Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.87


__ADS_3

Bu Sinta melihat Ani sedang menyuapi ke dua anak Anara. Adelia dan Eva saling berebut, ingin di dahulukan.


"Aduh, Eva. Ini makanannya tercampur sama punya Kakakmu loh," Ani mengambil sendok yang tadi di pegang oleh Eva. Karena tadi dia masukan ke wadah makanan milik Adelia. Kebetulan di sendok itu ada sedikit sisa makanannya.


"Ani, kamu kerepotan ya?" tanya Bu Sinta, yang kini sedang melangkah mendekati Ani.


"Sedikit, Nyonya." ucapnya.


"Memangnya Nara kemana?"


"Belum keluar kamar dari tadi pagi," ucapnya.


"Astaga, dasar pengantin baru. Ya sudah biar saya yang suapin Eva," Bu Sinta mengambil tempat makan milik Eva, lalu mulai menyuapinya.


Terlihat Anara dan Andika yang baru keluar dari kamar. Mereka melihat anak-anaknya sedang di suapi oleh Bu Sinta dan Ani.


"Wah, anak-anak Papah lagi makan nih," Andika melangkah mendekati anak-anaknya.


"Kalian main berapa ronde? Jam segini baru keluar kamar?" tanya Bu Sinta.


"Semalam kita tidak tidur bersama, Mah. Nara tidur sama anak-anaknya."


"Tapi tadi kalian keluar bersama?"


"Iya, tadi jam empat Dika bangunin Nara suruh pindah kamar."


"Jadi dari jam empat sampai jam segini kalian baru selesai melakukan itu?"


Anara menunduk malu mendengar ucapan Bu Sinta.


"Namanya juga anak muda," ucap Andika.


"Mas, malu tahu," bisik Anara di telinga suaminya.


"Tidak usah malu-malu, sayang. Lagian kita itu pasangan suami istri. Wajar jika bahas begituan," ucapnya.


"Lebih baik sekarang kalian sarapan, nanti bantu jaga anak-anak," ucap Bu Sinta.


"Mah, kita kan libur kerja karena ... " perkataan Andika terpotong karena Anara mencubit pinggangnya.

__ADS_1


"Ada apa sih, sayang?" tanya Andika, sambil menatap istrinya.


"Kita sarapan saja," Anara menggandeng tangan suaminya pergi dari sana.


Setelah selesai sarapan, Anara dan Andika menghanpiri Bu Sinta yang sedang bermain bersama anak-anak.


"Dika, Nara, kalian mau libur kerja berapa hari?" tanya Bu Sinta.


"Dika sih hari ini saja, Mah. Karena di kantor lagi banyak kerjaan."


"Nara juga sama seperti Mas Dika. Besok mulai kerja lagi," kata Anara.


"Nak, kamu tidak ada niatan untuk berhenti mengelola cafe? Kasihan loh anak-anakmu di tinggal terus tiap hari," ucap Bu Sinta, sambil menatap Anara.


"Belum kepikiran, Mah. Lagian Anara belum punya orang kepercayaan untuk mengurus cafe," ucapnya.


"Bagaimana jika Mas cari salah satu karyawan di kantor yang mau untuk menjadi manager di cafe itu. Biar kamu juga tidak terlalu sibuk." ucap Andika, memberikan sarannya.


"Ide bagus, Mamah setuju sama kamu, Nak."


"Nara menurut saja," ucap Anara


°°°°


Anara baru sampai di depan cafe. Dia menoleh ke arah suaminya, lalu berpamitan.


"Mas, aku pergi dulu ya," pamit Anara, lalu berjabat tangan dengan suaminya.


"Iya, sayang. Nanti sore Mas jemput kamu lagi," ucapnya.


Andika menatap istrinya yang keluar dari mobil, bahkan sampai masuk ke cafe. Setelah itu dia segera pergi ke kantor.


Anara melangkahkan kakinya memasuki cafe. Beberapa karyawan yang melihatnya, menyapa dan mengucapkan selamat atas pernikahannya.


Kebetulan Dinda dan satu temannya melihat kedatangan Anara.


"Semua lelaki dia embat, entah sudah berapa lelaki yang menidurinya," ucap Dinda.


"Awas loh nanti ada yang dengar," ucap wanita yang ada di sebelah Dinda.

__ADS_1


"Biarkan saja, aku tidak takut. Sinih kalau berani tunjukan wajahnya," ucap Dinda.


"Ekhm ... ekhm ... Kalian jangan bergosip." ucap seorang karyawan lain yang sedang mengelap meja.


"Yuk kita pergi saja," Dinda mengajak temannya pergi dari sana.


Wanita yang tadi memergoki Dinda sedang bergosip, dia pergi ke ruangan Anara. Sebenarnya sudah sangat lama dia ingin mengadu jika Dinda itu kerjanya suka malas- malasan. Apalagi suka bergosip kepada semua karyawan.


Tok tok


Anara yang mendengar pintu ruangannya di ketuk, dia langsung membukanya.


"Ada apa?" tanya Anara dengan ramah.


"Saya ada kepentingan dengan Bu Nara," ucapnya.


"Mari masuk!"


"Terima kasih," ucapnya.


Anara menyuruh karyawannya itu untuk duduk di sofa. Lalu Anara juga duduk disana.


"Jadi, apa yang mau kamu katakan?" tanya Anara.


"Jadi begini, Bu. Saya mau mengadu jika salah satu karyawan disini ada yang suka bergosip. Terkadang kerjanya juga bermalas-malasan," ucapnya.


"Siapa?"


"Dinda," ucapnya, lalu dia memperlihatkan beberapa video Dinda saat bergosip. Sudah lama dia sengaja merekam Dinda, karena perilakunya yang tidak baik.


Anara menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Dia tidak menyangka jika selama ini Dinda suka bergosip tentangnya. Padahal Dia sudah menganggapnya Kakak. Karena dulu Dinda pernah dekat dengannya.


Anara jadi ingat saat semua karyawannya menatapnya aneh. Itu juga karena mereka mendengar gosip dari Dinda.


"Suruh Dinda kemari!" pinta Anara dengan suara tertahan. Dia merasa dadanya begitu sesak karena kecewa.


"Baik, Bu. Saya permisi dulu."


°°°°

__ADS_1


Yuk semangat baca.nya, biar yg nulis juga semangat🤣 kalau pembacanya setia, nanti lanjut season 2 juga loh🤣


__ADS_2