Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.67


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Akhirnya hari yang telah di tunggu-tunggu telah tiba. Yaitu hari pernikahan Eva dan Reno. Pernikahan mereka di adakan di sebuah hotel mewah. Banyak yang datang ke pesta itu. Termasuk teman kuliah Eva, karyawan Pak Andika dan rekan bisnis yang lainnya.


Saat ini Eva masih di rias oleh MUA terkenal di kotanya. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin mewah yang di kenakannya.


Eva menatap penampilan dirinya sendiri dengan penuh kekaguman. Dia terlihat sangatlah cantik, bahkan dia sampai pangling melihat wajahnya sendiri.


"Eva, kamu cantik Sekali," Adelia yang baru masuk ke kamar hotel, melihat penampilan adiknya yang begitu cantik.


"Eh Kakak, sudah datang?"


"Sudah nih, Kakak baru datang. Tadi Langit rewel sih, jadi berangkatnya agak siangan. Untung saja acaranya belum mulai. Oh iya, barusan Reno dan penghulunya sudah datang loh."


"Benarkah?"


"Iya," jawabnya.


Tring tring


Eva mendengar ponsel miliknya berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari ibunya. Ibunya bertanya apakah Eva sudah selesai di rias atau belum. Jika sudah selesai di rias, Eva di minta untuk segera ke ballroom hotel. Karena Reno dan Pak penghulu sudah datang.


Setelah menerima telepon, Eva melirik ke arah Adelia yang sedang berdiri di sampingnya.


"Kak, tadi kata Mamah, aku diminta untuk pergi ke tempat resepsi. Semuanya sudah siap," ucap Eva.


"Ya sudah, ayo kita pergi!"


"Iya, Kak." Eva beranjak dari duduknya. Dia keluar dari kamar itu bersama Adelia. Di belakangnya ada asisten perias yang membantunya memegang gaun yang Eva pakai. Karena bagian belakangnya cukup panjang.


Sesampainya di depan ballroom, pintu yang tadinya tertutup kini terbuka lebar. Semua tamu undangan menatap ke arah pintu. Mereka menatap mempelai wanita yang baru memasuki ruangan itu. Bu Anara dan Pak Andika mendekati Eva, lalu mereka berjalan di samping kiri kanannya sambil menggandeng tangan Eva. Mereka mengantar Eva hingga sampai ke tempat ijab qabulnya.


Kini Eva sudah duduk bersebelahan bersama Reno. Sejak tadi Reno tak henti-hentinya menatap Eva yang begitu cantik.


"Bagaimana kedua calon mempelai, apa sudah siap?" tanya Pak penghulu.


"Siap," jawab Reno penuh semangat.

__ADS_1


“Siap, Pak.” Jawab Eva.


Pak penghulu mulai menjabat tangan Reno, lalu mulai mengarahkan Reno untuk melafazkan ijab qabul. Ternyata Reno juga bisa melafazkan ijab qabulnya dengan lancar. Semua tamu undangan ikut berbahagia melihat pasangan yang sudah sah menjadi pasangan suami istri itu.


Reno menyematkan cincin di jari manis Eva, dan begitu pun sebaliknya. Terlihat seorang fotografer yang mengabadikan momen itu.


Setelah selesai ijab qabul, mereka di arahkan untuk berdiri di pelaminan. Fotografer mulai mengarahkan Eva dan Reno untuk berpose mesra, lalu segera mengambil beberapa foto mereka. Setelah foto berdua, kini tinggal foto bersama keluarga. Setelah itu mereka barulah berfoto bersama delapan pagar ayu dengan berbagai pose. Reno disana satu-satunya laki-laki. Mereka terlihat seperti raja, ratu, dan dayang-dayangnya.


Terasa sudah cukup mereka berfoto. Kini Reno dan Eva duduk sejenak di pelaminan. Kebetulan semua tamu yang datang masih saling mengobrol sambil menikmati hidangan yang ada. Di antara mereka belum ada yang naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada Eva dan Reno.


Baru juga duduk lima menit, terlihat ada beberapa orang yang menghampiri mereka ke pelaminan untuk memberikan selamat. Akhirnya Reno dan Eva kembali berdiri.


Adelia dan Rian mendekati mereka untuk memberikan kado yang sebelumnya sudah mereka siapkan.


"Eva, Reno, ini ada kado dari kita," Rian memberikan paper bag kepada Reno.


"Apa ini, Kak? Kok kadonya kecil sekali sih?" protes Reno saat melihat paper bag ukuran kecil yang sedang di pegang oleh Rian.


"Astaga, kamu di kasih kado malah protes. Ya sudah kalau tidak mau biar aku ambil lagi."


"Eh iya aku terima. Terima kasih, Kak." ucap Reno.


Kebetulan dari depan pintu ballroom, ada Kiara yang sedang berdiri menatap ke arah pelaminan. Sebenarnya dia ingin masuk untuk memberikan selamat kepada Eva dan Reno, namun dia tidak mau jika nanti dia bertemu dengan Alan.


Kiara melihat ada seorang karyawan katering yang mau memasuki ruangan itu.


"Tunggu, Kak!" Kiara menghentikan langkah seorang wanita yang merupakan karyawan katering.


"Iyah," ucapnya sambil menoleh ke arah Kiara.


"Bolehkah saya menitipkan sesuatu. Saya mau menitip ini untuk pengantin yang di dalam."


"Boleh, nanti saya kasihkan."


Kinara memberikan kado yang telah dia siapkan kepada wanita itu.


"Terima kasih, Kak."

__ADS_1


"Sama-sama," ucapnya, lalu segera masuk ke dalam.


Kiara segera pergi dari sana. Dia tidak mau jika keluarga Bu Anara ada yang melihatnya disana.


Sebenarnya Kiara datang karena dia punya undangan yang di berikan khusus oleh Pak Andika. Namun Kiara masih ragu untuk datang. Jadi dia memilih untuk melihatnya dari jarak jauh.


Wanita itu langsung menghampiri Eva dan Reno.


"Permisi, maaf, saya mau memberikan ini. Tadi ada seorang wanita hamil yang menitipkan ini kepada saya.


"Wanita hamil?" Eva sedikit terkejut saat mendengar wanita hamil. Jangan-jangan yang di maksud wanita hamil itu adalah Kiara.


"Benar, kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya, lalu hendak melangkah pergi, namun Eva menghentikannya.


"Tunggu!" Eva menghentikan langkahnya.


"Iya, ada apa?"


"Mas, mana ponselku," Eva menatap Reno yang berdiri di sebelahnya.


"Sebentar," Reno mengambil ponsel milik istrinya yang dia taruh di saku jasnya.


Eva mengambil ponsel itu, lalu segera membuka galeri foto. Eva mencari foto Kiara yang ada di ponselnya.


"Apakah wanita ini?" Eva memperlihatkan layar ponselnya kepada wanita di depannya.


"Benar, wanita itu yang tadi menitipkan kado kepada saya. Kalau begitu saya permisi dulu, masih mau mengecek menu makanan yang sudah kosong," ucapnya, lalu segera pergi dari hadapan Eva dan Reno.


"Mas, Kiara datang. Tapi kenapa dia tidak masuk kesini?"


"Mungkin dia masih ragu untuk menemui kita dan keluarga kita, terutama Alan."


"Tapi aku khawatir sama dia."


"Biar Mas memberitahu informasi ini sama Mamah Nara," Reno menatap Bu Anara yang sedang mengobrol dengan salah satu tamu undangan.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Reno menghampiri Bu Anara, sedangkan Eva masih berdiri di pelaminan. Eva merasa tidak tenang, dia khawatir karena Kiara hidup sendirian di luar sana dalam keadaan hamil.


__ADS_2