
Rian sudah pergi dari kediaman Pak Andika. Kebetulan tadi Pak Andika menyuruhnya untuk pulang. Karena Pak Andika sedikit malas melihat Rian yang masih berada di rumahnya. Dan juga, Eva tidak mungkin mau untuk menemuinya karena sudah terlanjur kecewa.
Bu Anara melihat Eva keluar dari kamarnya. Eva sudah terlihat rapih seperti akan pergi. Namun wajahnya masih terlihat sembab.
“Eva, kamu mau kemana?” tanya Bu Anara.
“Eva mau menginap di rumah Tante Vanesa,” ucap Eva.
“Kenapa tidak disini saja, Nak?”
“Lagi pengen tinggal disana.”
“Baiklah, hati-hati, Nak.” Bu Anara mengantar Eva hingga ke depan rumah. Kebetulan Eva akan pergi di antar oleh supir.
Pak Andika melihat istrinya yang sedang menutup pintu rumah.
“Mah, habis ngapain?” Pak Andika melangkah mendekati istrinya.
“Habis mengantar Eva ke depan. Dia pergi, Pah. Katanya mau menginap di rumah Kak Nesa,” ucapnya.
“Papah kok takut yah kalau Eva terpengaruh yang tidak baik, karena bergaul dengan Vanesa,” ujar pak Andika.
“Hus jangan bicara seperti itu, lagian sekarang Kak Nesa sudah berubah.”
“Ya semoga saja memang berubah beneran.”
Pak Andika mengajak istrinya untuk bersantai sambil bercerita.
°°°°°°°°°
Saat ini Rian sudah sampai di rumah Eva. Dia mengemasi semua pakaiannya, lalu segera pergi dari sana. Tujuannya sekarang, pulang ke rumah orang tuanya.
Sepanjang perjalanan, pikiran Rian tak menentu. Dia terus kepikiran Adelia yang saat ini tinggal di negara orang. Namun yang membuatnya bingung, jika Adelia pergi ke london, kenapa tidak ada jejaknya sama sekali?
__ADS_1
Setelah cukup lama mengemudi, kini Rian sudah sampai di depan rumah orang tuanya. Dia keluar dari mobilnya. Tak lupa, dia bawa koper besar miliknya yang di taruh di bagasi.
Tok tok
Rian mengetuk pintu rumah. Tak lama, Pak Dirga membukakan pintu itu. Kebetulan Pak Dirga sedang menunggu kedatangan Rian.
Pak Dirga sudah mengetahui permasalahan Rian. Karena tadi Pak Andika baru saja menelfonnya, dan terlihat sangat marah.
“Pah, aku pulang,” ucap Rian sambil menatap ayahnya.
Dia melihat tatapan mata ayahnya terlihat serius.
“Rian, Papah mau bicara,” ucap Pak Dirga, lalu melangkah pergi menuju ke ruang keluarga.
Rian menaruh koper yang dia bawa di dekat pintu. Lalu dia menghampiri ayahnya yang sudah pergi lebih dulu.
Rian duduk di depan ayahnya.
“Pah, sebenarnya---“ Rian hendak berkata, namun Pak Dirga memotong pembicaraannya.
“Semua ini kecelakaan, Pah. Aku di jebak sehingga melakukan itu kepada Adel.”
“Papah kecewa sama kamu, tapi percuma, mau Papah marahin kamu sepuas apa pun, itu tidak akan membuat semuanya kembali seperti semula. Papah hanya ingin kamu selesaikan permasalahan yang kamu perbuat,” ucap Pak Dirga.
“Iya, Pah. Rian pasti akan menyelesaikan apa yang telah Rian perbuat.”
“Secepatnya harus kamu selesaikan, jangan mengulur waktu.”
“Baik, Pah.” Jawab Rian.
Terlihat Reno yang masuk ke rumah tanpa permisi. Dia berteriak memanggil Rian.
“Kak Rian ... Kak Rian ... “ teriak Reno dengan sedikit keras.
__ADS_1
“Ada apa sih teriak-teriak, Ren?” tanya Pak Dirga yang merasa terganggu. Karena suara Reno terdengar keras.
Reno menatap tajam ke arah Rian.
Saat sudah berada di dekat Rian, dia melayangkan pukulan di perutnya.
Bugh
“Dasar bren*gsek.”
Bugh bugh bugh
Bukan hanya perut saja yang di pukul, namun pipinya juga terlihat memar. Reno memukulnya sangat keras.
“Reno, cukup! Beraninya kamu memukuli Kakakmu. Papah yang orang tuanya juga tidak pernah memukuli Rian,” ucap Pak Dirga menasehati anaknya.
“Dia keterlaluan, Pah. Dia sudah merampas masa depanku. Kenapa, Pah? Kenapa? Aku juga ingin berbahagia bersama wanita yang aku cintai. Tapi sekarang, aku harus mengalah lagi. Kenapa aku yang selalu mengalah, Pah? Apa karena aku hanya anak pungut?” Reno meluapkan rasa emosinya.
Reno juga menjadi salah satu pihak yang tersakiti. Apalagi dia selalu mengalah dengan Rian. Dia juga tahu diri karena memang dia hanya anak angkat. Namun kali ini, dia tidak bisa menerima begitu saja, saat orang yang dia cintai telah di nodai oleh Rian.
Plak
Pak Dirga menampar pipi Reno.
Reno memegangi pipinya yang sakit.
“Maaf, Pah. Aku hanya sedang emosi,” ucap Reno.
Lagi-lagi Reno harus mengalah, dia harus menahan rasa kekecewaannya. Mau dia semarah apa pun, Pak Dirga tidak mungkin membelanya. Karena dia selalu di nomor duakan dalam hal apa pun.
“Lain kali jaga sikap sama yang lebih tua,” ucap Pak Dirga menasehati anaknya.
“Iya, Pah. Aku minta maaf,” ucap Reno.
__ADS_1
Reno memilih pergi dari sana. Dia masih mengepalkan tangannya menahan amarah.