"Baiklah," Anara membuka pintu mobil. Lalu dia duduk di sebelah Andika.
Andika segera mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah itu.
Anara menatap Andika yang sedang fokus mengemudi.
"Kak," ucap Anara.
Andika menatap Anara yang kini sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanya Andika.
"Aku merasa tidak enak jika di antar setiap hari oleh Kak Dika."
"Tidak enaknya karena apa?"
"Karena sudah merepotkan."
"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan kok, lagian kamu ini Ibu dari anakku. Jadi sudah sewajarnya jika aku juga memperhatikanmu."
Anara merasa senang, karena saat ini ada Andika yang selalu membantunya dan membantu anaknya.
Tak terasa sudah cukup lama mengemudi. Kini mobil yang di kendarai oleh Andika sudah sampai di depan cafe. Anara mengucapkan terima kasih kepada Andika, sebelum dia keluar dari mobil itu.
🍀🍀🍀
Anara yang sedang bersantai di ruangannya, mendengar ketukan pintu dari luar. Dia membuka pintu itu dan ternyata ada salah satu karyawannya yang datang.
"Ada apa yah?" tanya Anara.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Itu ada pelanggan yang mencari Ibu."
"Siapa?"
"Saya juga tidak tahu namanya. Tapi saya tahu jika orang itu sudah datang beberapa kali ke cafe ini," ucapnya.
Anara masih menerka-nerka siapa yang mencarinya. Seingatnya dia tidak pernah seakrab itu dengan pelanggan yang datang.
"Baiklah, sebentar! Saya mau ambil ponsel dulu," setelah mengatakan itu Anara mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Anara mengikuti karyawannya hingga mereka berhenti di depan meja yang paling pojok.
"Ini orangnya, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya, lalu segera pergi dari hadapan Anara.
Anara melihat Rian yang saat ini sedang tersenyum menatapnya.
"Hai, akhirnya kita bertemu lagi," ucapnya.
"Ada apa cari aku?"
"Aku hanya mau mengobrol saja sama kamu. Bagaimana jika nanti sore kita jalan."
"Aku tidak senganggur itu untuk bisa berjalan-jalan sore," ucap Anara.
"Iya deh, orang sibuk tidak ada tandingannya. Bagaimana jika aku main ke rumahmu," Rian masih saja mencoba untuk mendekati Anara.
"Mau ngapain? Mau bantu aku ngasuh anak-anak?"
"Anak? Kamu sudah punya anak?" Rian mendadak patah semangat sata tahu jika Anara sudah berkeluarga.
"Boleh sih, aku main mau kenalan sama anak-anakmu. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang menjadi jodohku."
"Enak saja, anakku besar nanti ya Kak Rian sudah menjadi Kakek-kakek."
"Baiklah, aku hanya mau main saja," ucapnya.
"Ya sudah, bicaranya juga sudah kan? Aku lagi sibuk nih," ucap Anara.
"Silahkan di lanjut lagi pekerjaanmu, aku masih mau bersantai disini."
"Aku tinggal nih yah," setelah mengatakan itu, Anara beranjak dari duduknya. Lalu dia kembali pergi ke ruangannya.
Rian melihat ada seorang waiters yang lewat. Lalu dia menghentikan langkahnya karena akan bertanya.
"Maaf, Kak. Apa benar jika Anara bos disini sudah menikah dan punya anak?"
"Benar, Mas. Tapi saat ini menjanda karena suaminya baru saja meninggal," ucapnya.
"Oh seperti itu yah, terima kasih infonya," Rian tersenyum senang menatap wanita itu.
"Sama-sama, Mas. Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya, lalu pergi dari hadapan Rian.
Rian menyunggingkan senyuman. Dia merasa masih mempunyai kesempatan untuk mendekati Anara.
__ADS_1
'Janda anak dua sepertinya tidak masalah, yang penting cantik dan menggairahkan,' batin Rian.
🍀🍀
Sore harinya, Rian kembali lagi ke cafe itu. Namun dia tidak masuk ke dalam. Dia hanya menunggu di parkiran.
Rian melihat Anara yang sepertinya akan pulang. Dia tidak akan menawarkan tumpangan, namun akan mengikutinya.
Saat melihat Anara sudah masuk ke mobil, Rian juga segera menyalakan mobilnya lalu mengikuti kemana mobil yang membawa Anara itu pergi.
Sebenarnya bisa saja jika Rian bertanya dimana alamat rumah Anara. Tapi sepertinya Anara bukan tipe orang yang mau memberitahu hal pribadi semudah itu.
Mobil yang di naiki oleh Anara berhenti di depan gerbang. Terlihat Anara yang baru turun dari mobil. Dari kejauhan Rian melihat Anara. Dia mengemudikan mobilnya memasuki gerbang rumah itu.
Anara yang akan mengetuk pintu, melihat ada sebuah mobil yang baru datang. Anara mengerutkan keningnya saat melihat Rian turun dari mobil itu.
'Ngapain dia kesini?' batin Anara.
"Hai cantik," Rian tersenyum menatap Anara.
"Kakak ngikutin aku?"
"Yaps, benar cantik. Aku penasaran sama kamu," ucapnya.
Anara membuka pintu masuk, dan Rian mengikutinya.
Kebetulan Bu Sinta dari dapur, dia melihat Anara datang bersama seorang lelaki.
"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Bu Sinta, lalu beralih menatap Rian. "Dia siapa?"
"Hanya orang tidak penting,", ucap Anara.
"Hai Tante, saya calon menantu," Rian mengajak Bu Sinta berjabat tangan.
"Jangan percaya, Mah! Dia lelaki tidak jelas. Oh iya anak-anak dimana?"
"Ada di kamarnya."
Setelah mendengar perkataan Bu Sinta, Anara pergi begitu saja.
Bu Sinta menatap Rian yang masih berdiri disana.
"Ayo duduk, Nak!" ajaknya.
"Terima kasih, Tante." ucap Rian dengan ramah.
Rian duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Sedangkan Bu Sinta pergi ke belakang untuk membuatkan minum.
Andika baru sampai di rumah Anara. Dia masuk begitu saja saat melihat pintu yang tidak terkunci. Dia melihat seorang lelaki muda yang sedang duduk sendirian, lalu menghampirinya.
"Eh ada tamu, kamu siapa? Sepertinya aku baru melihatmu?" tanya Andika.
"Aku kekasihnya Anara, eh maksudnya masih calon," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
'Sepertinya ada sainganku nih, kalau begini caranya, aku harus bertindak cepat,' batin Andika.
°°°°°