
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Yaitu hari pernikahan Adelia dan Rian. Pernikahan mereka di gelar di salah satu hotel mewah di ibukota.
Adelia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin tanpa lengan. Rambut panjangnya di sanggul, dan juga diberi hiasan di kepala. Terlihat kalung berlian di lehernya, yang membuat penampilannya terlihat sempurna.
Adelia kagum melihat hasil riasan di wajahnya. Tidak sia-sia dia menyewa perias terkenal di kotanya.
Tok tok
Adelia mendengar ketukan pintu dari luar. Terlihat Bu Anara membuka pintu. Ternyata yang datang itu Eva.
"Ada apa, Va?" tanya Bu Anara.
"Itu pengantin pria dan pak penghulu sudah datang," ucap Eva.
"Untung saja Kakakmu sudah selesai."
"Mana sih, aku mau lihat," Eva menerobos masuk ke kamar itu.
Eva kagum melihat Adelia yang terlihat sangat cantik.
"Pantas saja Kak Rian lebih memilih Kakak, sempurna gini sih," ucap Eva sabil memperhatikan Adelia.
"Kamu juga cantik, Va.” kata Adelia.
“Sudah sudah, mengobrolnya nanti saja. Lebih baik sekarang kita pergi, kasihan loh kalau pengantin laki-lakinya kelamaan menunggu,” ujar Bu Anara.
“Baik, Mah.” ucap Adelia.
Adelia berjalan di tengah, kanan kirinya Bu Anara dan Eva yang menggandeng tangannya.
Saat ini ketiganya sudah sampai di depan pintu masuk ballroom hotel. Pintu ballroom terbuka lebar. Adelia bersama ibu dan adiknya melangkah masuk. Mereka berjalan di atas karpet merah. Semua mata tertuju kepada mereka, khususnya Adelia sang calon pengantin.
Kini mereka sudah sampai di tempat khusus yang akan di jadikan tempat ijab qabul. Kebetulan Pak penghulu dan Rian sudah duduk disana. Tak henti-hentinya Rian menatap kagum ke arah Adelia.
Eva dan Bu Anara segera pergi dari sana setelah mengantar Adelia.
Bu Anara menghampiri Bu Vanesa untuk mengambil Baby Raffa. Karena tadi Baby Raffa di titipkan kepada Bu Vanesa.
“Kak, Raffa rewel tidak?” Bu Anara mengambil Raffa dari gendongan Bu Vanesa.
__ADS_1
“Tidak kok,” jawabnya.
“Oh iya, Kia dimana?” Bu Anara tampak menatap ke kanan kirinya.
“Ada di toilet, dia belum sempat masuk loh dari tadi,” ujar Bu Vanesa.
“Aku takut jika dia kenapa-napa. Masa ke toilet lama sekali,” ucap Bu Anara.
“Tenang saja, namanya juga ibu hamil. Mungkin mampir dulu kemana gitu.”
Keduanya diam tak lagi mengobrol, saat Pak Penghulu mengarahkan Rian untuk melafazkan ijab qabul.
Akhirnya Rian melafazkan ijab qabulnya dengan benar, dan hanya sekali ucap. Semua yang hadir disana ikut berbahagia melihat pasangan yang sudah sah itu.
Terlihat Kiara yang baru memasuki ballroom hotel. Dia menatap kanan kirinya mencari keberadaan Bu Vanesa.
“Kia,” terlihat ada seseorang yang memanggilnya dari arah samping.
Saat Kiara menoleh, ternyata yang memanggilnya itu Bu Vanesa. Kiara segera menghampiri Bu Vanesa.
“Maaf, Tante. Aku lama perginya.”
“Tadi aku pergi ke depan dulu, beli sosis bakar,” ucapnya.
“Untung itu anak Cuma ngidam sosis bakar, coba kalau sosis bapaknya,” setelah mengatakan itu Bu Vanesa menutup mulutnya dengan tangan, karena salah ucap. Takutnya Kiara menjadi sedih.
“Tante ngomong apa?” Kiara tidak mengerti maksud ucapan Bu Vanesa.
“Ah tidak, tadi hanya salah ucap. Oh iya, kamu mau makan apa? Biar Tante yang ambilkan untuk kamu.”
“Aku ambil sendiri deh,” ucapnya.
“Ya sudah, nanti kalau sudah selesai makan, kita kasih selamat kepada pengantin. Katanya kamu ingin ketemu Adel, kamu kan belum pernah ketemu. Nanti sekalian kita foto bareng.”
“Siap, Tante.” Setelah mengatakan itu Kiara pergi dari hadapan Bu Vanesa.
‘Ternyata Kiara masih polos,’ batin Bu Vanesa sambil menatap kepergian Kiara.
Beberapa menit setelah kepergian Kiara, terlihat Alan menghampiri Bu Vanesa.
__ADS_1
“Tante, kata Mamah Tante cepat ke depan. Kita akan foto keluarga,” ucap Alan.
“Nanti saja, Tante nungguin Kia,” ucapnya.
“Siapa Kia?” tanya Alan.
“Nanti juga kamu tahu,” ucapnya.
“Ya sudah aku ke depan dulu,” Alan pergi dari sana. Dia kembali bergabung dengan Bu Anara dan yang lainnya.
Terlihat Kiara yang sudah mengambil beberapa makanan. Dia menghampiri Bu Vanesa, dan duduk di tempatnya tadi.
“Kia, yakin kamu mampu habiskan itu semua?” tanya Bu Vanesa yang melihat piring yang di bawa oleh Kiara penuh dengan makanan.
“Yakin, Tan. Tante mau?”
“Tidak, untuk kamu saja.”
“Baiklah,” Kiara mulai melahap makanannya.
Setelah melihat Kiara yang sudah selesai makan, Bu Vanesa mengajaknya pergi untuk memberikan selamat sekaligus berfoto bersama pengantin.
Bu Vanesa menggandeng Kiara menuju ke pelaminan. Sedangkan Kiara hanya menundukkan kepalanya. Dia kurang nyaman berada di pesta orang-orang kaya.
“Kia, kenalin ini keluarga Tante,” ucap Bu Vanesa.
Kiara membenarkan pandangannya sehingga dia menatap ke depan. Dia terkejut saat melihat Alan yang sedang berdiri di sebelah pengantin.
‘Kenapa aku merasa tidak asing saat melihat wanita hamil itu,’ batin Alan sambil menatap Kiara.
Kiara memang terlihat sangat cantik. Beda dengan Kiara yang dulu yang semua orang sebut culun. Pantas saja jika Alan juga tidak mengenalinya.
“Tante, aku mau ke toilet,” Kiara segera pergi dari sana. Dia tidak bisa berada di tempat itu jika ada Alan. Kiara merasa sedih jika melihat Alan bersama Nela.
“Kia,” ucap Bu Vanesa dengan sedikit berteriak.
Bu Vanesa menatap semua keluarganya yang sedang melihat langkah Kinara.
“Tante mau susul Kia dulu,” setelah mengatakan itu, Bu Vanesa segera pergi dari sana.
__ADS_1