
Tiga bulan kemudian
Rian lebih sering menginap di luar, karena kebetulam dia sering pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk mengurus bisnis. Eva yang kurang kasih sayang suaminya, dia mulai cuek. Dia lebih fokus ke kuliahnya, karena saat ini sudah semester akhir.
Terkadang Eva juga menginap di rumah Tantenya jika dia merasa kesepian. Dia tidak berani pulang ke rumah orang tuanya, karena yang orang tuanya tahu, pernikahan anaknya itu baik-baik saja.
Terlihat Eva yang akan pergi ke kampus dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Ckit
Eva menginjak rem mendadak karena di depannya ada mobil yang tiba-tiba berhenti.
"Astaga, ini orang bisa bawa mobil atau tidak sih?" Eva keluar dari mobilnya lalu menghampiri pengendara mobil di depannya.
Tok tok
Eva mengetuk pintu mobil bagian depan. Sang pemilik mobil membuka kaca mobilnya.
"Kamu? Ngapain berhenti mendadak?" tanya Eva.
"Maaf, tadi saya sedang menelfon Adel, tapi nomornya tidak aktif," ucap Reno.
"Ya, memang seperti itulah, belakangan ini Kak Adel susah di hubungi," ucapnya.
"Bisakah kita mengobrol? Aku butuh teman ngobrol," ucap Reno.
"Boleh, kita cari cafe saja di depan."
Eva kembali masuk ke mobilnya. Dia mengikuti mobil Reno dari belakang.
Saat ini keduanya sudah berada di cafe terdekat.
"Kamu mau pesan apa?" Eva bertanya kepada Reno.
"Pesan lemon tea saja," ucapnya.
"Baiklah," Eva beranjak dari duduknya, lalu dia memesan minuman untuk mereka.
Setelah memesan minuman, Eva kembali ke tempat duduknya.
"Apa Adel sudah pernah pulang?" Reno bertanya kepada Eva.
"Belum, Kak Adel belum pernah pulang. Lagian baru tiga bulan lebih dia pergi. Mungkin dia belum berniat untuk pulang."
"Tapi aneh juga sih, kenapa tiba-tiba Adel melanjutkan S2. Ini terlalu terburu-buru loh. Sebelumnya Adel tidak bicara apa pun kepadaku," ujar Reno.
"Entah, aku juga tidak tahu."
"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Rian? Sepertinya belakangan ini Kak Rian selalu sibuk. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya saat Kak Rian pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis," ucap Reno.
__ADS_1
"Dia memang selalu sibuk, bahkan karena kesibukannya, dia sama sekali tidak mau melakukan malam pertama denganku," ucap Eva keceplosan.
"Benarkah kalian belum pernah melakukan itu?" tanya Reno untuk memperjelas perkataan yang tadi dia dengar.
"Eh maaf, aku keceplosan," Eva memperlihatkan senyum canggungnya.
"Coba cerita saja semuanya! Siapa tahu aku punya solusi," pinta Reno.
"Aku malu untuk bercerita. Apalagi ini menyangkut rumah tanggaku."
"Tidak usah malu, lagian Kak Rian ini Kakakku, dan aku sudah paham karakternya."
"Biaklah, nanti aku minta kamu memberikan solusi untukku."
Eva mulai menceritakan dari pertama dia mengenal Rian. Dari perkenalan singkat yang langsung memilih untuk berkomitmen menikah. Dia juga bercerita saat suaminya itu pergi entah kemana di malam pertamanya. Dan sejak itu Rian terlihat menjaga jarak darinya.
Reno menyimak cerita Eva dari awal sampai akhir.
"Menurutku Kak Rian bukan lelaki seperti itu. Dia itu kalau sudah punya kekasih, pasti memprioritaskan kekasihnya. Contohnya Clarissa yang merupakan cinta pertamanya. Dia itu mirip sekali sama kamu. Dulu Kak Rian selalu bersikap manis kepadanya. Tapi setelah mendengar ceritamu tadi, sepertinya ada penyebab yang membuat Kak Rian bersikap seperti itu," ujar Reno mengutarakan pendapatnya, sesuai apa yang dia tahu.
"Kamu bilang mantan Mas Rian itu mirip denganku? Jangan-jangan Mas Rian menikahiku hanya karena aku mirip dengan mantannya. Lalu, dimana wanita itu sekarang?" tanya Eva.
"Aku tidak tahu, dia menghilang begitu saja dari kehidupan Kak Rian. Tapi seharusnya Kak Rian memperlakukan kamu dengan baik. Jika memang Kak Rian menikahimu karena kamu mirip mantan kekasihnya, harusnya dia memperlakukan kamu sama seperti dia memperlakukan mantan kekasihnya dulu," ujar Reno.
"Entahlah, aku merasa semakin jauh saja dengan suamiku sendiri."
"Terima kasih, Ren. Kamu baik sekali."
"Itu sudah bagian dari tugasku untuk membantu kakak ipar sendiri."
Eva sedikit merasa lega karena sudah menceritakan semua unek-uneknya kepada Reno. Selama ini dia tidak pernah bercerita kepada siapapun kecuali Tantenya. Dia juga senang karena Reno berniat untuk membantu menyelidiki penyebab perubahan Rian.
•••••••••••
Adelia baru pulang kuliah. Saat ini dia sedang berjalan di pinggir jalan menuju ke halte bus. Namun tiba-tiba dia merasa jika kepalanya pusing sekali. Adelia berhenti sejenak sambil memegangi kepalanya. Namun lama-kelamaan dia tak bisa menopang tubuhnya.
Bruk
Adelia pingsan di pinggir jalan.
Sebuah mobil hitam berhenti di dekat Adelia. Sepasang suami istri keluar dari mobil itu, lalu mendekati Adelia.
"Wanita ini pingsan," ucap wanita yang memang berprofesi sebagai dokter. Wanita itu bernama Clarissa.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit," ucap lelaki di sampingnya yang bernama William.
Lelaki itu menggendong Adelia, dan menidurkan di mobilnya.
"Sayang, aku di belakang ya," ucap Clarissa
__ADS_1
"Iya, sayang."
William segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja. Kebetulan tadi dia dan istrinya akan pergi untuk makan siang. Namun saat melihat seorang wanita pingsan, mereka lebih mengutamakan menyelamatkan wanita itu.
Saat ini mereka sudah sampai di rumah sakit. Lalu Adelia langsung dibawa ke ruang pemeriksaan.
William menatap istrinya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Dia sakit apa?" tanya Clarissa yang melihat suaminya sudah selesai memeriksa Adelia.
"Sepertinya dia hamil, coba deh kamu memeriksanya. Kamu kan dokter kandungan."
"Baiklah, aku mau ambil alat-alatku dulu," Clarissa berlalu pergi dari ruangan itu.
Kini Clarissa sudah kembali, dan dia juga sudah memeriksa Adelia.
"Ternyata wanita ini memang hamil," ucap Clarissa.
Tak lama, Adelia mengerjapkan kedua matanya. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Dimana ini?" Adelia menatap sekeliling yang tampak asing.
"Bu Adelia ada di rumah sakit, tadi pingsan di jalan. Maaf tadi saya lancang melihat identitas Bu Adelia. Selamat ya Bu Adelia sedang hamil," ucap Clarissa.
"Hamil?" Adelia begitu terkejut saat mengetahui jika dirinya sedang hamil.
"Bagaimana mungkin?" ucap Adelia sambil memijat keningnya.
William dan Clarissa saling tatap. Lalu Clarissa mencoba bertanya kepada Adelia.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang, tapi kenapa Bu Adelia terlihat terkejut?"
"Saya belum menikah, dan anak ini hadir karena kesalahan. Aku harus bagaimana?" Adelia tampak bergelut dengan pikirannya.
"Ibu Adelia jangan terlalu banyak pikiran ya, nanti bisa berimbas ke janin yang sedang ibu kandung," ujar Clarissa.
"Panggil saya Adel saja, tidak usah pakai ibu. Sepertinya usia saya juga jauh lebih muda dari kalian," ucap Adelia sambil menatap Clarissa dan William.
"Baiklah, Adel. Lebih baik sekarang istirahat dulu, saya dan suami saya mau pamit dulu, masih ada pasien yang harus kami tangani."
"Terima kasih karena sudah menolong saya dan membawa saya kesini," Adelia tersenyum sambil menatap mereka berdua.
"Sama-sama, itu sudah kewajiban kami untuk menolong sesama."
Clarissa dan William segera pergi dari ruangan itu. Sekarang hanya Adelia yang sedang berbaring di ranjang pasien. Dia mengelus perutnya yang masih rata.
"Nak, ibu harus bagaimana? Ibu harus meminta pertanggung jawaban ke siapa?" gumam Adelia.
Tidak mungkin jika dia meminta Rian untuk menikahinya. Sedangkan saat ini Rian masih menjadi suaminya Eva. Adelia sedih, pasti keluarganya sangat kecewa jika mengetahui kehamilannya. Apalagi Eva pasti akan menjadi yang paling tersakiti. Namun, tidak mungkin jika dia membesarkan anak sendirian. Pasti akan ada banyak gunjingan dari orang-orang sekitar.
__ADS_1