
Saat ini Kiara dan Alan berada di sebuah taman yang indah. Banyak hiasan-hiasan bunga di sekelilingnya. Ada juga satu meja kecil dengan dua kursi. Sepertinya taman itu memang sengaja di dekorasi.
"Bagaimana, sayang? Apa kamu suka?"
"Iya aku suka. Ini semua kamu yang menyiapkan?"
"Iya, sayang. Mulai sekarang jangan panggil aku kamu lagi, tapi panggil Mas Alan."
"Baik, Mas Alan." ucap Kiara yang tampak malu-malu.
"Ayo kita duduk!" Alan menggandeng tangan Kiara, lalu mengajaknya untuk mendekati meja kecil yang sengaja di siapkan untuk mereka tempati.
Alan menarik kursi lalu membiarkan Kiara untuk duduk.
Kiara mengernyitkan keningnya saat Alan menggeser kursinya, sehingga kini kursi mereka saling berdekatan.
"Kenapa duduknya pindah?" tanya Kiara.
"Aku cuma mau lebih dekat dengan kamu," Alan menyibak rambut panjang Kiara yang menutupi lehernya.
"Mas Alan mau ngapain sih? Nanti ada yang lihat loh," Kiara merasa jika Alan akan berbuat macam-macam kepadanya.
"Tidak akan ada yang melihat, lagian aku sudah menyewa taman ini agar tidak ada orang yang masuk."
Alan memainkan rambut panjang Kiara, sehingga Kiara merasa geli.
"Mas jangan macam-macam deh, nanti Keandra bangun loh," Kiara melirik anaknya yang sedang tidur.
"Jangan sampai bangun dong, sayang." Alan mendekatkan bibirnya dengan bibir Kiara. Baru juga akan menempel, terpaksa Alan menjauhkannya lagi karena dia mendengar anaknya yang menangis.
"Astaga, mengganggu saja sih. Keandra jangan nangis dong, Papah mau mesra-mesraan loh sama Mamah," Alan menatap anaknya yang sedang menangis.
"Salah siapa main nyosor saja tidak tahu tempat," Kiara tersenyum senang, karena Alan tidak jadi menciumnya.
"Baiklah, kali ini Keandra yang menang. Tapi lihat saja nanti, setiap malam dia tidur terpisah sama kita."
"Kok Mas Alan seperti itu? Memangnya tidak mau jika tidur bareng sama anak kita?"
"Sayang, nanti kan kalau sudah nikah wajib tidur berdua saja di kamar. Kamu tahu kan maksudnya," Alan mengedipkan sebelah matanya.
"Iya aku tahu kok. Tapi tidak setiap malam juga, Mas. Kita kan punya anak kecil."
"Oke deh, aku mengerti. Sebentar ya, sayang. Mas masih ada kejutan lain lagi untukmu," Alan beranjak dari duduknya, lalu pergi dari sana.
Tak lama Alan kembali menghampiri Kiara. Sebenarnya tadi dia habis dari mobil. Karena sesuatu yang dia siapkan tertinggal disana.
"Dari mana? Kok lama sih?" Kiara menatap Alan yang sedang melangkah mendekatinya.
"Habis dari mobil, ada sesuatu yang tertinggal."
"Bawa apa itu?" Kiara melihat Alan yang menyembunyikan satu tangannya ke belakang.
"Bukan apa-apa kok," Alan semakin mendekat, lalu dia berjongkok di depan Kiara. Alan memperlihatkan buket bunga mawar merah yang tadi di sembunyikan di belakang tubuhnya. "Mawar cantik untuk wanita cantik di depanku," Alan menyodorkan bunga mawar merah itu kepada Kiara.
Kiara menerima buket mawar merah itu dengan senyum mengembang.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, sayang. Tapi masih ada satu lagi nih kejutan untukmu," Alan merogoh sesuatu dari celananya. Ternyata sebuah kotak cincin. Dia membuka kotak cincin itu di hadapan Kiara.
Kiara menutup mulutnya dengan satu tangannya. Dia merasa terharu, apalagi Alan terlihat sangat romantis sekali.
"Mas Alan melamarku?"
__ADS_1
"Iya, sayang. Apa sekarang tempatnya sudah pas untuk melamarmu?"
Kiara hanya menganggukan kepalanya.
Alan mengambil satu cincin, lalu menyematkannya di jari manis Kiara. Begitu juga dengan Kiara yang kini menyematkan cincin ke jari Alan.
"Minggu depan aku akan menikahimu, sayang."
"Terima kasih, Mas. Karena Mas Alan sudah mau bertanggung jawab kepadaku dan anak kita."
"Maaf ya, aku sudah membuatmu di posisi yang sulit. Kamu sudah mengurus anak kita sendirian."
"Iya tidak apa-apa, Mas. Lagian selama ini keluargamu sudah banyak sekali membantuku."
Alan melihat anaknya yang sudah tidur. Dia segera melakukan aksinya yang tertunda.
Kiara memejamkan matanya saat Alan mendekatkan bibirnya. Kini keduanya menikmati ciuman yang singkat namun penuh arti. Mereka melakukannya dengan perasaan cinta.
°°°°°°°
Bu Anara dan keluarganya sedang berkumpul. Kebetulan Adelia dan Rian juga sudah berada disana.
"Mamah sudah tidak sabar nih melihat kepulangan Alan dan Kiara," ucap Bu Anara di sela-sela obrolan mereka.
"Sabar, Mah. Nanti juga mereka pulang kok," sahut Pak Andika.
"Ternyata idenya Alan kali ini membuahkan hasil. Kiara mau mengungkapkan perasaanya," ucap Adelia.
"Untung mereka perginya bertiga, coba saja kalau tidak ada Kendra di antara mereka, pasti Alan macam-macam sama Kiara," sahut Eva.
"Kok kamu bicara seperti itu,Va? Memangnya macam-macam yang seperti apa?" tanya Bu Anara.
"Bisa saja Alan mengajak Kia ke hotel. Apalagi mereka berdua itu pasangan yang sedang di mabuk asmara."
Semua yang ada di ruangan itu tertawa saat mendengar penuturan Bu Anara. Namun suasana berubah menegang saat Eva yang yang tiba-tiba jatuh pingsan.
"Sayang, kamu kenapa?"Reno menopang tubuh istrinya. Dia merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Eva sakit apa, Ren? Tidak biasanya dia pingsan seperti ini?" Bu Anara bertanya kepada menantunya.
"Reno juga tidak tahu, Mah."
"Lebih baik kamu bawa istrimu ke kamar, Ren. Biar Papah panggilkan Dokter," sahut Pak Andika, yang merasa khawatir melihat anaknya yang tiba-tiba pingsan.
"Baik, Pah." Reno langsung menggendong istrinya menuju ke kamar.
Pak Andika mencoba menghubungi dokter keluarganya, namun ternyata sedang berada di luar negeri. Jadi tidak bisa datang untuk memeriksa Eva.
"Bagaimana, Pah?" Bu Anara melihat suaminya yang baru selesai menelepon.
"Dokter Ari berada di luar negeri, Mah. Apa kita bawa Eva ke rumah sakit saja ya?"
"Kebetulan penghuni rumah baru yang di depan rumah kita, dia seorang dokter. Mamah tidak tahu sih dokter apa, karena belum sempat tanya-tanya. Tapi mungkin sebelum kita bawa ke rumah sakit, kita panggil dokter Hana dulu, Pah."
"Baiklah, Papah nurut saja sama Mamah."
Setelah berbicara kepada suaminya, kini Bu Anara pergi keluar rumah. Dia akan memanggil Dokter yang tinggal di depan rumahnya.
Hanya beberapa menit saja Bu Anara sudah kembali. Dia mengajak Dokter Hana untuk pergi ke kamar Eva.
"Maaf, Bu. Sebelumnya Nona Eva itu ada gejala apa yang menyebabkannya pingsan?" Dokter Hana bertanya kepada Bu Anara.
"Eva baik-baik saja kok. Tapi anehnya tiba-tiba dia pingsan begitu saja," ucapnya.
__ADS_1
Dokter Hana mulai memeriksa Eva. Namun tidak ada tanda-tanda jika Eva sakit serius.
"Apa Nona Eva sudah menikah?"
"Sudah, saya suaminya," ucap Reno yang sedang berdiri di dekat ranjang, melihat istrinya yang belum sadarkan diri.
"Bolehkah saya bertanya hal pribadi. Apakah belakangan ini Nona Eva haidnya lancar?"
"Sepertinya istri saya sudah lebih dari satu bulan belum haid, Dok."
"Sepertinya istri anda sedang hamil."
"Emm ... siapa yang hamil?" tanya Eva yang kini sudah sadar dari pingsannya.
"Nona Eva sepertinya hamil. Lebih baik di cek dulu bagaimana hasilnya," Dokter Hana mengambil test pack di tas kerjanya lalu memberikannya kepada Eva.
"Semoga saja saya benar hamil, dok." ucap Eva penuh harap.
"Nanti kalau hasilnya positif, langsung cek ke rumah sakit atau klinik. Kebetulan alat-alat saya ada di klinik, jadi tidak bisa mengecek untuk memastikan hasil yang akurat."
"Tidak apa-apa, Dok." Eva tersenyum menatap Dokter Hana, lalu dia segera turun dari atas kasur.
Reno mengantar Eva hingga sampai ke kamar mandi. Dia juga ikut masuk ke dalam, karena khawatir takutnya Eva pingsan lagi.
Kini keduanya keluar dari kamar mandi dengan senyum mengembang. Ternyata Eva memang sedang hamil. Akhirnya penantian mereka membuahkan hasil juga.
"Bagaimana hasilnya, Va?" tanya Bu Anara yang sudah sangat penasaran.
"Aku hamil, Mah." wajah Eva terlihat berseri-seri.
Semua yang mendengar penuturan Eva, mereka terlihat bahagia. Apalagi Bu Anara yang tak henti-hentinya berucap syukur.
Kini mereka sudah keluar dari kamar Eva. Mereka kembali mengobrol di ruang keluarga. Eva juga kembali bergabung bersama mereka. Niatnya Reno akan mengajak Eva untuk periksa nanti sore. Karena sekarang mereka baru juga pulang dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu, jadi tidak mungkin jika kembali pergi. Takutnya jika Eva kelelahan.
Alan dan Kiara yang baru datang, mereka mendengar gelak tawa dari ruang keluarga. Sepertinya keluarganya sedang berbahagia.
"Wah ada apa nih rame sekali?" tanya Alan yang baru datang.
"Sini, Nak. Kita ada kabar baik loh," ucap Bu Anara.
Alan menggandeng tangan Kiara, sehingga kini sudah berada di dekat keluarganya. Mereka segera duduk di sofa yang kosong.
"Apa sih, Mah? Bikin orang penasaran saja," Alan sudah tidak sabar untuk mendengar kabar baik yang akan di katakan oleh ibunya.
"Saat ini Eva sedang hamil, jadi kita semua merasa bahagia. Akhirnya Mamah menambah cucu lagi. Sekarang lengkap sudah keluarga besar kita," Bu Anara terlihat sangat senang.
"Selamat, Kak Eva. Akhirnya Kak Eva hamil juga. Semoga kandungannya selalu sehat, serta lancar hingga sampai persalinan nanti," ucap Kiara yang ikut berbahagia.
"Terima kasih, Kia. Kakak juga mengucapkan selamat untuk kamu. Karena kamu dan Alan akhirnya bersatu."
Kiara mendekati Eva, lalu memeluknya.
Lengkap sudah kebahagiaan keluarga Bu Anara. Tentunya semua itu berkat dari kesabaran mereka. Terutama para wanita, yang di uji dengan cobaan hidup yang begitu berat. Seperti Bu Anara sendiri yang dihamili oleh kakak iparnya. Begitu juga dengan Adelia yang di hamili oleh suami adiknya. Eva yang merasa di khianati oleh suaminya, akhirnya kini telah menemukan lelaki yang benar-benar tulus mencintainya. Lalu Kiara yang hamil karena ketidak sengajaan, dan keberadaannya tidak di inginkan oleh ayah dari anak yang dia kandung, kini akhirnya sudah bersatu juga. Tinggal menunggu beberapa hari lagi, Kiara dan Alan akan sah menjadi suami istri.
Sungguh beruntung mereka para lelaki, karena mempunyai istri yang berhati sabar. Walaupun pernah merasa tersakiti, namun kini mampu melupakan masalalunya, dan sudah hidup berbahagia dengan pasangan masing-masing.
°
°
°
TAMAT
__ADS_1